Langit Kalimantan Berubah Oranye Kemerahan, Fenomena Apa?

CNN Indonesia
Senin, 21 Sep 2026 16:57 WIB
Fenomena langit oranye kemerahan di Kalimantan viral akibat kebakaran hutan. Ahli menjelaskan ini akibat Mie Scattering, bukan tanda bencana. (Foto: Tangkapan layar video X via detikcom)
Jakarta, CNN Indonesia --

Fenomena langit di sejumlah wilayah Kalimantan berwarna oranye pekat hingga kemerahan viral di media sosial. Peristiwa ini terjadi di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan.

Salah satu akun di X mengunggah rentetan video kondisi di sekitar rumahnya di Kalimantan Tengah. Dalam video itu, terlihat langit hingga suasana di sekitar rumahnya berwarna oranye kemerahan.

"Demi Allah gue takut banget liat video ini, ini di Kalimantan Tengah siang tadi. Langitnya oranye kaya warna kulit jeruk. Beneran se-oranye itu," kata akun @rapun*** di X, Sabtu (19/9).

Pengunggah video tersebut membantah video yang ia bagikan adalah hasil penyuntingan video maupun rekayasa kecerdasan buatan (AI).

Hingga Senin (21/9), video tersebut sudah dilihat lebih dari 4,4 juta kali di X. Selain itu, unggahan itu mendapat response hingga 1.000 balasan, hingga akhirnya menjadi perbincangan di media sosial.

Lantas, fenomena apa ini sebenarnya?

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa peristiwa langit berubah oranye kemerahan di Kalteng tersebut merupakan hal biasa ketika langit dipenuhi asap.

Menurut dia, cahaya Matahari sebenarnya campuran beragam warna yang tampak seperti warna pelangi, yakni merah, jingga, kuning, hijau, biru, nilai, dan ungu.

"Ketika langit dipenuhi asap, warna-warna dengan gelombang pendek (warna ungu, biru, sampai hijau) tidak bisa menembus asap. Jadi cahaya Matahari yang tersisa hanya warna kuning, jingga dan merah," kata Thomas saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (21/9).

"Jadi, cahaya Matahari yang tersisa hanya warna kuning, jingga, dan merah. Itulah yang dilihat warga di wilayah terdampak asap karhutla," lanjut dia.

Menurut Thomas, fenomena tersebut merupakan Mie Scattering atau hamburan mie. Ini adalah fenomena penghamburan cahaya oleh partikel di atmosfer yang ukurannya sebanding dengan panjang gelombang dari cahaya itu sendiri.

Fenomena ini terjadi ketika cahaya Matahari menabrak partikel kecil (seperti debu, butiran air dalam kabut, atau asap), dan ukuran partikel tersebut mirip dengan panjang gelombang cahaya.

"Mie Scattering adalah hamburan gelombang pendek yang biasanya tampak pada langit sore ketika warna birunya sudah dihamburkan di wilayah yang dilalui cahaya. Hamburan cahaya biru itu yang menyebabkan langit biru. Yang tersisa cahaya merah yang tampak di ufuk barat saat Matahari terbenam atau saat Matahari terbit," ujar Thomas.

Namun begitu, ia memastikan fenomena ini bukan menjadi penanda bakal terjadi bencana. Warga juga tak perlu khawatir dengan fenomena tersebut.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari warna langit, selain bahaya asapnya," papar dia.

(dmi/dmi)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK