El Nino Berpotensi Picu 451 Ribu Kematian, 19 Ribu di Indonesia
Laporan Climate Impact Lab memproyeksikan sekitar 451 Ribu orang di dunia berpotensi meninggal akibat panas ekstrem yang dipicu fenomena El Nino hingga Februari 2027. Dari jumlah tersebut, sekitar 19 ribu kematian diperkirakan terjadi di Indonesia.
Prediksi tersebut dimuat dalam laporan Climate Impact Lab di Universitas Chicago. Perhitungan didasarkan pada hubungan yang teramati antara suhu ekstrem dan peningkatan angka kematian di berbagai wilayah dunia.
Melansir New Scientist, hubungan tersebut membentuk kurva seperti huruf U, dengan jumlah kematian yang melonjak ketika suhu berada pada kondisi sangat dingin maupun sangat panas.
Namun, bentuk kurva tersebut berbeda-beda di setiap wilayah, tergantung pada kemampuan masyarakat dan infrastruktur setempat dalam beradaptasi terhadap suhu ekstrem. Faktor lain yang berpengaruh adalah kemampuan masyarakat untuk menggunakan fasilitas seperti AC.
Dalam studi pada 2022, para peneliti membagi dunia menjadi 24 ribu wilayah dan memperkirakan hubungan antara suhu dan kematian untuk masing-masing wilayah. Perhitungan tersebut didasarkan pada data historis selama beberapa dekade atau perkiraan yang dibuat dengan membandingkan dengan wilayah lain yang memiliki kondisi serupa.
Tim peneliti dalam laporan terbaru ini kemudian menggabungkan pendekatan tersebut dengan prakiraan cuaca musiman dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts untuk memperkirakan jumlah kematian tambahan yang mungkin terjadi akibat El Nino.
Hasilnya menunjukkan sekitar 240 ribu kematian tambahan akibat panas diperkirakan terjadi selama periode prakiraan enam bulan, dari September 2026 hingga Februari 2027. Jika ditambah dengan perkiraan kematian yang telah terjadi sejak El Nino saat ini dimulai pada Juni, totalnya mencapai sekitar 451 ribu kematian.
"Hasil studi menunjukkan ada sekitar 451 ribu orang yang berisiko meninggal dalam beberapa bulan ke depan akibat El Nino," kata Michael Greenstone, pendiri Climate Impact Lab, melansir laman Climate Impact Lab, Rabu (23/9).
Afrika diperkirakan menjadi wilayah paling terdampak. Tim peneliti memperkirakan lebih dari 30.000 kematian tambahan akan terjadi di Nigeria saja dalam enam bulan ke depan.
Pada periode yang sama, Indonesia diperkirakan mengalami 19 ribu kematian tambahan, India 16 ribu, dan Brasil 13 ribu.
Laporan ini membagi penduduk ke dalam tiga kelompok usia, yakni anak berusia 4 tahun ke bawah, orang tua berusia 65 tahun ke atas, dan kelompok usia lainnya.
"Ada dampak pada ketiga kelompok usia tersebut," kata Emily Grover-Kopec, Direktur Energy & Climate di Rhodium Group, yang juga terlibat dalam studi ini.
"Kelompok yang paling rentan adalah kelompok usia lanjut, kemudian bayi," lanjut dia.
El Nino tahun ini diprediksi pecahkan rekor
Studi lainn menunjukkan El Nino tahun ini diperkirakan semakin menguat dan berpotensi menjadi yang terbesar dalam setidaknya 1.000 tahun. Tambahan panas dari fenomena ini, di tengah pemanasan global akibat aktivitas manusia, diperkirakan mendorong 2027 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat.
Anomali suhu di Samudra Pasifik telah melampaui rekor, beberapa bulan sebelum fenomena El Nino diperkirakan mencapai puncaknya. Anomali suhu di wilayah tersebut mencapai 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020, melewati rekor 3,02 derajat Celsiu pada akhir November 2015.
Angka tersebut menggambarkan selisih suhu di wilayah pemantauan El Nino terhadap rata-rata acuannya, bukan kenaikan suhu rata-rata seluruh Bumi.
Sementara itu, ukuran lain yang banyak digunakan ahli meteorologi, yakni ONI di wilayah Nino 3.4, hanya terpaut 0,01 derajat Celsius di bawah rekor 2015.
Ukuran ini menggunakan rata-rata acuan 30 tahun yang diperbarui secara berkala untuk memperhitungkan pemanasan global akibat aktivitas manusia. Kedua pengukuran tersebut bersandar pada data Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA).
Ilmuwan iklim Zeke Hausfather menelaah 14 model yang rata-rata memproyeksikan anomali suhu mencapai sekitar 4 derajat Celsius pada November dan Desember. Sebagai perbandingan, El Nino dengan anomali di atas 2 derajat Celsius sudah masuk kategori sangat kuat, yang kerap disebut 'Super El Nino'.
(dmi)