BMKG Sebut Asap Karhutla Kalbar Berpotensi Menyeberang ke Malaysia

CNN Indonesia
Rabu, 05 Agu 2026 17:30 WIB
BMKG memperingatkan potensi asap kebakaran hutan Kalimantan Barat menyeberang ke Malaysia.
BMKG memperingatkan potensi asap kebakaran hutan Kalimantan Barat menyeberang ke Malaysia. (Foto: ANTARA FOTO/Jessica Wuysang)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat berpotensi menyeberang ke negara tetangga, Malaysia.

"Berdasarkan arah pergerakannya, asap dari Kalimantan Barat berpotensi melintasi batas negara menuju Sarawak dengan pergerakan dominan ke arah barat laut," tulis BMKG dalam Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 4-10 Agustus 2026.

"Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kering tidak hanya meningkatkan risiko karhutla, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lintas wilayah," tambahnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BMKG menyebut kondisi kering di Tanah Air diperkirakan masih berlanjut di awal agustus dan semakin meluas.

Hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Dasarian III Juli 2026 menunjukkan sebanyak 1.657 titik pengamatan mengalami HTH Sangat Panjang selama 31-60 hari, sedangkan 306 titik pengamatan lainnya mengalami HTH Ekstrem Panjang lebih dari 60 hari.

Wilayah dengan HTH sangat panjang hingga ekstrem tersebut terutama tersebar di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Maluku Utara, dan sebagian Sulawesi.

Sementara itu, HTH terpanjang tercatat selama 90 hari di Pos Hujan BPP Pajangan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta.

"Berlanjutnya kondisi tanpa hujan dalam durasi panjang perlu diwaspadai karena dapat mengurangi ketersediaan air serta meningkatkan kerentanan lahan dan vegetasi terhadap kebakaran," terang BMKG.

Menurut BMKG, indikasi meningkatnya dampak musim kemarau juga terlihat dari sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat, Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Kondisi tersebut diperkuat oleh hasil pemantauan citra satelit yang mendeteksi sebaran asap di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Meski kondisi kering mendominasi, potensi hujan lebat secara lokal masih dapat terjadi.

Pada periode 30 Juli-2 Agustus 2026, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat di Aceh sebesar 164,3 mm/hari, Sumatera Utara 144 mm/hari, Sumatera Barat 102,5 mm/hari, Kepulauan Riau 97 mm/hari, dan Kalimantan Utara 59 mm/hari.

Kondisi ini didukung oleh aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial serta anomali OLR negatif yang mengindikasikan peningkatan tutupan awan di sebagian wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah.

"Meskipun kondisi musim kemarau semakin menguat di banyak wilayah, peluang hujan lebat secara lokal masih tetap ada," kata BMKG.

(lom)


[Gambas:Video CNN]