Pakar Bantah Erupsi Gunung Api Bisa Direkayasa Teknologi Manusia

CNN Indonesia
Selasa, 08 Sep 2026 08:20 WIB
A drone view shows Mount Anak Krakatau volcano spewing hot ash during an eruption, in South Lampung, Lampung province, Indonesia, September 5, 2026. Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation (PVMBG)/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS
Pakar kebencanaan Daryono menegaskan erupsi gunung api di Indonesia adalah proses alamiah, bukan akibat rekayasa teknologi. (Foto: via REUTERS/PVMBG)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pakar kebencanaan membantah narasi yang mengaitkan erupsi sejumlah gunung api di Indonesia beberapa waktu belakangan dengan rekayasa teknologi atau senjata buatan manusia.

Pegiat mitigasi bencana Daryono mengatakan erupsi gunung api merupakan proses alamiah akibat dinamika internal Bumi dengan energi sangat besar yang tidak dapat dibangkitkan maupun dikendalikan teknologi manusia.

"Tudingan bahwa fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian," kata Daryono dalam keterangan tertulis, Senin (7/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, energi yang menggerakkan aktivitas vulkanik berasal dari dinamika mantel Bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan.

Erupsi terjadi ketika magma bergerak naik karena memiliki densitas lebih rendah dibandingkan batuan di sekitarnya. Proses tersebut juga disertai akumulasi tekanan dari gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.

Daryono mengatakan tekanan di kantong magma dapat mencapai ratusan megapascal.

Karena itu, menurutnya, tidak ada teknologi berbasis gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia yang mampu menembus jauh ke dalam kerak Bumi dan secara sengaja mengubah tekanan di dalam sistem magma.

"Manusia tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk merekayasa pergerakan jutaan meter kubik magma bersuhu hingga 1.200 derajat Celsius," ujarnya.

Indonesia di Cincin Api

Daryono menjelaskan aktivitas vulkanik yang intens di Indonesia berkaitan dengan posisi geografis Indonesia di jalur Cincin Api atau Ring of Fire.

Indonesia berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik utama, antara lain Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina.

Penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng lainnya membawa material, termasuk air dan sedimen, menuju kedalaman Bumi.

Menurut Daryono, proses tersebut membantu memicu pelelehan batuan di mantel dan menghasilkan suplai magma dalam rentang waktu yang sangat panjang.

Ia mengatakan beberapa gunung api juga dapat menunjukkan peningkatan aktivitas dalam waktu berdekatan ketika sistem magmanya masing-masing telah berada dalam kondisi kritis.

Daryono menyebut hal tersebut mungkin terjadi di antaranya ketika ada aktivitas tektonik regional atau penyesuaian tegangan di kerak Bumi setelah gempa besar.

Namun, fenomena itu menurutnya tetap merupakan proses tektonik alamiah, bukan akibat campur tangan teknologi manusia.

Tanda sebelum erupsi

Lebih lanjut, Daryono mengatakan aktivitas magma sebenarnya dapat dipantau melalui sejumlah parameter geofisika sebelum erupsi.

Pergerakan magma dapat memicu gempa vulkanik dalam, gempa vulkanik dangkal, maupun tremor akibat rekahan batuan ketika magma bergerak menuju permukaan.

"Erupsi tidak pernah terjadi secara mendadak melalui tombol kendali otomatis, melainkan diawali oleh rekaman seismisitas berupa gempa vulkanik dalam dan dangkal serta tremor akibat rekahan batuan saat magma bergerak naik," tuturnya.

Instrumen geodesi seperti GPS dan tiltmeter juga dapat merekam deformasi atau perubahan bentuk tubuh gunung api akibat tekanan dari bawah permukaan.

Selain itu, pemantauan gunung api dapat mendeteksi perubahan komposisi gas dan peningkatan suhu.

[Gambas:Video CNN]

Menurut Daryono, proses akumulasi massa dan energi di dalam sistem vulkanik dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Ia juga menyebut lapisan batuan padat di kerak Bumi meredam gelombang elektromagnetik sehingga sinyal buatan manusia tidak memiliki mekanisme fisik untuk menggerakkan magma yang berada jauh di bawah permukaan.

Dengan demikian, Daryono menilai narasi yang mengaitkan erupsi gunung api dengan teknologi buatan manusia sebagai bentuk disinformasi yang mengabaikan proses dasar geologi.

Aktivitas vulkanik Indonesia, katanya, merupakan konsekuensi dari dinamika geologi Bumi yang terus berlangsung.

(lom)
placeholder