Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kerap memantau tiga dari 14 segmen megathrust di Indonesia. Pasalnya, ketiga segmen ini telah lama tidak melepaskan energi besarnya.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyebut bahwa seluruh segmen yang ada di zona megathrust berpotensi gempa besar. Namun, ia mencurigai beberapa segmen seperti Mentawai-Siberut, Selat Sunda dan Sumba.
"Contohnya ini segmen Mentawai-Siberut, itu yang berkali-kali kita sampaikan sudah lama tidak terjadi gempa. Segmen yang di Selat Sunda ini, sebenarnya masuk ke segmen Jawa bagian Barat ya, ini juga sudah lama tidak terjadi gempa-gempa magnitude besar," kata Wijayanto kepada CNNIndonesia, Senin (24/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi, tiga segmen ini, yang kita terus monitor saat ini," tambahnya.
Di sisi lain, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan segmen Mentawai-Siberut dan Selat Sunda kerap menjadi perhatian karena terdapat indikasi seismic gap.
Menurut jurnal Distribusi Frekuensi Gempa dan Dimensi Fraktal pada Seimik Gap di Indonesia yang diterbitkan BMKG tahun 2021, seisimic gap didefinisikan sebagai wilayah potensi gempa tinggi yang seharusnya telah melepaskan energi sebagai gempa besar, namun berdasarkan data katalog pelepasan energi tersebut belum terjadi.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi ini merupakan potensi jangka panjang, bukan prediksi gempa akan segera terjadi.
"Secara ilmiah harus dibedakan antara "memiliki kapasitas menghasilkan gempa besar" dan "akan segera mengalami gempa besar," tegas Daryono.
Menurut Daryono, untuk menilai potensi gempa besar di zona megathrust, para ahli mengombinasikan berbagai parameter secara bersamaan.
Misalnya, dengan memperhatikan geometri dan luas bidang kontak subduksi. Pengukuran ini menunjukkan semakin luas area yang dapat mengalami pergeseran (rupture), semakin besar pula magnitude gempa yang mungkin terjadi.
Selanjutnya, pakar turut melihat laju konvergensi lempeng (convergence), yaitu seberapa cepat dua lempeng bergerak saling mendekat. Hal ini menunjukkan seberapa cepat regangan tektonik yang terhimpun.
Para ahli juga menggunakan metode penguncian (coupling). Metode ini menunjukkan semakin kuat bidang kontak terkunci, semakin besar potensi akumulasi slip deficit.
"Slip deficit, selisih antara gerakan yang seharusnya terjadi akibat konvergensi lempeng dan gerakan yang benar-benar dilepaskan secara aseismik," imbuh Daryono.
Menurut Daryono, sejarah gempa dan paleosismologi juga turut digunakan untuk menilai rupture di masa lalu. Termasuk di antaranya bukti gempa dan tsunami purba.
Lebih lanjut, data GNSS/GPS dan geodesi turut digunakan dalam mengukur deformasi kerak dan akumulasi regangan.
Aktivitas gempa maupun gempa susulan atau aftershock turut dianalisis untuk membantu memahami struktur dan aktivitas di suatu zona subduksi.
"Model skenario rupture dan Mmax digunakan untuk memperkirakan ukuran gempa maksimum yang secara fisik mungkin terjadi," jelasnya.
Sementara itu, Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 juga kerap melakukan pemutakhiran di beberapa aspek. Seperti, geometri sesar, segmentasi, skenario rupture, Mmax, Slip Rate, serta model prediksi gerakan tanah (GMPE).
Daryono menegaskan pemutakhiran peta ini dilakukan karena tersedianya data geologi, seismologi, geodesi/GNN, hasil peneliitan terbaru dan metode pemodelan yang lebih baik.
"Bertambahnya jumlah segmen pada peta bukan berarti bumi tiba-tiba memiliki lebih banyak megathrust, tetapi menunjukkan bahwa pemetaan sumber gempa menjadi lebih detail dan ilmiah," kata Daryono.
(nad/dmi)

