Menelisik Sejarah Erupsi Anak Krakatau, Gunung Unik di Selat Sunda

CNN Indonesia
Senin, 07 Sep 2026 10:18 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Gunung Anak Krakatau erupsi pada Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Sabtu (5/9) dini hari di Selat Sunda. Simak ulasan sejarah erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut berbeda dari gunung api lainnya.

Sejarah terbentuknya Gunung Anak Krakatau berkaitan dengan erupsi terbesar Gunung Krakatau pada 1883. Letusan tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan melahirkan kaldera besar di Selat Sunda.

Pada akhir 1927, erupsi kembali terjadi dari kawasan kaldera ini. Kala itu, aktivitas masih berlangsung di bawah permukaan laut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian, material vulkanik menumpuk hingga sebuah gunung baru muncul ke permukaan pada tahun 1929. Gunung ini disebut sebagai Gunung Anak Krakatau.

Sejak kemunculannya, Gunung Anak Krakatau ini mengalami proses konstruksi yang berlanjut. Lava, abu, dan material vulkanik yang keluar dari kawah perlahan menumpuk dan membentuk tubuh gunung.

Menurut Badan Geologi, Anak Krakatau dikategorikan sebagai gunung aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda. Gunung ini juga terus memperlihatkan aktivitas magmatik meski intensitasnya dapat berubah-ubah.

Pada tahun 2026, aktivitas gunung ini sudah meningkat sejak beberapa bulan sebelum erupsi. Badan Geologi melihat adanya emisi gas SO2 dan anomali panas yang terdeteksi oleh satelit sejak bulan Juni 2026.

Selanjutnya, aktivitas kegempaan dan asap kawah kemudian meningkat, hingga status gunung dinaikkan dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga pada 2 Juli 2026. Sehingga, fenomena ini muncul bukan tanpa tanda.

Melansir Detik, pada dasarnya gunung api merupakan sistem yang terus bergerak. Magma dari dalam Bumi dapat naik melalui rekahan menuju permukaan. Magma akan berubah menjadi lava dan berbagai material vulkanik saat mencapai permukaan. Material vulkanik ini kemudian menumpuk di sekitar kawah.

Jika proses ini berlangsung berulang kali, tubuh gunung dapat bertambah tinggi dan berubah bentuk. Kendati demikian, prosesnya tidak selalu berarti gunung hanya bertambah besar.

Gunung Anak Krakatau menunjukkan proses yang sebaliknya pada tahun 2018. Saat itu, aktivitas vulkanik pada tahun tersebut menyebabkan sebagian tubuh gunung longsor ke laut.

Material yang masuk ke laut dalam jumlah besar kemudian memicu tsunami pada 22 Desember 2018 dan menghantam pesisir Banten serta Lampung. Peristiwa ini penting karena menunjukkan bahwa bahaya Anak Krakatau tidak hanya berasal dari lava, abu atau lontaran batu.

Lebih lanjut, perubahan bentuk gunung juga dapat menjadi sumber bahaya. BMKG menyatakan longsoran material vulkanik ke laut sebagai salah satu bahaya sekunder yang perlu dipantau sebab dapat memicu tsunami non-tektonik.

Meski demikian, erupsi tidak otomatis akan menyebabkan tsunami. BMKG tidak mendeteksi tsunami maupun perubahan muka air laut yang mengindikasikan tsunami.

Potensi tsunami akan menjadi perhatian apabila terjadi mekanisme tertentu, terutama longsoran material gunung api dalam jumlah signifikan ke laut. Oleh karena itu, pemantauan Gunung Anak Krakatau dilakukan tidak hanya berdasarkan tinggi kolom abu atau aktivitas letusan.

Para pakar perlu mengamati perubahan bentuk gunung, pergerakan massa batuan, aktivitas magma serta kondisi laut di sekitarnya. Hal ini semakin penting karena Anak Krakatau merupakan gunung api yang relatif muda.

Gunung Anak Krakatau masih mengalami pertumbuhan. Setiap erupsi dapat menjadi bagian dari proses pembangunan sekaligus perubahan.

Oleh sebab itu, setiap aktivitas terbaru dan perubahannya merupakan informasi penting bagi para ilmuwan. Guna memahami bagaimana Gunung Anak Krakatau berkembang dan seberapa besar potensi bahayanya di masa depan.

Erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengeluarkan semburan lava pijar berwarna merah menyala saat mengalami erupsi pada Jumat (4/9) malam. Semburan tersebut dikenal sebagai lava fountain atau air mancur lava.

Aktivitas ini disertai dengan suara dentuman yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau, di Pasauran, Banten. Peralatan CCTV di sekitar kawah juga dilaporkan mengalami gangguan setelah terekna lontaran material erupsi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Namun, potensi letusan susulan masih tergolong tinggi.

Kepala PVMBG Kementerian ESDM Siti Sumilah Rita Susilawati, dalam keterangannya mengatakan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga meski erupsi menerus telah berhenti.

(nad/dmi)