Ilmuwan Temukan Spesies Penguin Baru, Pertama dalam 100 Tahun

CNN Indonesia
Senin, 28 Sep 2026 08:30 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Para ilmuwan baru menyadari keberadaan satu spesies penguin berbeda dari spesies yang tercatat, yakni gentoo tenggara (Pygoscelis kerguelensis), yang menjadikannya sebagai spesies penguin baru pertama yang diberi nama dalam lebih dari 100 tahun terakhir.

Sebuah tim internasional yang dipimpin oleh para peneliti di Chile dan Universitas California dalam studi yang dipublikasikan di Communications Biology mengidentifikasi populasi spesies tersebut setelah luput dari pemantauan begitu lama.

Spesies ini mendiami pulau-pulau terpencil di Belahan Bumi Selatan yang sulit dijangkau, tepatnya di Kepulauan Kerguelen yang jaraknya hampir 3.200 kilometer dari daratan yang dihuni secara permanen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir ScienceDaily pada Senin (21/9), hasil penelitian menunjukkan bukti genetik yang mengungkap bahwa penguin gentoo yang dulunya dianggap satu spesies oleh para ilmuwan, sebenarnya terdiri dari empat spesies yang berbeda. Salah satu spesies tersebut bahkan belum pernah diakui secara resmi.

Keempat spesies gentoo diperkirakan berevolusi selama 300.000 hingga 500.000 tahun terakhir. Isolasi geografis memainkan peran utama dalam evolusi mereka, terutama di garis pemisah utama Samudra Selatan, tempat suhu dan salinitas air berubah tajam.

Empat spesies penguin gentoo terbagi berdasarkan wilayah geografisnya, yaitu Pygoscelis ellsworthi di kawasan Antartika (selatan), Pygoscelis taeniata di perairan timur, Pygoscelis papua di Amerika Selatan (utara), serta spesies baru Pygoscelis kerguelensis yang hidup di dekat Garis Depan Kutub (tenggara).

Secara fisik, spesies baru tersebut sangat mirip dengan gentoo lain dengan warna tubuh bagian bawah yang putih dan punggung yang hitam. Perbedaan spesies gentoo tenggara dengan penguin gentoo lainnya hanyalah ukuran tubuh dan suara.

Namun, spesies ini berbeda secara genetik. Para ilmuwan menyebut jenis organisme ini sebagai spesies kriptik, yang berarti ia terlihat sangat mirip dengan spesies terkait meskipun memiliki perbedaan genetik yang signifikan.

Para peneliti juga mengidentifikasi ulang tiga populasi gentoo yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai subspesies, ternyata memiliki perbedaan genetik yang cukup signifikan sehingga dapat diakui sebagai spesies penuh.

Penelitian terbaru ini mewakili konsensus yang dibangun dari urutan genom lengkap 64 penguin yang dikumpulkan dari 10 koloni perkembangbiakan. Untuk pertama kalinya, pengambilan sampel mencakup hampir seluruh wilayah geografis penguin gentoo.

Salah satu peneliti yang terlibat, Rauri Bowie dari UC Berkeley's Museum of Vertebrate Zoology mengatakan bahwa penguin gentoo merupakan spesies penguin yang taksonominya lebih banyak diperdebatkan daripada yang lain.

"Selama lebih dari 100 tahun, jumlah spesies atau subspesiesnya masih kontroversial. Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan itu menggunakan pendekatan integratif mutakhir," ungkap Bowie.

Para peneliti membandingkan karakteristik fisik dan perilaku, termasuk warna, suara, jadwal perkembangbiakan, pola makan, dan perilaku makan.

Pola makan yang berbeda

Penguin Gentoo memiliki satu keunggulan penting dibandingkan banyak jenis lainnya, spesies ini tidak bergantung pada satu jenis mangsa. Mereka akan mengonsumsi hampir semua hal yang dapat mereka tangkap di bawah air.

Karena gentoo dapat memakan berbagai macam mangsa, termasuk ikan, krill, cumi-cumi, dan sotong, mereka tidak perlu bepergian terlalu jauh dari koloni tempat berkembang biak mereka untuk mencari makanan. Mereka juga cenderung kembali ke tempat bersarang yang sama tahun demi tahun.

Seiring berjalannya waktu, populasi di pulau-pulau terpencil semakin beradaptasi dengan lingkungan lokal mereka. Perbedaan perilaku dan ekologis tersebut secara bertahap diperkuat oleh seleksi alam di seluruh genom mereka.

Hasil penelitian mengungkap setiap spesies penguin gentoo menunjukkan adaptasi genetik yang khas terhadap lingkungannya.

[Gambas:Video CNN]

Gentoo selatan dibekali gen ketahanan ekstrem dan penyimpanan lemak, gentoo timur unggul dalam metabolisme karbohidrat dan kemampuan menyelam, gentoo utara kaya akan gen pencernaan serta kontraksi jantung, dan gentoo tenggara melengkapi keunikan adaptasi kelompok ini di habitat sub-Antartika.

Sayangnya, pemanasan global yang mengubah wilayah Antartika dan sub-Antartika tempat mereka tinggal mengancam masa depan spesies penguin gentoo tenggara yang baru diakui ini, begitu pula dua spesies lain yang baru didefinisikan ulang.

Juliana Vianna, salah satu peneliti dan profesor ekosistem dan lingkungan di Andrés Bello National University Chili mengungkap adanya ancaman akibat pengaruh perubahan iklim yang sangat mengkhawatirkan, khususnya bagi spesies gentoo yang hidup di kawasan pulau-pulau sub-Antartika.

"Sangat penting bagi lembaga konservasi di semua negara yang terlibat untuk meneliti dan mengambil tindakan yang tepat untuk menyelamatkan ketiga spesies penguin gentoo ini," ungkapnya.

(fta/dmi)