Laju AI Mau Diperlambat, Saham Nvidia Cs Kompak Berguguran
Saham perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) rontok pada Senin (14/9) setelah para petinggi Anthropic, OpenAI, dan SpaceX menyerukan perlambatan laju teknologi AI. Mereka khawatir teknologi AI lepas kendali dan dapat mengancam kelangsungan hidup manusia.
Harga saham Nvidia, perusahaan semikonduktor nomor 1 dunia, merosot 3,3 persen pada penutupan perdagangan di New York pada Senin (14/9). Sementara itu, Advanced Micro Devices turun 4 persen, serta Micron Technology dan Sandisk masing-masing melemah 5 persen.
Melansir The Guardian, indeks saham sektor teknologi Nasdaq juga terkoreksi 0,5 persen di akhir hari perdagangan.
Saham SoftBank, investor asal Jepang yang menjadi penyokong besar OpenAI, juga anjlok 13 persen. Indeks saham Kospi di Korea Selatan, yang sangat bergantung pada produsen chip pemasok perusahaan AI, turut melemah 3 persen.
Saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Company, pemasok mikrochip global utama, ikut merosot 1,2 persen. Sementara di Eropa, saham produsen teknologi asal Belanda, ASML, yang merupakan perusahaan terbesar di Eropa berdasarkan nilai pasar sekaligus pemasok penting industri semikonduktor, anjlok hingga 6 persen.
Meski demikian, saham perusahaan yang sebelumnya terancam oleh kehadiran AI justru mengalami penguatan. Perusahaan grup periklanan WPP melonjak 5 persen di London, dan perusahaan analisis Relx juga naik 5 persen.
Relx sebelumnya sempat mengalami penurunan tajam awal tahun ini setelah Anthropic meluncurkan rangkaian alat data dan otomatisasi baru.
Aksi jual saham ini terjadi setelah CEO Anthropic Dario Amodei, menyerukan industri AI untuk mengerem laju pengembangan AI.
Dalam sebuah esai sepanjang 3.800 kata, ia mengakui bahwa manusia mungkin dapat kehilangan kendali atas AI. Menurutnya, teknologi ini juga dapat disalahgunakan untuk serangan siber, bioterorisme, serta gangguan ekonomi yang serius.
Amodei menyatakan bahwa membangun teknologi terlalu cepat adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab.
Ia memperingatkan bahwa agen AI di masa depan dapat meretas seluruh jaringan internet dan menyebabkan kerugian hingga ratusan miliar dolar.
(dmi)