Gara-gara Karhutla, Emisi Karbon Indonesia Naik 429 Persen
Dampak emisi karbon kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia meningkat 429 persen dibanding rata-rata musiman. Indeks El Niño yang luar biasa tinggi disebut membantu meningkatkan suhu panas dan kekeringan yang memungkinkan api menyebar lebih cepat.
Pemerintah hingga saat ini terus berupaya memadamkan titik-titik api. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengerahkan operasi modifikasi cuaca untuk mencegah penyebaran api di beberapa titik panas utama, khususnya di Kalimantan sebagai wilayah gambut yang luas dan rawan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebakaran parah yang telah berlangsung beberapa pekan membuat asap terus mengepul, bahkan hingga bertandang ke negara tetangga, Malaysia.
Pemantauan emisi kebakaran dari layanan pemantauan iklim Uni Eropa Copernicus menyebut dampak emisi karbon dari kebakaran di Indonesia dalam tujuh hari terakhir mencapai 17,1 juta ton, 429 persen lebih tinggi dari rata-rata musiman, tertinggi kedua setelah Rusia.
Data tersebut menunjukkan intensitas emisi kebakaran di Indonesia mencapai 1.302 kg per kilometer persegi, jauh lebih tinggi dibandingkan 185 kg per kilometer persegi di Rusia.
Kekeringan karena kondisi El Nino tak hanya berdampak pada karhutla di Indonesia. Kekeringan juga memicu lonjakan kebakaran hutan di seluruh Belahan Bumi Utara, meningkatkan polusi udara dan emisi gas rumah kaca di seluruh Amerika Utara, Eurasia, dan bahkan Arktik.
Di Amerika, rumah-rumah hancur di Nevada dan Washington. Kanada juga terpaksa mengevakuasi warganya setelah lonjakan kebakaran hutan bulan Juli.
Di Eropa, Belgia dan Spanyol juga mengalami kebakaran terburuknya. Ratusan rumah di Prancis juga hancur akibat kobaran api. Data Uni Eropa mencatat lebih dari 680 ribu hektar lahan terbakar akibat kebakaran di Eropa tahun ini.
Sementara itu, karhutla telah menghancurkan hampir 95 ribu hektar lahan di Indonesia pada bulan Juli, dengan suhu rata-rata yang mencapai titik tertinggi dalam 35 tahun terakhir.
Jumlah titik api bulan Agustus ini mencapai lebih dari 9 ribu, jauh lebih tinggi daripada 5.077 yang tercatat pada Agustus 2015, menurut layanan pemantauan kebakaran Kementerian Kehutanan, Sipongi.
Sejauh ini, kerusakan akibat karhutla belum separah 11 tahun lalu, dengan rekor bulanan tertinggi sepanjang masa yaitu 17.302 titik api pada Oktober 2015.
Pada tahun tersebut, karhutla di Indonesia menghasilkan emisi karbon harian lebih banyak daripada seluruh Uni Eropa. Studi lain memperkirakan polusi akibat kebakaran hutan kala itu menyebabkan lebih dari 100 ribu kematian di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
(fta/lom)

