LAPORAN DARI CHINA

7 Hari 'Berkelana' Melihat Langsung China Membangun Masa Depan

Titin Rosmasari & Teddy Zuhary | CNN Indonesia
Minggu, 27 Sep 2026 08:06 WIB
Kota Shanghai di malam hari.
Pengalaman tujuh hari menyaksikan langsung bagaimana China yang tak hanya membangun industrinya, namun juga menyiapkan masa depan. (Foto: Pixabay/adonlinepromo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ada pepatah: "Kalau mau lihat China 100 tahun lalu, pergi ke Beijing. Kalau mau lihat China hari ini, pergi ke Shanghai."

Kunjungan kami ke China di pertengahan September 2026, rasanya tidak tepat untuk menggambarkan kota Beijing saat ini. Lewat satu dekade saat kami mengunjunginya, Beijing kini sangat berubah. Maju dan modern.

Bukan sekadar pemandangan yang berubah. Bukan hanya gedung baru yang menjulang lebih tinggi, jalanan yang lebih lebar, atau kota yang lebih rapi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat kembali ke negara itu setelah bertahun-tahun, hal yang sungguh mengubah pandangan saya bukanlah kemewahan yang tampak mata, melainkan keteguhan arah.

Di sini, masa depan tidak dibiarkan terjadi begitu saja. Ia direncanakan dengan matang, diperjuangkan bertahap, dan diwujudkan dengan konsisten.

Memenuhi undangan Kedutaan Besar China untuk Indonesia, selama tujuh hari bersama beberapa pemimpin redaksi media nasional, kami menyusuri dua kota terpenting di China. Beijing, pusat adminstrasi, politik dan kebudayaan, serta Shanghai, jantung ekonomi dan perdagangan modern.

Kunjungan yang singkat, namun kami melihat, mendengar, dan menyaksikan langsung bagaimana sebuah bangsa berpenduduk lebih dari 1,4 miliar jiwa membangun fondasi kemajuannya. Mulai dari perencanaan kota untuk puluhan tahun ke depan, industri yang bertekad menguasai teknologi dari akarnya, kecerdasan buatan yang penggunaannya sampai ke ladang dan kolam ikan.

Beijing, kawasan kumuh ke kota masa depan

Di distrik Tongzhou, yang dulunya dulunya kawasan kumuh, tempat pembuangan sampah dan macet, tengah dibangun Pusat Adminstrasi Kota Beijing atau Beijing Municipal Adminstrative Center (BMC). Tongzhou berjarak sekitar 30 km dari pusat kota Beijing.

Di mulai pada 2016, pemerintah China memulai pembangunan yang menjadi bagian strategi pembangunan terpadu Kawasan Beijing - Tianjin - Hebei yang tujuannya meringakan beban fungsi non ibukota yang sebelumnya menumpuk di Kawasan pusat. BMC dibangun dengan luas 155 km persegi atau 6 kali Jakarta Pusat, dan menelan investasi awal 120 miliar Yuan.

Ini bukan pindah kantor biasa. Aturannya, semua gedung wajib green building bintang 3 atau standar tertinggi China, 100 persen energi dari angin dan surya, dan transportasi wajib subway.

BMC dibangun dengan standar internasional dengan mengusung tema 'Kota masa depan yang hijau, rendah karbon, cerdas dan layak huni.'. Di dalam Kawasan, Sebagian sudah berfungsi. Mulai dari layanan publik, Kawasan wisata, bahkan dibangun Universal Studio, juga dibuat klaster ekonomi digital dan keuangan modern.

Akhir tahun 2026 ini, BMC ditargetkan tuntas. Melihat progres pembangunannya, pihak pengelola memastikan semua berjalan sesuai perencanaan.

Kota bisa menjadi kumpulan beton, tanpa jiwa. Maka 2 km dari pusat Kota baru tersebut, dibangun Beijing City Library.

Beijing City Library , Tongzhou, Beijing, ChinaBeijing City Library , Tongzhou, Beijing, China Foto: Dok. Istimewa

Perpustakaan mewah dalam Hutan Pengetahuan

Kalau tidak masuk ke dalam bangunannya, banyak yang tidak menyangka ini adalah perpustakaan. Sekilas dari luar, bangunan ini terlihat seperti pusat perbelanjaan atau bahkan gedung seni kelas dunia. Dinding kaca 30 meter, 200 pilar putih menjulang seperti batang bambu raksasa.

Dan atap berbentuk daun ginkgo yang berlubang-lubang. Cahaya matahari tumpah seperti di hutan pagi. Arsiteknya Snohetta dari Norwegia, yang juga membuat Opera House Oslo.

Mengusung konsep "Hutan Pengetahuan', ruang baca menjadi tempat yang nyaman untuk siapapun.

Fasilitasnya dirancang untuk kenyamanan semua orang, sistem peminjaman dan pengembalian buku, sepenuhnya mandiri. Setiap meja belajar dilengkapi colokan listrik dan akses internet, koleksinya mencakup karya-karya pemenang penghargaan dari berbagai bidang ilmu.

Terletak di kawasan Taman Lvxun, perpustakaan ini buka setiap hari pukul 10 pagi hingga 8 malam, kecuali hari Senin, menyambut siapa saja yang haus akan ilmu.

Dengan koleksi 8 juta buku, Beijing City Library yang ruang bacanya seluas 42.000 m2 tercatat di Guinness World Record sebagai yang terbesar di dunia. Yang menarik pula, sistem perpustakaan di seluruh Beijing sudah terintegasi. Peminjam buku, tidak harus datang ke perpustakaan awal ia meminjam, namun bisa mengembalikan ke perpustakaan yang terkoneksi.

Kehadiran bangunan ini menjadi pesan yang tak terucapkan namun sangat jelas, gedung paling megah di kota ini bukan pusat belanja, melainkan tempat untuk belajar. Di tempat yang menjadi pusat kecerdasan dan harapan masa depan.

Robot 'bersekolah' di Shijingshan

Di kawasan Shijingshan, bagian barat Beijing, kami menyaksikan sesuatu yang mengubah cara pandang tentang kecerdasan buatan dan masa depan pekerjaan. Di Pusat Pelatihan Data Robot Humanoid, robot-robot tidak sekadar diprogram untuk melakukan tugas, mereka benar-benar "dilatih", seolah-olah sedang bersekolah.

Namanya Humanoid Robot Data Training Center.

Mengambil benda, menggenggamnya, memindahkan dari satu tempat ke tempat lain, merapikan tempat tidur, hingga menuangkan air dari teko ke gelas. Ini gerakan yang bagi manusia dilakukan dalam hitungan detik, namun bagi robot butuh latihan ribuan kali.

Setiap gerakan direkam, dianalisis, diperbaiki, lalu diulang lagi. Tujuannya bukan agar robot menghafal urutan gerakan, melainkan agar mereka beradaptasi, menyesuaikan diri jika benda yang dipegang berbeda bentuk, berat, atau posisinya berubah sedikit saja.

"Sekolah Robot" - Pusat Pelatihan Data Robot Humanoid di Distrik Shijingshan. Foto: Dok. Istimewa

Inilah yang disebut Kecerdasan Berwujud  alias Embodied Intelligence, kemampuan memahami dunia fisik melalui interaksi langsung, persis seperti cara anak kecil belajar berjalan dan memegang benda.

Prinsip Kecerdasan Berwujud pengembangan dari Artificial Intelligence (AI). AI lama seperti ChatGPT hanya pintar di otak. Sementara AI baru, harus pintar di badan.

Faktanya, untuk membuat robot bisa melipat handuk dengan benar, paham bedanya handuk basah dan kering, butuh 3.000 kali pengulangan gerakan manusia. Satu gerakan memerlukan ribuan data yang disuntikkan ke software robot tersebut.

Hingga Mei 2026, pusat ini telah mengoperasikan hampir 270 unit robot secara penuh, menghasilkan 20 juta data per tahun. Angka ini disebut terus bertambah, seiring perluasan fasilitas.

Kunjungan di Humanoid Robot Data Training Center ini memberi pesan yang mendalam, persaingan teknologi ke depan bukan soal siapa yang bisa membuat robot saja, melainkan siapa yang punya data, talent, dan ekosistem memproduksi robot yang pintar.

Mengimpor robot mungkin bisa dilakukan siapa saja. Namun yang memahami cara robot bekerja untuk masa depan, adalah pemilik masa depan.

Lanjut baca halaman berikutnya Xiaomi hingga Dracin....

Mobil EV Xiaomi hingga Cuan Dracin Penguras Air Mata BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2