Apakah Erupsi Anak Krakatau dan Megathrust Selat Sunda Berkaitan?

CNN Indonesia
Rabu, 09 Sep 2026 08:15 WIB
Pakar kebencanaan Daryono menjelaskan hubungan antara aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dan dinamika tektonik Selat Sunda.
Pakar kebencanaan Daryono menjelaskan hubungan antara aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dan dinamika tektonik Selat Sunda. (Foto: AFP/PERDIANSYAH)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pakar kebencanaan mengungkap kaitan antara aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dengan dinamika tektonik pada zona megathrust Selat Sunda. Lantas, bagaimana kedua hal ini berkaitan?

Pegiat mitigasi bencana Daryono menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau berkaitan dengan dinamika tektonik di zona megathrust Selat Sunda.

Pembentukan magma di gunung api tersebut merupakan hasil langsung dari subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Daryono, ketika deformasi atau pelepasan energi gempa terjadi di zona megathrust, getaran dan perubahan tekanan tektonik di dalam kerak bumi dapat memengaruhi sistem magma di bawah Gunung Anak Krakatau. Ia mengibaratkan kondisi ini seperti mengocok atau menekan kantong magma yang sudah penuh gas.

"Ketika deformasi atau pelepasan energi gempa terjadi di zona megathrust, goncangan atau perubahan tekanan tektonik (stress transfer) dapat menekan atau mengocok kantong magma yang sarat gas di bawah Anak Krakatau," jelas Daryono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (8/9).

Lebih lanjut, perengangan tektonik di Selat Sunda memicu celah atau retakan (peregangan struktur) yang mempermudah magma naik ke permukaan, sehingga dapat mempercepat terjadinya erupsi.

Meski demikian, Daryono mengatakan bahwa tidak ada satu angka magnitudo yang secara mutlak bisa disebut sebagai batas gempa untuk memengaruhi sistem magma di Gunung Anak Krakatau. Pasalnya, pengaruhnya ini bergantung pada jarak pusat gempa, kedalamannya, serta kondisi kantong magma.

"Secara umum, gempa tektonik dangkal berukuran sedang (M5,0-6,0) yang berjarak sangat dekat (beberapa puluh kilometer dari Selat Sunda), atau gempa megathrust berskala besar (M7,0) yang berjarak hingga ratusan kilometer, sudah cukup untuk memberikan guncangan dinamis maupun perubahan regangan (stress transfer) yang signifikan," jelas Daryono.

Daryono menilai kemampuan gempa tektonik untuk memicu peningkatan aktivitas Anak Krakatau bergantung pada kondisi gunung sebelum terjadi gempa. Sementara, aktivitas vulkanik tetap ditentukan oleh kondisi sistem magma.

Jika sistem magma sudah jenuh gas dan dalam kondisi siap meletus, guncangan dari gempa berukuran sedang pun sanggup memicu gangguan pada dapur magma. Sebaliknya, jika sistem magma dalam keadaan pasif atau mengumpul secara signifikan, guncangan gempa besar tidak akan memicu peningkatan aktivitas vulkanik.

"Jika kondisi magmanya sedang pasif atau belum mengumpul secara signifikan, guncangan gempa besar sekalipun tidak akan serta-merta memicu peningkatan aktivitas vulkanik," jelas Daryono.

Menurutnya, erupsi besar atau pergerakan massa magma bervolume tinggi dapat mengganggu keseimbangan lokal tegangan batuan (local stress field). Hal ini dapat memicu pergeseran sesar-sesar lokal di sekitar Selat Sunda (volcano-induced tectonics), memicu gempa tektonik lokal berkekuatan kecil hingga sedang.

[Gambas:Video CNN]

"Aktivitas vulkanik tidak cukup kuat untuk secara langsung menyebabkan gempa megathrust skala raksasa," tegas Daryono.

Ia turut membeberkan indikator paling awal yang terdeteksi oleh peralatan pemantauan milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang meliputi lonjakan Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan Vulkanik Dangkal (VB). Alat akan mendeteksi retakan batuan di bawah gunung akibat dorongan magma yang mulai bergerak naik.

Selanjutnya, pemantauan deformasi tubuh gunung menggunakan GPS berpresisi tinggi atau tiltmeter dapat menunjukkan apakah tubuh gunung mulai mengembang akibat meningkatnya tekanan magma di bawah permukaan.

Kemudian, perubahan emisi gas vulkanik juga menjadi indikator penting. Peningkatan emisi gas seperti sulfur dioksida (SO2) dan karbon dioksida (CO2) dapat menunjukkan adanya perubahan sistem magma.

(nad/dmi)
placeholder