Sharp Ungkap Dampak Lonjakan Harga Chip, TV Jadi Lebih Mahal?

CNN Indonesia
Rabu, 09 Sep 2026 18:58 WIB
Andry Adi Utomo, National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, mengungkap kenaikan harga TV di tengah lonjakan harga chip global. (Foto: CNN Indonesia/Nadhira Aliya N)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pabrikan elektronik asal Jepang Sharp mengungkap kenaikan harga chip memori global turut berdampak terhadap kenaikan harga unit televisi besutannya.

Andry Adi Utomo, National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, menjelaskan bahwa produk Sharp yang paling terdampak akibat fenomena ini ialah televisi berukuran kecil.

Salah satunya televisi berukuran 32 inci yang kini dibanderol dengan harga hampir Rp 3 juta. Sebagai perbandingan, harga produk tersebut sebelumnya sempat berada di bawah Rp2 juta.

"Sekarang main di televisi inci kecil susah. Karena saya lihat, chip memori itu harganya mahal. Satu memori dipakai di inch kecil sama dengan satu memori dipakai di inch gede karena memori itu untuk simpan aplikasi Android ya. Nah, ini kan rugi kalau kita pasang di televisi inch kecil," kata Andry dalam acara kampanye "Every Customer Matters" di Jakarta, Rabu (9/9).

Menurut Andry, kenaikan harga tersebut diperkirakan mencapai 3-8 persen. Ia memprediksi kenaikan ini masih akan terus terjadi hingga bulan Oktober 2026 mendatang.

"Kita akan naik harga lagi untuk TV yang kesekian belas kali di bulan Oktober 2026," tegasnya.

Kendati demikian, Andry belum dapat memastikan apakah kenaikan harga ini akan berdampak terhadap penjualan televisi dengan layar kecil. Menurutnya, penjualan televisi Sharp sempat mengalami kenaikan saat momentum Piala Dunia 2026.

Oleh sebab itu, kini Sharp berfokus untuk memasarkan produk televisi dengan layar besar. Saat ini, kontribusinya masih relatif kecil dari total pasar televisi Sharp.

Dari total pasar TV Sharp sekitar 18 persen, segmen televisi berukuran besar menyumbang sekitar 5-8 persen. Kondisi ini membuat perusahaan melihat masih ada peluang untuk mengembangkan pasar segmen televisi ini.

"Sebenarnya, kontribusi televisi berukuran ini masih kecil ya. Total pasar televisi itu baru sekitar 18 persen. Jadi dibilang dari yang 18 persen itu mungkin kontribusi televisi besar baru sekitar 5-8 persen," imbuh Andry.

Menurut Andry, persaingan di segmen ini tidak bisa hanya mengandalkan harga. Oleh sebab itu, pihaknya mencoba menawarkan nilai tambah lain yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, terutama dalam hal pemasangan produk dan kecepatan menangani kendala setelah pembelian.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghadirkan layanan Platinum Service yang menawarkan layanan khusus bagi konsumen. Layanan ini diberikan untuk setiap pembelian TV premium Aquos XLED serta SuperSize TV, khusus untuk area Jabodetabek, Medan, Surabaya dan Denpasar.

Melalui layanan ini, Sharp memastikan proses instalasi televisi berukuran besar dapat berlangsung dengan cepat.

Meski demikian, Andry optimistis untuk memperluas segmen pasar televisi berukuran besar. Ia berharap penjualan di segmen ini terus meningkat.

Andry menargetkan kontribusi pasar di segmen televisi berukuran besar ini naik menjadi 16 persen hingga 20 persen. Sementara, kontribusi total pasar televisi Sharp ditargetkan sekitar 25 persen.

"Kita mau TV ini punya kontribusi total di-share itu 25 persen. Jadi semua produk 25, 25, 25, 25 gitu. Sekarang baru 18 persen," tutup Andry.

Riset dari Omdia menunjukkan bahwa pengiriman televisi global tumbuh sekitar 3,6 persen year-on-year (YoY) menjadi 48,8 juta unit pada kuartal kedua tahun 2026. Hal ini didukung oleh momentum Piala Dunia 2026 dan waktu peluncuran Amazon Prime Day.

Omdia menemukan bahwa keterbatasan pasokan memori hanya berdampak terhadap volume pengiriman TV pada kuartal kedua tahun 2026, sebagian karena merek-merek terus mempromosikan lini produk lama dan memanfaatkan persediaan memori berbiaya lebih rendah yang sudah ada.

Namun, dengan pasokan memori yang diperkirakan tetap terbatas dan harga yang terus naik, harga TV kemungkinan akan menghadapi tekanan kenaikan tahun ini.

Omdia juga memperkirakan merek-merek akan semakin beralih dari TV beresolusi rendah ke model 4K. Pasalnya, produk memori berkapasitas rendah menghadapi kendala pasokan yang sangat ketat.

(nad/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK