Dukung PLTS 100 GW, BRIN Perkuat Ekosistem Riset Sel Surya
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah memperkuat ekosistem riset yang berkaitan dengan listrik bertenaga surya. Salah satu teknologi yang sedang dikembangkan adalah Dye-Sanitized Solar Cells (DSSC).
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, langkah ini diambil untuk mendukung proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang digagas oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
"BRIN terus mendorong terobosan yang melampaui pemanfaatan teknologi panel surya silikon konvensional. Salah satu lompatan teknologi hulu yang kami kembangkan sebagai bagian dari infrastruktur energi masa depan adalah Dye-Sensitized Solar Cells (DSSC)," kata Arif, melansir Antara, Minggu (16/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan keunggulan utama dari teknologi DSSC yang tengah dikembangkan adalah sensitivitasnya yang tinggi, sehingga memungkinkannya untuk dapat dioperasikan dan menghasilkan listrik meskipun berada di dalam ruangan.
Lihat Juga :![]() NOTA KEUANGAN RAPBN 2027 Prabowo Sebut Negara Hemat Rp73 T Jika Bangun PLTS 100 GW |
Ia mengeklaim inovasi ini membuka terobosan baru dalam efisiensi energi bangunan masa depan, di mana cahaya lampu atau pancaran sinar Matahari tidak langsung dari jendela sudah cukup untuk memanen energi bersih secara mandiri.
Untuk mendukung riset tersebut, BRIN sudah memfungsikan fasilitas berskala internasional di Serpong, Tangerang Selatan. Fasilitas ini secara khusus dilengkapi dengan laboratorium pengujian fotovoltaik.
Arif menyatakan fasilitas ini menjadi tulang punggung bagi para periset BRIN dalam mengembangkan, menguji struktur, dan memastikan keandalan panel surya agar sesuai dan optimal saat diimplementasikan dalam kondisi iklim tropis Indonesia.
Selain itu, Arif mengungkapkan BRIN bersama PLN mengembangkan teknologi Microgrid PLTS terintegrasi Energy Storage yang sesuai kondisi lokal untuk menggantikan PLT Diesel (Program Dedieselisasi), serta PLTS untuk irigasi dan pertanian.
BRIN juga melakukan riset Teknologi Virtual Power Plant (VPP) atau Pembangkit Listrik Virtual sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbasis fosil di sisi hulu secara signifikan.
"Inovasi ini melahirkan model bisnis kelistrikan baru di mana pelanggan atau pengguna akhir (end-user) energi listrik tidak lagi hanya sekadar menerima pasokan dari hulu, tetapi operator akan berubah fungsi menjadi fasilitator terjadinya jual-beli listrik antarkomunitas," ucap Arif.
Prabowo sebelumnya mengatakan pemerintah akan membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 30 gigawatt (GW) dan menghentikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sebesar 13 GW pada tahun 2026.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi energi surya yang besar karena mendapatkan sinar matahari hampir sepanjang tahun. Kondisi tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk menyediakan listrik, terutama di wilayah terpencil.
Prabowo mengatakan pemanfaatan PLTS juga dapat memperkuat kemandirian energi nasional karena mengurangi kebutuhan terhadap BBM untuk pembangkit listrik.
Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS secara bertahap hingga mencapai kapasitas 100 GW.
"Idealnya, setiap desa bisa memiliki PLTS 1 Megawatt. Kalau desa itu mau siapkan lahan, kita bisa. yakinkan bahwa mereka bisa dapat PLTS 1 MW 1 desa," ucap Presiden Prabowo dalam Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya (14/8).
(dmi)

