Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap skenario terburuk bencana akibat gempa megathrust segmen Aceh-Andaman yang kekuatannya dapat mencapai M9.2 dan berpotensi mengakibatkan tsunami besar.
Indonesia berada di wilayah tektonik yang aktif dan memiliki sejumlah zona subduksi yang berpotensi menjadi sumber gempa kuat, termasuk megathrust.
Megathrust merupakan sumber gempa di zona subduksi tempat dua lempeng tektonik bertemu dan saling bergesekan pada kedalaman dangkal, umumnya kurang dari 50 kilometer. Zona ini dapat menghasilkan energi besar dan memicu gempa bumi kuat dengan bidang patahan yang luas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terdapat 14 segmen megathrust di Indonesia dengan magnitudo maksimum yang cukup tinggi, wilayah-wilayah tersebut merupakan zona subduksi yang berpotensi menjadi sumber utama gempa bumi besar di Indonesia.
Wilayah tersebut meliputi:
- Aceh-Andaman M9,2
- Nias-Simeulue M8,7
- Batu M7,8
- Mentawai-Siberut M8,9
- Mentawai-Pagai M8,9,
- Enggano M8,9
- Jawa M9,1
- Jawa bagian barat M8,9
- Jawa bagian timur M8,9
- Sumba M8,9
- Sulawesi Utara M8,5
- Palung Cotabato M8,3
- Filipina Selatan M8,2
- Filipina Tengah M8,1
Skenario terburuk gempa megathrust
BMKG mengungkap skenario terburuk gempa megathrust pada segmen Aceh-Andaman, gempa berkekuatan hingga M9,2 dapat menimbulkan guncangan gempa maksimal hingga VIII MMI yang dapat berimbas pada kerusakan bangunan, serta tsunami hingga 10 meter.
"Wilayah Pantai Barat Sumatera memiliki potensi ketinggian tsunami di garis pantai hingga lebih dari 3 meter dan di beberapa lokosi hingga lebih dari 10 meter," tulis BMKG di Instagram pada hari Rabu (23/9).
Namun, informasi mengenai potensi gempa megathrust tersebut bukan prediksi bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat. BMKG juga belum dapat memprediksi kapan akan terjadi gempa.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mengenali potensi gempa dan tsunami di wilayah tersebut, serta menyiapkan langkah mitigasi seperti menyiapkan tas siaga bencana, mengenali jalur dan titik evakuasi, melatih kesiapsiagaan bersama keluarga dan komunitas, memastikan bangunan memenuhi prinsip bangunan tahan gempa, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Dalam upaya pencegahan dampak risiko, BMKG juga telah menyiapkan 533 sensor seismograf dan sistem peringatan dini tsunami InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) yang dapat melakukan deteksi secara cepat dan menyebarkan informasi kepada masyarakat luas.
Apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa dan tsunami?
Masyarakat diimbau untuk mewaspadai gempa yang kuat atau guncangan dirasakan lebih dari 30 detik (20 hitungan) karena dapat menimbulkan tsunami dalam waktu singkat.
Pada kondisi tersebut, jauhi pantai dan tepi sungai, serta cari informasi apa yang terjadi. Informasi peringatan dini tsunami dapat diterima melalui TV nasional, radio daerah, atau pengumuman di sekitar wilayah kejadian.
Jika mendengar bunyi sirene, kentongan, atau alat peringatan lainnya, segera lakukan evakuasi ke tempat aman. Jika tidak mengetahui lokasi evakuasi, larilah sejauh mungkin dari pantai, naik ke tempat yang lebih tinggi.

