BMKG Ungkap Sampai Kapan Gempa Susulan Guncang NTT

CNN Indonesia
Selasa, 18 Agu 2026 10:18 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 2.119 gempa susulan terjadi di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Selasa pagi (18/8) sekitar pukul 05.00 WIB. Sampai kapan gempa susulan ini terasa?

Ribuan gempa susulan itu terjadi dengan kekuatan magnitudo 1,3 hingga 6,2. Di antara ribuan gempa susulan itu, gempa dengan magnitudo lebih dari 5 sebanyak 24 kejadian dan gempa bumi susulan yang dirasakan berjumlah 70.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto mengungkap rentetan gempa susulan ini bakal terjadi hingga beberapa waktu ke depan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berdasarakan data sementara gempa susulan ini akan berakhir 3 - 4 minggu ke depan," kata Wijayanto dalam keterangan tertulisnya, Selasa (18/8).

Gempa ini pertama kali terjadi di wilayah Flores pada Sabtu (15/8) pada pukul 04.58 WIB dengan parameter update M7,7 sehingga berdampak tsunami di wilayah sekitarnya. Gempa bumi jenis dangkal ini disebabkan oleh aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Saat gempa bumi M7.7 Sabtu lalu, BMKG sudah mengirimkan Peringatan Dini 1 pada 2 menit 16 detik setelah gempa bumi dengan status ancaman Siaga (0.5 - 3 meter) dan Waspada (<0.5 meter).

Beberapa wilayah terdampak di antaranya Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur, Jeneponto dengan status Siaga dan wilayah Flores Timur, Bima, Dompu, Wajo untuk status Waspada. Peringatan Dini Tsunami kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07:30:00 WIB atau 2 jam 31 menit 37 detik setelah gempa bumi.

Hasil observasi stasiun pasang surut menunjukkan gempa memicu terjadinya tsunami di 16 lokasi pada 4 provinsi yaitu NTT, NTB, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, dengan ketinggian tsunami paling tinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT pada pukul 05.03 WIB dengan ketinggian 1.605 meter, dan terendah di Bakalang, Alor, NTT pada pukul 05:41 WIB dengan ketinggian 0.14 meter.



Berdasarkan hasil sementara pemantauan dan informasi lapangan, gempabumi Flores M7,7 menyebabkan korban jiwa sebanyak 53 jiwa meninggal dunia, korban luka-luka 137 jiwa, serta dampak kerusakan di sejumlah wilayah, terutama Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka, Maumere, dengan tingkat kerusakan yang bervariasi dari ringan hingga berat.

"BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempa bumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan," papar Wijayanto.

Survei ini bertujuan mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana sekaligus menjadi dasar pemetaan mikrozonasi pascagempa, evaluasi kondisi wilayah terdampak, serta penyusunan rekomendasi mitigasi dan rekonstruksi yang lebih aman.

Wilayah prioritas berfokus pada daerah dengan kerusakan sedang hingga berat serta dibandingkan dengan lokasi yang relatif tidak mengalami kerusakan.

BMKG juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terdampak untuk memberikan pemahaman yang tepat serta membantu menenangkan masyarakat dalam menghadapi kondisi pascagempa.

Masyarakat diimbau agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi, serta mewaspadai gempa bumi susulan yang masih terjadi. BMKG akan terus memantau aktivitas gempa bumi susulan dan menyampaikan pemutakhiran informasi secara berkala kepada stakeholder dan masyarakat.

(dmi)