El Nino 2026 Berpotensi Jadi Terkuat, 2027 Bisa Pecah Rekor Panas

CNN Indonesia
Rabu, 26 Agu 2026 12:00 WIB
Petani menunjukkan kondisi sawah yang mengalami kekeringan di Desa Pematang Bangsal, Kecamatan Pemulutan Selatan, Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Kamis (6/8/2026). Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel  UPT Badan Meteorologi, Klimatologi, da
El Nino 2026 diprediksi jadi yang terkuat, berpotensi memecahkan rekor suhu pada 2027. (Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah pengamat cuaca dunia mengonfirmasi El Nino tahun ini berpotensi akan terus berkembang dan menjadi yang terkuat dalam sejarah dunia. Hal ini membuat tahun 2027 berpotensi memecahkan rekor tahun terpanas.

El Nino atau peningkatan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik telah menyebabkan peningkatan curah hujan di beberapa daerah dan kekeringan ekstrem di daerah lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir Reuters, Badan Prakiraan Nasional Inggris Met Office memperkirakan kenaikan suhu permukaan air laut akan mencapai lebih dari 3 derajat Celcius pada akhir tahun ini.

Sebagai perbandingan, El Nino biasanya meningkatkan suhu 1 hingga 2 derajat Celcius. Kenaikan 2 derajat Celcius saja dapat dianggap peristiwa besar yang disebut Super El Nino.

Met Office memperkirakan tahun 2027 bisa saja menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat umat manusia, memecahkan rekor sebelumnya pada 2024.

Analisis oleh para ilmuwan di kelompok World Weather Attribution (WWA) menunjukkan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia turut mengakibatkan peningkatan suhu sekitar 2 derajat Celcius di Mediterania dan sekitar 1,4 derajat Celcius di laut-laut Eropa Barat.

Bulan lalu, suhu rata-rata di Mediterania tercatat sekitar 21 derajat Celcius. Awal agustus, sebuah pelampung di perairan Mallorca menunjukkan suhu sudah mencapai 33 derajat Celcius.

Dampak di Indonesia

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyebut El Nino tahun ini lebih kuat dari fenomena serupa pada 2015. Fenomena ini memberikan dampak cukup signifikan ke sejumlah wilayah Indonesia.

Selain itu, ancaman ini juga diperkirakan akan semakin meningkat karena kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) pada September-November 2026. Artinya, curah hujan semakin berkurang di sejumlah wilayah Indonesia.

Antoni menyebut fenomena El Nino membuat kondisi cuaca menjadi lebih panas dan kering, serta berlangsung lebih lama. Situasi ini meningkatkan potensi terjadinya karhutla dan memperbesar risiko munculnya asap.

Lebih lanjut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan kondisi karhutla saat ini salah satunya didukung oleh berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Tanah Air.

"Berkurangnya curah hujan tersebut berimplikasi pada sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di sebagian wilayah Indonesia," kata BMKG Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 21-27 Agustus 2026.

(fta/lom)
placeholder