Banjir Bandang Mematikan di Nepal, Apakah Krisis Iklim Berperan?
Banjir bandang dan tanah longsor menyapu wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, Rabu (26/8). Hingga Sabtu (29/8) siang, 633 orang dinyatakan meninggal dan hampir 3.000 lainnya belum ditemukan.
Dugaan sementara para pakar, banjir bandang ini disebabkan oleh bongkahan besar gletser yang terlepas dan menyumbat aliran sungai untuk sementara waktu. Kondisi ini diduga menyebabkan penumpukan air yang kemudian menerjang ke arah hilir dengan tekanan sangat besar beberapa jam setelahnya.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan runtuhan gletser itu setara gempa bermagnitudo 5,2 yang mengirimkan aliran puing-puing ke arah hilir dan membawa dampak destruktif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagian bawah gletser benar-benar terlepas," kata Jakob Steiner, ilmuwan kebumian dari Universitas Graz di Austria, melansir CBS, Kamis (27/8).
Ia menjelaskan bahwa jatuhnya bongkahan es gletser dalam jumlah besar dari ketinggi dapat memicu tekanan dahsyat seperti ledakan bom, yang kemudian berujung pada kekacauan setelahnya.
Runtuhnya gletser dan tanah longsor memang dipengaruhi oleh banyak faktor, tapi ilmuwan mengungkap bahwa krisis iklim memegang peranan penting. Nepal, yang berada di kawasan Himalaya yang mengalami pemanasan sangat cepat, memiliki ribuan gletser yang terus menyusut dan kehilangan kestabilannya seiring meningkatnya suhu Bumi.
Tingkat laju penyusutan es di kawasan Hindu Kush Himalaya, termasuk Nepal, telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 2000. Hal ini membawa risiko luar biasa bagi hampir 2 juta penduduk yang tinggal di area hilir.
Wouter Buytaert, profesor hidrologi di Imperial College London, menyampaikan bahwa meski para ilmuwan masih meneliti penyebab pastinya, peristiwa ini adalah tipe bencana yang dipicu oleh krisis iklim.
"Pemanasan global membuat gletser menyusut, sehingga potensinya untuk pecah dan runtuh menjadi lebih besar," kata Buytaert, melansir CNN.
Wilayah Nepal juga sangat rentan terhadap Glacial Lake Outburst Floods (GLOF) atau banjir bandang akibat jebolnya danau gletser secara mendadak yang melepas volume air dalam jumlah sangat besar.
Bencana serupa pernah terjadi pada Juli 2025 yang bermula dari Gyring County di Chna, lalu menerjang Distrik Rasuwa di Nepal. Walaupun demikian, otoritas setempat belum mengonfirmasi apakah kejadian terbaru ini dipicu oleh fenomena GLOF.
Dalam beberapa pekan ke depan, para ilmuwan dari sejumlah negara akan melakukan studi lebih lanjut untuk meneliti sejauh mana keterlibatan faktor iklim, yaitu mengukur tingkat probabilitas terjadinya peristiwa ini di tengah krisis pemanasan global saat ini dibandingkan dengan era pra-industri.
Dorothy Heinrich, peneliti dari Universitas Reading di Inggris, menjelaskan bahwa para peneliti menyadari tren krisis iklim di Himalaya.
"Ada keyakinan yang tinggi bahwa akan terjadi lebih banyak gelombang panas, pencairan gletser, penyusutan lapisan tanah beku, dan hal-hal semacam itu yang dapat memicu kejadian seperti tanah longsor dan banjir akibat meluapnya gletser," kata Heinrich, melansir France 24.
Namun, ia menekankan bahwa hubungan yang pasti hanya dapat dibuktikan melalui studi atribusi peristiwa.
(dmi/dmi)
