Sesar Flores Pernah Picu 5 Gempa Besar, Makan Korban Hingga Ribuan

CNN Indonesia
Sabtu, 15 Agu 2026 17:30 WIB
Gempa berkekuatan M7,7 mengguncang NTT dipicu aktivitas Sesar Naik Flores. Foto: Dok. Istimewa
Jakarta, CNN Indonesia --

Sesar Naik Flores atau Flores Back-Arc Thrust tercatat pernah memicu sedikitnya lima gempa kuat di kawasan Bali dan Nusa Tenggara. Sebagian di antaranya bahkan memicu tsunami dan menelan korban hingga ribuan orang.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan catatan gempa kuat dan tsunami masa lalu menjadi bukti bahwa Sesar Naik Flores merupakan sumber gempa aktif yang perlu terus diwaspadai.

"Ke depan, potensi gempa di kawasan utara Bali hingga Nusa Tenggara yang bersumber dari Sesar Naik Flores tetap ada dan patut diwaspadai karena ini adalah ancaman gempa dan tsunami yang permanen," kata Daryono dalam keterangannya, Sabtu (15/8).

Gempa berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) pagi. Aktivitas Sesar Naik Flores diketahui menjadi pemicu gempa tersebut.

Sesar Naik Flores merupakan patahan aktif di dasar laut yang membentang di perairan utara Bali, Nusa Tenggara, hingga Wetar.

Sesar tersebut terbentuk akibat tekanan tektonik dari tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.

Menurut Daryono, sesar naik busur belakang merupakan fenomena yang kerap ditemukan di belakang zona subduksi lempeng.

Berikut lima gempa kuat yang disebut pernah berkaitan dengan aktivitas Sesar Naik Flores:

1. Gempa Bali-Lombok 22 November 1815, M7,0
Gempa berkekuatan magnitudo 7,0 ini memicu tsunami di Bali utara dan Lombok.

2. Gempa Bima 28 November 1836, M7,5
Gempa kuat magnitudo 7,5 mengguncang wilayah Bima.

3. Gempa Bali-Lombok 13 Mei 1857, M7,0
Gempa magnitudo 7,0 ini juga dilaporkan memicu tsunami di Bali dan Lombok.

4. Gempa Seririt 14 Juli 1976, M6,6
Gempa mengguncang Seririt, Bali, dan merusak 67.419 rumah. Peristiwa tersebut menewaskan 559 orang di Bali.

5. Gempa Flores 12 Desember 1992, M7,8
Gempa besar ini memicu tsunami dan menewaskan lebih dari 2.500 orang.

Keberadaan Sesar Naik Flores telah lama menjadi perhatian para ahli kebumian.

Daryono mengatakan pakar geologi dan tektonik Amerika Serikat Warren B Hamilton menjadi salah satu peneliti awal yang mengkaji kondisi tektonik Laut Flores menggunakan data profil refleksi.

Dalam buku Tectonics of the Indonesian Region yang terbit pada 1979, Hamilton mengungkap keberadaan sesar di utara Sumbawa hingga Flores yang dikenal sebagai sesar busur belakang.

Penelitian kemudian dilanjutkan Eli A Silver dari University of California Santa Cruz melalui ekspedisi bahari untuk mendapatkan profil refleksi kawasan busur belakang Flores.

Silver memperkirakan sistem sesar tersebut berlanjut hingga Cekungan Bali di Laut Bali.

Riset yang dipublikasikan pada 1986 dengan judul Multibeam Study of the Flores Back Arc Thrust Belt kemudian menggambarkan struktur kerak Bumi dan jalur Sesar Naik Flores di dasar laut.

Penelitian Robert McCaffrey dan John L Nabelek pada 1987 terhadap sejumlah gempa signifikan di utara Bali juga menunjukkan keberadaan patahan naik dengan deformasi berarah utara-selatan.

Studi gempa lokal dan mekanisme sumber yang dilakukan Masturyono pada 1994 dan Daryono pada 2000 kembali menunjukkan aktivitas gempa serta bidang sesar yang memiliki kemiripan dengan Sesar Naik Flores.

Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 yang diterbitkan Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN), sejumlah segmen Sesar Naik Flores memiliki laju pergeseran yang relatif aktif.

Segmen Bali memiliki laju pergeseran 6,9 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum 7,4.

Segmen Lombok-Sumbawa memiliki laju pergeseran 9,9 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum 8,0.

Sementara Segmen Flores Barat dan Flores Tengah masing-masing memiliki laju pergeseran 11,6 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum 7,5.

Segmen Flores Timur memiliki laju pergeseran 5,6 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum 7,5.

Daryono menegaskan gempa tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi. Karena itu, mitigasi harus dilakukan secara berkelanjutan.

"Kapan akan terjadi gempa, kita belum mampu memprediksi, tetapi kita harus siap menghadapinya," ujarnya.

(lom)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK