Apa Itu Peta Mercator yang Sukses 'Digugat' Uni Afrika di PBB

CNN Indonesia
Sabtu, 05 Sep 2026 21:04 WIB
Ilustrasi peta dunia. (Getty Images/PeterHermesFurian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah kejutan besar terjadi di ruang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhir pekan ini.

Dalam pertemuan pada Jumat (4/9), voting di majelis umum PBB itu memenangkan resolusi yang diusulkan negara-negara Afrika yang tergabung dalam Uni Afrika (African Union/AU).

Resolusi 'The Correct Map' itu membongkar kemapanan 'Barat' atas gambar peta dunia yang dipakai selama berabad-abad yakni Peta Mercator.

Lewat resolusi tersebut, dunia akan mengakui secara resmi peta baru bumi di bidang datar setelah pemungutan suara atau voting di sidang umum mengunggulkan opsi agar Afrika digambarkan dengan perbandingan besar yang riil.

Resolusi PBB untuk peta yang sebenarnya atau 'Correct the Map' itu mengevaluasi gambaran dunia tentang ukuran benua Afrika di dalam peta selama lebih dari 450 tahun terakhir lewat Peta Mercator.

Suara mayoritas dalam voting di Majelis Umum PBB itu mendorong pemerintah, sekolah, dan perusahaan teknologi di seluruh dunia untuk berhenti menggunakan peta yang membuat Afrika tampak jauh lebih kecil daripada ukuran sebenarnya.

Peta Mercator dari Abad ke-16

Mengutip dari Aljazeera, peta mercator yang selama berabad-abad dipakai dunia dikembangkan kartografer bernama Gerardus Mercator pada pertengahan abad ke-16.

Mengutip dari laman ilmu pengetahuan alam di situs Universitas Harvard, peta Mercator adalah proyeksi silindris yang diciptakan Gerardus Mercator pada 1569 guna mempermudah navigasi maritim.

Ciri dari peta itu garis haluan atau lintang dan bujur digambarkan sebagai garis lurus, serta saling berpotongan tegak lurus. Kemudian sudut arah kompas di bumi sama persis dengan yang ada di peta.

Namun, proyeksi tersebut mendistorsi ukuran relatif daratan dengan memperbesar daratan yang lebih dekat ke kutub.

Misalnya, proyeksi tersebut membuat Greenland tampak hampir sama ukurannya dengan Afrika. Padahal, sejatinya Afrika berukuran sekitar 14 kali lebih besar dari Greenland.

"Proyeksi Mercator adalah proyeksi peta silindris dari bola dunia. Garis meridian dan paralel lintang pada bola dunia akan tampak sebagai garis yang saling berpotongan tegak lurus dalam proyeksi ini. Area pada bola dunia yang jauh dari khatulistiwa [garis tengah bumi] tampak jauh lebih besar pada proyeksi ini," demikian dikutip dari laman Harvard.

Laman itu menjelaskan alasan proyeksi Mercator membuat Greenland tampak hampir sama ukuran Afrika lewat sebuah contoh.

"Cara kerjanya, benua-benua Bumi digambar pada bola kaca berdiameter 15 inci (penutup lampu langit-langit). Sumber cahaya titik terang ditempatkan di tengah bola dan garis luar benua memproyeksikan bayangan pada layar silinder tembus cahaya yang dililitkan di sekeliling bola," katanya.

Dari praktik tersebut, "Dapat dilihat bahwa daratan di dekat khatulistiwa sesuai skala, sedangkan garis lintang yang lebih tinggi tampak jauh lebih besar. Greenland, misalnya, tampak sebesar Afrika, meskipun luas Afrika 14 kali lebih besar," imbuhnya.

Namun, mengutip dari Aljazeera, beberapa kritikus peta Mercator percaya bahwa peta tersebut tetap banyak digunakan karena secara visual melebih-lebihkan dan memusatkan negara-negara Barat, sehingga dinilai melanggengkan gagasan superioritas Eropa.

"Dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil," kata Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, saat diwawancara Reuters jelang pemungutan suara pada Jumat pekan ini di markas PBB, New York, Amerika Serikat (AS).

Togo--salah satu negara di Afrika--yang memimpin resolusi itu diterima meminta dunia menggunakan peta yang lebih akurat dalam perbandingan ukuran benua. Mereka menolak proyeksi peta Mercator yang digunakan sejak abad ke-16.

Dikutip dari UN News, resolusi tersebut mendorong pemerintahan dunia, sekolah, organisasi internasional, dan perusahaan teknologi untuk menggunakan proyeksi peta yang riil atau Equal Earth.

Walaupun demikian, resolusi itu tidak melarang proyeksi Mercator atau memaksakan penggantinya.

Equal Earth

Mengutip dari AFP, proyeksi peta Equal Earth diluncurkan sekelompok kartografer pada 2018. Proyeksi ini membuat Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, dan Oseania tampak jauh lebih besar dibandingkan proyeksi Mercator.

"Equal Earth mempertahankan luas permukaan relatif benua dan, sebisa mungkin, menunjukkan bentuknya seperti yang terlihat pada bola dunia," kata salah satu kartografer, Bojan Savric, kepada AFP pada 2025 lalu.

Equal Earth dinilai lebih akurat menggambarkan ukuran benua-benua di dunia di dalam peta bidang datar.

"Peta membimbing pendidikan, menumbuhkan imajinasi, dan memengaruhi persepsi kolektif," kata Dussey.

Dussey mengatakan Togo menargetkan mengganti penggunaan peta Mercator di pembelajaran kelas sekolah setidaknya mulai akhir tahun ini.

Selain itu, Dussey bilang, Togo mendorong pemerintah lain, sekolah, organisasi internasional, dan perusahaan teknologi untuk beralih dari peta Mercator ke peta Equal Earth.

Melawan warisan kolonialisme

Dussey mengaitkan kampanye untuk mengganti penggunaan peta Mercator sebagai upaya Afrika untuk menghapus warisan era kolonial yang lebih luas.

Namun, dia memastikan kampanye yang Afrika lakukan itu bukanlah serangan terhadap Eropa atau peradaban lain mana pun.

Tapi, katanya, sejarah mencatat, "Penggunaan peta Mercator yang meluas adalah konsekuensi dari kolonisasi."

"Dunia sedang berubah. Afrika juga sedang berubah," sambungnya.

Mengutip dari situs publikasi resmi PBB, UN News, satu-satunya negara yang memilih tidak atas resolusi itu adalah Amerika Serikat (AS).

"Amerika Serikat memberikan satu-satunya suara menentang, menolak inisiatif tersebut sebagai bagian dari 'proyek ideologis radikal'," demikian dikutip dari situs tersebut, Sabtu (5/9).

Sementara enam negara yang abstain adalah Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, Serbia, dan Ukraina.

AS menyatakan 'tidak' untuk resolusi tersebut, karena melihatnya sebagai hal yang politis. Perwakilan AS, dikutip dari UN News, menyebutnya 'proyek ideologis yang radikal'

Dia menyebut inisiatif seperti itu sebagai "pengganggu pekerjaan kita di sini dan alasan mengapa lembaga ini [PBB] kehilangan kredibilitasnya."

Dukungan dari Prancis

Sementara itu Prancis beberapa jam sebelum pemungutan suara menegaskan mendukung resolusi tersebut. Bahkan, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot mengumumkan bahwa Paris berencana untuk meninggalkan Mercator dan beralih ke Equal Earth.

"Mengubah peta jelas tidak mengubah dunia," katanya dikutip dari AFP. "Tetapi mengoreksi representasi yang terdistorsi sudah merupakan tindakan kebenaran."

Inisiatif ini muncul ketika Prancis berupaya memperbaiki hubungan dengan Afrika, khususnya di bekas koloninya yang memiliki hubungan yang kurang harmonis.

Pergeseran penggunaan peta itu berarti Prancis sendiri--seperti Amerika Serikat dan Rusia--akan tampak lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara khatulistiwa.

(kid)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK