BMKG: Tak Ada Cuaca Ekstrem Saat Kapal Virgo 8 Tenggelam

CNN Indonesia
Selasa, 15 Sep 2026 07:56 WIB
Kondisi KM Virgo Transport 8 yang terbalik di laut jawa (Arsip TNI AL)
BMKG memastikan cuaca di Laut Jawa normal saat KM Virgo Transport 8 tenggelam. Peningkatan angin diprediksi berlanjut, mempengaruhi aktivitas pelayaran. (Foto: Arsip TNI AL)
Surabaya, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi cuaca di perairan Laut Jawa terpantau normal dan tidak ekstrem saat Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak dan akhirnya tenggelam pada Minggu (13/9).

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Tanjung Perak Surabaya, Sutarno, mengonfirmasi bahwa tidak ada fenomena cuaca yang membahayakan pada saat kejadian.

"Untuk cuaca ekstrem tidak ada," kata Sutarno saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Senin (14/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sutarno menjelaskan, berdasarkan pemantauan satelit pada beberapa jam waktu kejadian menunjukkan cuaca dalam kondisi baik dengan gelombang yang masih dalam batas aman.

"Dari analisis cuaca pantauan satelit menunjukkan di lokasi kejadian cuaca cerah berawan dari jam 00.00- 03.00 Wita kecepatan angin 15 hingga 20 knot," ucapnya.

"[Ketinggian] gelombang 1,5 hingga 2.0 meter. Kondisi arus 0,2 knot, pada jam 00.00 Wita kemudian jam 01.00 Wita arus 0.6 knot, kemudian jam 02.00 Wita arus naik 0.9 knot," tambah Sutarno.

Ia menambahkan bahwa memang terpantau peningkatan kecepatan angin di wilayah tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh dinamika tekanan udara dari wilayah Australia yang bergerak ke arah ekuator.

"Memang ada peningkatan kecepatan angin yang disebabkan oleh besarnya perbedaan tekanan udara di wilayah timur Australia dengan wilayah dekat ekuator sehingga mendorong penguatan aliran angin timuran dari Australia menuju wilayah Jawa khususnya Jawa Timur," katanya.

Dampak dari peningkatan angin ini, kata Sutarno, diprediksi masih akan berlanjut, sehingga aktivitas pelayaran diimbau untuk tetap memperhatikan kondisi tersebut.

"Peningkatan kecepatan angin yang berdampak signifikan terhadap aktivitas pelayaran diperkirakan akan bertahan hingga 3 hari ke depan," ucapnya.

Meski cuaca saat kejadian terpantau normal, BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Tanjung Perak Surabaya sebelumnya telah mengeluarkan Informasi Peringatan Dini Gelombang Tinggi yang berlaku sejak tanggal 11 hingga 14 September 2026.

Senada, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim BMKG Tanjung Perak Surabaya, Sugeng Widarko, melalui dokumen Analisis Kondisi Cuaca Terkait Kejadian Hilang Kontak Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa, membedah secara spesifik kondisi cuaca, Minggu (13/9) pukul 00.00 hingga 02.00 Wita.

"Berdasarkan citra satelit, kondisi cuaca di sekitar lokasi kejadian adalah cerah hingga berawan," kata Sugeng dalam dokumen analisis tersebut.

Sugeng merinci, kecepatan angin dan tinggi gelombang pada rentang waktu tersebut terpantau masuk dalam kategori sedang hingga kencang berdasarkan sistem pemodelan cuaca BMKG.

"Hasil analisis model INACAWO BMKG yang menunjukkan terjadinya angin pada kategori sedang hingga kencang dengan kecepatan 15-20 knot dominan dari arah Tenggara, tinggi gelombang pada kategori sedang dengan ketinggian gelombang 1,5-2,0 meter, arus laut pada kategori lemah hingga sedang dengan kecepatan 0,4 - 1,2 knot dominan ke arah Barat Laut," ujarnya.

Dokumen analisis tersebut juga memuat pemetaan visual terkait posisi terakhir KM Virgo Transport 8 yang berada di titik koordinat 4° 31' 51.82" S 114° 2' 6.88" E.

Melalui pantauan citra satelit cuaca Himawari-9 EH yang dilampirkan, kondisi awan di sekitar lokasi kejadian sejak pukul 00.00 hingga 03.00 WITA secara visual tergambar cerah hingga berawan.

Pemetaan arah dan kecepatan angin permukaan secara spesifik memperlihatkan hembusan angin dominan bergerak dari arah tenggara. Indikator warna pada peta angin tersebut menunjukkan kecepatan angin di lokasi masuk dalam kategori sedang hingga kencang pada kisaran 15 hingga 20 knot.

Sementara itu, peta sebaran tinggi gelombang menampilkan lokasi kejadian dengan indikator gelombang kategori sedang, yakni mencapai ketinggian 1,5 hingga 2,0 meter.

Visualisasi peta pergerakan arus laut turut melengkapi gambaran dinamika perairan saat insiden terjadi. Peta arus laut menampilkan pergerakan air di sekitar perairan hilangnya kapal dominan menuju ke arah barat laut.

Kondisi arus laut itu terpantau berada dalam kategori lemah hingga sedang dengan kecepatan arus berkisar antara 0,4 hingga 1,2 knot pada saat kejadian.

Dokumen dan analisis BMKG ini membantah pernyataan PT Virgo Karya Shipping selaku pemilik sekaligus operator KM Virgo Transport 8. Mereka mengklaim faktor cuaca ekstrem lah penyebab satu-satunya tenggelamnya kapal tersebut di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9) dini hari.

General Manager PT Virgo Karya Shipping, Yoel Rihi, menduga kuat insiden tenggelamnya kapal yang memuat 243 jiwa dan 89 kendaraan itu dipicu oleh cuaca buruk dan hantaman gelombang tinggi.

Yoel menjelaskan, laporan pertama mengenai gangguan operasional kapal diterima pada pukul 01.00 WITA, Minggu dini hari. Laporan itu, kata dia menunjukkan adanya anomali gelombang di perairan Laut Jawa.

"Kalau untuk dugaan awal ini ya, ini tuh karena cuacanya buruk, gelombang. Saya dapat laporan itu jam 01.00 itu karena ada gelombang. Sesuai dengan laporan dari Basarnas juga memang posisi gelombang itu sekitar 1,5 sampai 2,5 meter. Emang dugaan pertama ini gara-gara gelombang itu aja, cuaca buruk," kata Yoel di kantornya, Senin (14/9).

Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9), pukul 02.00 Wita, saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9). KM Virgo mengangkut 243 orang penumpang, awak kapal hingga kru, serta 89 kendaraan.

Dari 243 korban, telah terevakuasi sebanyak 108 korban dalam kondisi selamat dan 6 korban dalam kondisi meninggal dunia, Sementara itu, sebanyak 129 orang lainnya masih dalam pencarian. 

[Gambas:Video CNN]

(frd/dmi)
placeholder