OpenAI, Google, Microsoft Wanti-wanti Gelombang Serangan Siber AI

CNN Indonesia
Senin, 31 Agu 2026 16:00 WIB
Ilustrasi. Raksasa teknologi peringatkan serangan siber berbasis AI akan meningkat. (Foto: iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah raksasa teknologi, termasuk OpenAI, Anthropic, Microsoft, Alphabet, dan Amazon memperingatkan gelombang serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) bakal semakin meluas dalam beberapa bulan ke depan.

Peringatan itu disampaikan dalam surat bersama yang juga ditandatangani lebih dari 100 perusahaan lain, termasuk Broadcom, Capital One, Cloudflare, CrowdStrike, General Motors, IBM, Mastercard, Oracle, Robinhood, Shopify, dan Visa.

Dalam surat tersebut, perusahaan-perusahaan itu menyebut dunia memiliki waktu yang terbatas untuk memperkuat pertahanan siber sebelum kemampuan AI semakin maju.

"Dalam beberapa bulan ke depan, serangan siber berbasis AI akan menjadi jauh lebih meluas dan canggih seiring model di seluruh dunia menjadi semakin mampu," bunyi surat tersebut, dikutip dari Reuters.

Mereka menyerukan pemerintah dan pemimpin industri untuk mengerahkan teknologi, sumber daya, dan keahlian dalam menghadapi ancaman tersebut.

Surat itu juga memperingatkan ancaman tidak hanya menyasar perusahaan teknologi.

Infrastruktur penting yang digunakan masyarakat, mulai dari rumah sakit, fasilitas pengolahan air, hingga infrastruktur yang menopang internet juga dinilai berisiko.

Para penandatangan surat menilai sistem keamanan yang selama ini digunakan tidak lagi cukup menghadapi ancaman baru.

Masalah lama seperti bug, pemberian akses berlebihan, kesalahan konfigurasi, perangkat lunak yang tidak aman atau belum diperbarui, autentikasi lemah, hingga technical debt pada sistem lama dinilai membuat banyak organisasi rentan.

Tim keamanan, terutama di sektor infrastruktur kritis, juga disebut selama ini kekurangan sumber daya.

Oleh karena itu, mereka menyerukan peningkatan alat, pendanaan, dan dukungan untuk memperkuat pertahanan.

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan tersebut juga menilai perkembangan AI bisa digunakan untuk membantu pihak yang bertahan.

AI disebut dapat memperluas akses terhadap kemampuan keamanan siber, sekaligus membuat sejumlah pekerjaan seperti mencari kelemahan dan memperbaiki sistem menjadi lebih cepat dan murah.

Dalam surat itu, pemerintah diminta mengoordinasikan pertahanan siber di tingkat lokal, nasional, hingga internasional.

Mereka juga didorong memperkuat saluran berbagi informasi ancaman antara pemerintah dan industri, memprioritaskan risiko paling serius, serta mengoordinasikan penanganan dan pemulihan insiden.

Pemerintah juga diminta menyediakan pendanaan, terutama untuk layanan penting yang memiliki keterbatasan tenaga maupun anggaran.

Selain pemerintah, perusahaan AI frontier juga didorong untuk menyediakan akses model secara bertanggung jawab, pendanaan, pelatihan, dan dukungan langsung, terutama bagi operator infrastruktur kritis yang kekurangan sumber daya.

Mereka juga diminta membangun alat observabilitas dan keamanan, serta memastikan identitas agen AI dapat dilacak dan dipertanggungjawabkan.

Selain itu, perusahaan AI didorong berinvestasi pada pengujian resmi, pelaporan kerentanan secara privat, dan verifikasi perbaikan.

Alat, panduan, serta penilaian ancaman juga diminta dibagikan kepada pemerintah, mitra keamanan, dan pengelola proyek open-source.

Menurut para penandatangan, tujuan akhirnya adalah menggunakan kemajuan AI bukan hanya untuk menghadapi serangan, tetapi juga memperkuat infrastruktur digital secara lebih permanen.

Ancaman mulai terlihat

Kekhawatiran terhadap serangan siber berbasis AI bukan lagi sekadar prediksi.

Kelompok berbahaya semakin banyak menggunakan large language model (LLM) untuk membantu membobol organisasi di berbagai negara.

Pada Juni, aliansi intelijen Five Eyes yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru juga mengeluarkan pernyataan bersama yang jarang dilakukan.

Aliansi tersebut memperingatkan revolusi AI berpotensi "mengubah secara fundamental" lanskap keamanan siber.

Sementara itu, CISA selaku badan pertahanan siber AS dan Gedung Putih belum memberikan komentar atas seruan terbaru tersebut.

(lom)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK