Inggris memperingatkan negara-negara di seluruh dunia bahwa krisis iklim serta fenomena El Nino yang sedang terjadi dapat mengancam keamanan dan pertahanan nasional di seluruh dunia karena berpotensi menyebabkan konflik, migrasi, dan kekurangan pangan.
Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband mengatakan bahwa El Nino tahun ini diprediksi menjadi yang paling intens sepanjang sejarah, karena telah diperkuat oleh kerusakan iklim. Hal ini diperkirakan dapat memengaruhi sistem pangan dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Ini akan memperparah guncangan iklim yang dampaknya telah menumpuk dan tersebar, mengancam ketahanan pangan dan air, menyingkirkan masyarakat, dan merusak perekonomian," kata Miliband dalam pertemuan tertutup selama Sidang Umum PBB di New York, pada Rabu (23/9), dikutip dari The Guardian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gelombang panas yang terjadi pada tahun ini, hasil panen yang buruk, dan inflasi harga pangan, menunjukkan apa yang akan dihadapi dan ditangani oleh pemerintah di seluruh dunia di masa depan.
Menurutnya, krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati bukanlah masalah yang hanya menjadi tanggung jawab menteri iklim dan lingkungan, melainkan seluruh pihak yang berwenang.
"Ini adalah tantangan penting bagi warga negara kita, perekonomian kita, kebijakan luar negeri kita, dan keamanan nasional kita," katanya.
Dalam pertemuan itu, Miliband mempresentasikan penelitian yang menunjukkan bahwa runtuhnya ekosistem global seperti di hutan hujan Amazon dan Kongo akibat krisis iklim dan kerusakan alam, akan berdampak pada keamanan nasional di seluruh dunia.
Nantinya, ia akan menunjuk perwakilan khusus baru untuk keamanan iklim, yang akan menangani risiko keamanan dan ketahanan nasional terhadap perubahan iklim dan kerusakan alam, yang beranggotakan para ahli militer serta pakar iklim.
Inggris juga akan menyumbang 330 juta poundsterling (Rp7,82 triliun) untuk Global Environment Facility untuk melindungi alam, yang akan dialokasikan untuk melindungi hutan, lautan, dan ekosistem penting lainnya di negara-negara berkembang.
"Negara-negara yang siap menghadapi masa depan adalah negara-negara yang memandang iklim dan alam sebagai bagian internal dari keamanan ekonomi dan nasional," ungkap Miliband.
Menurutnya, negara-negara harus mengantisipasi risiko dan berinvestasi dalam ketahanan sebelum krisis melanda, memanfaatkan peluang luar biasa yang ditawarkan oleh transisi energi bersih, serta mengambil tindakan lain berdasarkan hal tersebut.
"Itulah mengapa Inggris menempatkan keamanan iklim dan alam sebagai inti dari pengambilan keputusan keamanan nasional dan kebijakan luar negeri kami," tambahnya.
Pertemuan tertutup para menteri luar negeri itu diadakan setelah Miliband menyampaikan pidato publik pada hari Senin (21/9) di Majelis Umum PBB yang menyinggung hubungan antara iklim dan keamanan nasional.

