Robot China Bisa Kalahkan Usain Bolt, tapi Colok Kabel Masih Sulit
Robot humanoid China mulai menunjukkan kemampuan fisik yang melampaui manusia dalam sejumlah cabang olahraga. Namun, tantangan sesungguhnya muncul saat mereka diminta mengerjakan tugas sederhana yang membutuhkan presisi seperti mencolok kabel.
Dalam World Humanoid Robot Games di Beijing, China, pada Sabtu (22/8), dua robot mencatatkan waktu lebih cepat dari rekor dunia lari 100 meter Usain Bolt, yakni 9,58 detik.
Pencapaian tersebut jauh meningkat dibandingkan ajang pada 2025, ketika robot tercepat masih membutuhkan waktu lebih dari 20 detik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, proses pengereman masih menjadi masalah. Robot-robot tersebut menabrak matras tebal yang ditempatkan beberapa meter setelah garis finish.
Robot humanoid lain, yang merupakan model sama dengan juara 100 meter, juga mencatat waktu 39,7 detik untuk lari 400 meter.
Catatan itu lebih cepat dibandingkan rekor dunia manusia milik Wayde van Niekerk asal Afrika Selatan, yakni 43,03 detik.
"Intensitasnya lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, yang memberikan tuntutan besar terhadap manajemen baterai dan kemampuan pembuangan panas robot," kata investor robotika Xu Qiaosheng, dikutip dari Reuters.
Menurutnya, perkembangan tersebut memiliki arti besar bagi industri China.
World Humanoid Robot Games berlangsung selama lima hari dan mempertandingkan 51 nomor.
Sebanyak 30 di antaranya merupakan kompetisi olahraga, sementara 21 lainnya berbasis skenario yang mensimulasikan pekerjaan di pabrik, restoran, kantor, hingga situasi darurat.
Menurut Huawei yang menjadi mitra teknologi ajang tersebut, lebih dari 40 persen kompetisi mengharuskan robot bekerja sepenuhnya secara otonom.
Tantangan besar para robot justru datang dari ketidaksempurnaan kecil di dunia nyata.
Sebagai contoh, kabel yang berada pada sudut tidak tepat, benda yang sedikit di luar jangkauan, paket yang bergeser, atau langkah yang meleset.
Situasi seperti itu menguji apakah robot mampu mengenali objek, memosisikan tangan dan tubuh secara akurat, menggunakan tenaga dengan terkontrol, serta memperbaiki kesalahan tanpa campur tangan manusia.
CEO Lumos Robotics Yu Chao mengatakan kompetisi tersebut dapat membantu meningkatkan perangkat keras sekaligus menjadi ajang pamer kemampuan industri.
Namun, kata Yu, nilai jangka panjang robot baru terlihat ketika mereka benar-benar mampu menyelesaikan persoalan di dunia nyata.
"Baru ketika robot bisa bekerja dalam skenario akhir tersebut, dia memiliki nilai yang nyata," ujar Yu.
"Sekadar berlari dan melompat tidak meningkatkan efisiensi," imbuhnya.
Selain pertandingan olahraga, robot juga akan diuji dalam pengisian daya kendaraan listrik, pekerjaan restoran, penanganan insiden darurat, perakitan industri, dan pemindahan material.
Salah satu tantangannya adalah menghubungkan kabel. Tugas yang terlihat sederhana tersebut menjadi ujian bagi kemampuan penglihatan robot, penyelarasan mekanis, dan pengaturan tenaga.
Robot juga akan mengikuti tarik tambang, angkat beban, Tai Chi, hingga permainan tradisional China pitch-pot.
Startup robotika asal Beijing, Galbot, bahkan berencana menggelar pertandingan tenis humanoid otonom.
Robot akan mencoba bermain tunggal maupun ganda, termasuk melacak bola, melakukan servis, dan mengembalikan pukulan.
Lebih lanjut, Chief Marketing Officer perusahaan robotika Zeroth Hua Rong mengatakan tantangan terbesar baru benar-benar dimulai setelah demonstrasi berakhir.
"Kompetisinya nanti adalah apakah setelah produk dijual, robot benar-benar bisa menyelesaikan masalah pengguna," ujarnya.
(lom)

