Produsen Chip CXMT Gugat Pentagon Soal Daftar Militer China
ChangXin Memory Technologies (CXMT), produsen chip memori terbesar China, menggugat Pentagon pada Jumat (28/8) karena dimasukkan ke daftar perusahaan yang menurut Amerika Serikat (AS) membantu militer Beijing.
"CXMT tidak berafiliasi dengan militer China," kata perusahaan itu dalam gugatan federalnya, dikutip Reuters.
"CXMT merancang, memproduksi, dan menjual chip DRAM-nya untuk penggunaan sipil dan komersial, bukan untuk keperluan militer," kata mereka lagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Pertahanan AS menanggapi lewat pernyataan ke Reuters, "Sebagai kebijakan, Kementerian tidak berkomentar soal litigasi yang tertunda atau sedang berjalan."
Pentagon menetapkan CXMT sebagai perusahaan militer China di bawah pemerintahan Biden, dan pemerintahan Trump mempertahankan status itu dalam pembaruan pada Juni. Gugatan CXMT bertujuan membatalkan penetapan tersebut dan mengeluarkan namanya dari daftar Pentagon yang dapat memicu pembatasan kontrak pemerintah dan kerugian reputasi.
"Sejak penetapan awalnya pada Januari 2025, CXMT terus mengalami kerugian reputasi dan komersial," kata perusahaan itu dalam pernyataan terpisah ke Reuters, menambahkan bahwa pihaknya mengajukan langkah hukum ini untuk melindungi kepentingan bisnisnya.
CXMT adalah produsen chip dynamic random-access memory (DRAM) terbesar China, yang banyak dipakai di ponsel pintar, komputer pribadi, server, sistem kecerdasan buatan, dan elektronik lain. Perusahaan yang pendapatannya melonjak 874 persen pada paruh pertama tahun ini berharap bisa masuk pasar AS dalam jangka panjang, menurut laporan Reuters sebelumnya.
Dasar gugatan
Gugatan yang diajukan ke Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Columbia itu menyebut Kementerian Pertahanan, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg, dan Asisten Menteri Pertahanan untuk Kebijakan Basis Industri Michael Cadenazzi sebagai tergugat.
CXMT berargumen keputusan Pentagon "sewenang-wenang," tidak didukung bukti, dan melanggar hak proses hukumnya. Menurut gugatan itu, perusahaan menghabiskan waktu lebih dari setahun memberikan informasi kepada Pentagon untuk membantah penetapan tersebut, seraya meminta dikeluarkan dari daftar.
CXMT menyebut Pentagon sempat mempublikasikan notifikasi pada Februari yang menyatakan perusahaan akan dikeluarkan dari daftar, tetapi menarik notifikasi itu pada hari yang sama. Perusahaan menuding Kementerian Pertahanan kemudian tidak menjelaskan secara memadai perubahan itu saat kembali memasukkannya ke daftar.
Gugatan CXMT mengikuti pola serupa dari perusahaan China lain. Pada Juni, raksasa teknologi dan e-commerce China, Alibaba, menggugat pemerintah AS karena dimasukkan ke daftar yang sama. Produsen ponsel pintar dan kendaraan listrik, Xiaomi, berhasil keluar dari daftar pada 2021 dengan mengajukan gugatan serupa di pengadilan AS.
"Tidak satu pun dari keputusan-keputusan ini didukung oleh catatan faktual, hukum yang berlaku, atau pengambilan keputusan yang beralasan," kata CXMT.
(fea)
