Fosil di Sulawesi Ungkap Jejak Penggunaan Obat Psikoaktif Tertua Dunia

CNN Indonesia
Sabtu, 12 Sep 2026 08:30 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Penelitian terbaru menunjukkan bukti penggunaan obat-obatan psikoaktif oleh manusia sudah ada sejak 25 ribu tahun. Studi ini merujuk pada orang-orang Indonesia yang mengemut biji buah pinang yang memabukkan pada masa tersebut.

Studi tersebut menganalisis dua kerangka manusia purba dari Sulawesi dan menemukan pengeroposan gigi yang cukup parah dengan jejak zat psikoaktif yang tersisa. Para peneliti menduga hal tersebut disebabkan konsumsi rutin biji buah pinang yang keras dan abrasif.

Zat psikoaktif adalah zat yang dapat memengaruhi cara kerja otak dan menyebabkan perubahan suasana hati, kesadaran, pikiran, perasaan, atau perilaku.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir The Guardian, biji buah pinang adalah sumber zat psikoaktif yang paling banyak digunakan keempat di dunia setelah alkohol, kafein, dan nikotin dengan jumlah pengguna yang mencapai sepersepuluh populasi global.

"Kami telah menemukan bukti tentang bagaimana kebiasaan penggunaan obat-obatan yang sangat umum ini, yang ditemukan di sebagian besar wilayah Asia-Pasifik saat ini, mungkin telah berevolusi," kata Adam Brumm, profesor dari Australian Research Centre for Human Evolution di Griffith University.

Penelitian yang diterbitkan di Science Advance tersebut bermula ketika tim peneliti memeriksa sisa-sisa kerangka dua manusia kuno yang ditemukan di dua lokasi berbeda di pulau Sulawesi.

Keduanya diduga berasal dari masa berburu dan meramu, jauh sebelum masa pertanian. Satu di antaranya diperkirakan berusia 7 ribu tahun, dan satu lainnya berusia sekitar 16 hingga 25 ribu tahun.

Para peneliti kemudian menemukan lubang aneh seperti kikisan yang dalam di gigi mereka. Beberapa lubang tersebut bahkan sangat dalam sampai menembus pulpa atau bagian jaringan saraf gigi.

"Saya berpikir, apa yang sebenarnya dilakukan orang-orang ini? Sepertinya seseorang menggunakan bor berbentuk permen gobstopper dan mengikis bagian dalam gigi," kata Brumm.

Brumm menduga keausan gigi yang aneh itu disebabkan kebiasaan mengemut benda keras, bulat, dan abrasif di mulut mereka.

"Bayangkan Anda menyimpan batu di mulut Anda dan Anda memindahkannya dari satu bagian mulut Anda ke bagian lain hari demi hari dan jam demi jam. Pada akhirnya batu itu akan mengikis jaringan gigi Anda yang sangat keras hingga membentuk kikisan-kikisan ini," katanya.

Hasil penelitian mengungkap kikisan di gigi tersebut disebabkan oleh kebiasaan mengemut biji dari pohon pinang (Areca catechu) utuh-utuh sebelum mereka menyadari bahwa mencampur biji buah pinang dengan kapur sirih membantu melepaskan lebih banyak zat psikoaktif dan memperkuat efek "mabuk".

Untuk menguji dugaan tersebut, para ilmuwan merendam biji buah pinang dalam air liur buatan. Hasilnya, biji buah pinang mengandung senyawa psikoaktif arecoline yang cukup untuk menimbulkan efek mabuk, meskipun lebih ringan daripada saat biji buah pinang dikunyah.

Jejak zat psikoaktif arecoline ini yang ditemukan peneliti dalam kedua kerangka manusia purba tersebut.

"Saya mencoba mengemut biji buah pinang sebagai eksperimen dan rasanya sangat pahit dan sepat. Itu membuat mulut mati rasa dan saya pikir itulah yang membuat mereka tertarik," kata Brumm.

Ia menjelaskan tradisi ini mungkin merupakan pengobatan tradisional untuk sakit gigi, tetapi karena dilakukan terlalu lama gigi mereka terkikis dan justru menimbulkan rasa sakit gigi yang jauh lebih buruk.

Brumm menduga manusia purba Sulawesi tersebut terjebak dalam siklus yang terus berulang di mana mereka mengemut biji buah pinang untuk mengobati sakit gigi yang disebabkan oleh kebiasaan mengemut biji buah pinang itu sendiri.

Seorang profesor dalam bidang prasejarah Eropa di Universitas Valladolid di Spanyol Elisa Guerra-Doce mengatakan penelitian tersebut memberikan bukti langsung tentang sejak kapan manusia menggunakan obat-obatan.

"Temuan ini tidak hanya mewakili bukti paling awal yang diketahui hingga saat ini tentang penggunaan tanaman psikoaktif di mana pun di dunia, tetapi juga menunjukkan bahwa konsumsi biji pinang Areca adalah tradisi berusia ribuan tahun yang berasal dari zaman prasejarah," tuturnya.

(fta/lom)