7 Hari 'Berkelana' Melihat Langsung China Membangun Masa Depan
Titin Rosmasari & Teddy Zuhary | CNN Indonesia
Minggu, 27 Sep 2026 08:06 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pengalaman tujuh hari menyaksikan langsung bagaimana China yang tak hanya membangun industrinya, namun juga menyiapkan masa depan. (Foto: Pixabay/adonlinepromo)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ada pepatah: "Kalau mau lihat China 100 tahun lalu, pergi ke Beijing. Kalau mau lihat China hari ini, pergi ke Shanghai."
Kunjungan kami ke China di pertengahan September 2026, rasanya tidak tepat untuk menggambarkan kota Beijing saat ini. Lewat satu dekade saat kami mengunjunginya, Beijing kini sangat berubah. Maju dan modern.
Bukan sekadar pemandangan yang berubah. Bukan hanya gedung baru yang menjulang lebih tinggi, jalanan yang lebih lebar, atau kota yang lebih rapi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat kembali ke negara itu setelah bertahun-tahun, hal yang sungguh mengubah pandangan saya bukanlah kemewahan yang tampak mata, melainkan keteguhan arah.
Di sini, masa depan tidak dibiarkan terjadi begitu saja. Ia direncanakan dengan matang, diperjuangkan bertahap, dan diwujudkan dengan konsisten.
Memenuhi undangan Kedutaan Besar China untuk Indonesia, selama tujuh hari bersama beberapa pemimpin redaksi media nasional, kami menyusuri dua kota terpenting di China. Beijing, pusat adminstrasi, politik dan kebudayaan, serta Shanghai, jantung ekonomi dan perdagangan modern.
Kunjungan yang singkat, namun kami melihat, mendengar, dan menyaksikan langsung bagaimana sebuah bangsa berpenduduk lebih dari 1,4 miliar jiwa membangun fondasi kemajuannya. Mulai dari perencanaan kota untuk puluhan tahun ke depan, industri yang bertekad menguasai teknologi dari akarnya, kecerdasan buatan yang penggunaannya sampai ke ladang dan kolam ikan.
Beijing, kawasan kumuh ke kota masa depan
Di distrik Tongzhou, yang dulunya dulunya kawasan kumuh, tempat pembuangan sampah dan macet, tengah dibangun Pusat Adminstrasi Kota Beijing atau Beijing Municipal Adminstrative Center (BMC). Tongzhou berjarak sekitar 30 km dari pusat kota Beijing.
Di mulai pada 2016, pemerintah China memulai pembangunan yang menjadi bagian strategi pembangunan terpadu Kawasan Beijing - Tianjin - Hebei yang tujuannya meringakan beban fungsi non ibukota yang sebelumnya menumpuk di Kawasan pusat. BMC dibangun dengan luas 155 km persegi atau 6 kali Jakarta Pusat, dan menelan investasi awal 120 miliar Yuan.
Ini bukan pindah kantor biasa. Aturannya, semua gedung wajib green building bintang 3 atau standar tertinggi China, 100 persen energi dari angin dan surya, dan transportasi wajib subway.
BMC dibangun dengan standar internasional dengan mengusung tema 'Kota masa depan yang hijau, rendah karbon, cerdas dan layak huni.'. Di dalam Kawasan, Sebagian sudah berfungsi. Mulai dari layanan publik, Kawasan wisata, bahkan dibangun Universal Studio, juga dibuat klaster ekonomi digital dan keuangan modern.
Akhir tahun 2026 ini, BMC ditargetkan tuntas. Melihat progres pembangunannya, pihak pengelola memastikan semua berjalan sesuai perencanaan.
Kota bisa menjadi kumpulan beton, tanpa jiwa. Maka 2 km dari pusat Kota baru tersebut, dibangun Beijing City Library.
Beijing City Library , Tongzhou, Beijing, China Foto: Dok. Istimewa
Perpustakaan mewah dalam Hutan Pengetahuan
Kalau tidak masuk ke dalam bangunannya, banyak yang tidak menyangka ini adalah perpustakaan. Sekilas dari luar, bangunan ini terlihat seperti pusat perbelanjaan atau bahkan gedung seni kelas dunia. Dinding kaca 30 meter, 200 pilar putih menjulang seperti batang bambu raksasa.
Dan atap berbentuk daun ginkgo yang berlubang-lubang. Cahaya matahari tumpah seperti di hutan pagi. Arsiteknya Snohetta dari Norwegia, yang juga membuat Opera House Oslo.
Mengusung konsep "Hutan Pengetahuan', ruang baca menjadi tempat yang nyaman untuk siapapun.
Fasilitasnya dirancang untuk kenyamanan semua orang, sistem peminjaman dan pengembalian buku, sepenuhnya mandiri. Setiap meja belajar dilengkapi colokan listrik dan akses internet, koleksinya mencakup karya-karya pemenang penghargaan dari berbagai bidang ilmu.
Terletak di kawasan Taman Lvxun, perpustakaan ini buka setiap hari pukul 10 pagi hingga 8 malam, kecuali hari Senin, menyambut siapa saja yang haus akan ilmu.
Dengan koleksi 8 juta buku, Beijing City Library yang ruang bacanya seluas 42.000 m2 tercatat di Guinness World Record sebagai yang terbesar di dunia. Yang menarik pula, sistem perpustakaan di seluruh Beijing sudah terintegasi. Peminjam buku, tidak harus datang ke perpustakaan awal ia meminjam, namun bisa mengembalikan ke perpustakaan yang terkoneksi.
Kehadiran bangunan ini menjadi pesan yang tak terucapkan namun sangat jelas, gedung paling megah di kota ini bukan pusat belanja, melainkan tempat untuk belajar. Di tempat yang menjadi pusat kecerdasan dan harapan masa depan.
Robot 'bersekolah' di Shijingshan
Di kawasan Shijingshan, bagian barat Beijing, kami menyaksikan sesuatu yang mengubah cara pandang tentang kecerdasan buatan dan masa depan pekerjaan. Di Pusat Pelatihan Data Robot Humanoid, robot-robot tidak sekadar diprogram untuk melakukan tugas, mereka benar-benar "dilatih", seolah-olah sedang bersekolah.
Namanya Humanoid Robot Data Training Center.
Mengambil benda, menggenggamnya, memindahkan dari satu tempat ke tempat lain, merapikan tempat tidur, hingga menuangkan air dari teko ke gelas. Ini gerakan yang bagi manusia dilakukan dalam hitungan detik, namun bagi robot butuh latihan ribuan kali.
Setiap gerakan direkam, dianalisis, diperbaiki, lalu diulang lagi. Tujuannya bukan agar robot menghafal urutan gerakan, melainkan agar mereka beradaptasi, menyesuaikan diri jika benda yang dipegang berbeda bentuk, berat, atau posisinya berubah sedikit saja.
"Sekolah Robot" - Pusat Pelatihan Data Robot Humanoid di Distrik Shijingshan. Foto: Dok. Istimewa
Inilah yang disebut Kecerdasan Berwujud alias Embodied Intelligence, kemampuan memahami dunia fisik melalui interaksi langsung, persis seperti cara anak kecil belajar berjalan dan memegang benda.
Prinsip Kecerdasan Berwujud pengembangan dari Artificial Intelligence (AI). AI lama seperti ChatGPT hanya pintar di otak. Sementara AI baru, harus pintar di badan.
Faktanya, untuk membuat robot bisa melipat handuk dengan benar, paham bedanya handuk basah dan kering, butuh 3.000 kali pengulangan gerakan manusia. Satu gerakan memerlukan ribuan data yang disuntikkan ke software robot tersebut.
Hingga Mei 2026, pusat ini telah mengoperasikan hampir 270 unit robot secara penuh, menghasilkan 20 juta data per tahun. Angka ini disebut terus bertambah, seiring perluasan fasilitas.
Kunjungan di Humanoid Robot Data Training Center ini memberi pesan yang mendalam, persaingan teknologi ke depan bukan soal siapa yang bisa membuat robot saja, melainkan siapa yang punya data, talent, dan ekosistem memproduksi robot yang pintar.
Mengimpor robot mungkin bisa dilakukan siapa saja. Namun yang memahami cara robot bekerja untuk masa depan, adalah pemilik masa depan.
Lanjut baca halaman berikutnya Xiaomi hingga Dracin....
Xiaomi dan seribu mobil listrik sehari
Di Kawasan Yizhuang, Beijing, kami menyaksikan salah satu lompatan yang dilakukan produsen ponsel pintar Xiaomi. Mereka sedang menunjukkan kemampuannya di bidang otomotif. Xiaomi ikut meramaikan kedigdayaan negeri Tiongkok di industri otomotif dunia.
Berkunjung di salah satu pabriknya, di atas lahan 720.000 meter per-segi, kita tidak melihat pabrik mobil yang mungkin kebanyakan terlihat kotor, berisik dan banyak pekerja. Di pabrik ini, suasana tenang, bersih dan sedikit sekali kami melihat pekerja manusia.
Pengunjung diajak keliling pabrik dengan mengunakan boogie car dengan seorang supir dan seorang petugas. Kami masuk ke bagian depan tertulis "Body Shop".
Iya, ini adalah bagian yang khusus merangkai dan merakit bodi kendaraan. Sebelum masuk, kita dipastikan memahami aturan untuk tidak memotret dan memvideokan selama di dalam pabrik. Tentu dipahami, bahwa sistem dan teknologi yang sedang dikembangkan Xiaomi sangat mahal dan berharga.
Di lantai produksi, terlihat lalu lalang kendaraan yang membawa bagian badan mobil. Bukan supir. Semuanya robot. Pun demikian tempat-tempat pemasangan komponen mobil. Hanya terlihat beberapa pekerja pengawas. Ada lebih dari 700 lengan robot bergerak teratur, presisi, dan tenang. Menyambung rangka, memasang komponen, dan seterusnya.
Di dalam ruangan ini, robot yang lalu lalang mengangkut body part mobil itu dilengkapi suara musik. Bunyinya, persis suara alunan musik ceria di wahana bermain anak.
Saya membatin, "mungkin supaya manusia yang berkerja mengawasinya, merasa seperti sedang bermain, agar rasa senang tetap ada saat bekerja "
Mobil listrik Xiaomi SU7 Ultra-Sedan listrik Performa Tinggi (high-performance electric sedan). Sport Sedan dengan konfigurasi 4 pintu. Foto: Dok. Istimewa
Dalam satu hari, pabrik ini dapat memproduksi 1.000 mobil. Yang kami lihat saat itu dirakit adalah jenis mobil listrik Xiaomi SU7. Sedan listrik berperforma tinggi atau sport sedan dengan konfigurasi 4 pintu.
Yang membedakan dengan produsen lain, adanya personalisasi pada pemesanan. Meski diproduksi secara masal, robot dapat memastikan yang dibuat adalah sesuai pesanan pembeli. Produsen ini memastikan pemesan menerima mobilnya sesuai pesanannya, baik warna mobil, jenis jok dan fitur tambahan.
Dengan merambah ke otomotif, Xiaomi menginvestasikan riset dan pengembangan sebesar 105, 5 milliar Yuan. Sejauh ini terkait kecerdasan, Xiomi sudah memiliki 45.000 paten.
Dari data yang dirangkum, pendapatan perusahaan tumbuh dari 100 miliar Yuan (2017) menjadi 457,3 miliar Yuan (2025)
Saat pengenalan mobil-mobilnya, di bagian showroom, pengunjung diperlihatkan teknologi yang terhubung ke ekosistem: ponsel pintar, rumah pintar dan mobil pintar. Dari kendaraan, pemilik dapat memberikan perintah perangkat di rumahnya bekerja sesuai yang diminta.
Mulai dari menyalakan lampu rumah, AC, menutup atau membuka gorden, bahkan merapihkan dan membersihkan lantai. Semuanya saling terhubung dalam satu genggaman. Bagi Xiaomi, mobil bukan sekadar alat transportasi. Ini adalah gawai cerdas yang diberi roda.
Bagaimana AI mengubah nasib peternak ikan?
Pengembangan AI dan Teknologi di China bukan hanya domain perusahaan IT dan AI. Kampus juga berlomba membuat teknologi yang modern dan berguna untuk industri pertanian-perikanan.
Kampus ikut menjadi ujung tombak pengembangan perikanan-pertanian yang dapat memberi dampak ekonomi yang tinggi untuk negara.
Di Pusat Inovasi Perikanan Digital, Universitas Pertanian Tiongkok (CAU), sistem cerdas mengubah cara memelihara ikan secara menyeluruh, dari pemberian pakan otomatis, pemantauan kualitas air secara langsung, hingga analisis perilaku ikan menggunakan kamera bawah air. Semuanya menggunakan kecerdasan buatan.
Terobosan dari kampus ini yang paling utama adalah keberhasilan kampus membuat sistem sensor panoramic multidimensi, termasuk sensor kualitas air berpresisi tinggi, tahan lama dan berbiaya rendah. Dengan sistem sensor ini, China tidak lagi tergantung pada pasar internasional yang selama ini dikuasai produk dan merek Eropa dan Amerika.
Di beberapa sudut ruang kerja peneliti, kami melihat beberapa robot berbentuk ikan. Dari beberapa jenis ikan. Ini adalah robot inspeksi keramba jaring dan robot pembersih bawah air.
Salah satu dari kami yang berkunjung berkelakar, " ikan robot itu pasti tugasnya sebagai ikan gembala."
Wakil dari kampus mengajak kami melihat kolam mereka. Kolam cukup besar dengan dinding transparan. Diperlihatkan semua sistem terkoneksi. Untuk kecukupan dan kualitas air. Air kotor pembuangan kolam tidak dibuang percuma. Ada pipa yang mengalir ke rak panjang tempat menanam sayuran hidroponik.
Sayuran seperti pokcoy dan lainnya terlihat segar dengan akar yang menjuntai ke aliran air pembuangan dari kolam ikan.
Dengan menggunakan AI, hasil perikanan berbasis budidaya ini memberikan hasil yang sungguh mencengangkan.
Ilustrasi Caviar. (Photo by Anthony WALLACE / AFP) / TO GO WITH HongKong-China-lifestyle-food-gender,INTERVIEW by Jerome TAYLOR Foto: AFP/ANTHONY WALLACE
Produktivitas naik 80-90 persen dibanding cara konvensional. Satu meter kubik air yang dulu hanya mampu memelihara 2 kg ikan, kini mampu 70-80 kg.
Yang penting juga, teknologi ini dikembangkan untuk komoditas bernilai tinggi. Seperti ikan sturgeon, yang telurnya, caviar, bernilai jual tinggi. Selain sturgeon, pihak kampus juga mengembangkan budidaya ikan dengan pasar ekspor seperti salmon dan kerapu.
Ada misi penting dan mulia dari mahasiswa dan peneliti di kampus ini, yaitu membantu para petani/peternak ikan, agar mampu mengelola dan membudidaya ikan dengan bantuan teknologi.
Inilah wajah kemajuan yang paling nyata. Ketika kampus menciptakan teknologi dan kecerdasan buatan yang tidak hanya melayani pabrik dan industri besar, tapi juga dapat mensejahterakan petani dan mereka yang memiliki tempat produksi terbatas, seperti kolam-kolam di kampus ini.
AI, kolam air payau dan nol limbah
Penggunaan AI juga kita temui di Chongming. Lokasi yang kita tempuh 1 sampai 1,5 jam lewat perjalanan darat dari Shanghai. Namanya Puye Town Fishery-PV Digital Base.
Bila melihat dari atas atau menggunakan drone, Kawasan ini seperti danau kaca hitam seluas 2.200 hektar. Di sini ada 200.000 panel surya setinggi 3 meter menghasilkan 140 juta kWh per tahun. Dengan kapasitas 100 MW, cukup untuk 60.000 rumah. Produksi listrik mereka jual ke pemerintah.
Tidak hanya soal listrik, di bawah panel surya juga ada kolam-kolam air payau memelihara lima komoditas paling mahal. Seperti Kepiting Bulu Chongming yang harganya Rp 500.000 per ekor di restoran Shanghai, Ikan Bass, Silver Perch Australia, hingga Udang Vaname.
Yang menarik juga, cara mereka mengelola air limbah perikanan. Airnya tidak dibuang. Limbah ikan dialirkan ke kolam biofilter, disaring bakteri, lalu air bersihnya dipakai kembali. Sistem tertutup, nol limbah.
Di bandingkan dengan petani tradisonal, petani di sini tidak lagi melihat cuaca. Mereka memantaunya lewat dashboard yang berisi informasi seperti suhu air, pH, oksigen, termasuk harga listrik hari ini. Jadi, petani selain menjual listrik, mereka juga menjual kepiting dan hasil budidaya perikanan lainnya.
Di gedung tanpa plang di Shanghai, kami bertemu orang-orang yang berada di belakang layar bisnis menjual air mata. di Tanah Air mungkin orang mengenalnya sebagai Dracin alias Drama China.
Kantor DramaBox di Shanghai adalah semacam kantor cabang. Kantor pusatnya ada di Singapura. Selain di Shanghai, ada juga kantor cabang di belahan dunia lain, seperti di AS. Ada banyak pekerja seni dengan berbagai latar belakang negara. Ada yang menemui kami, asalnya dari Indonesia.
Berbicara dengan tim DramaBox, makin yakin bila bisnis ini tidak boleh disepelekan. Meski ini perusahan industri kreatif, tamu tidak diijinkan mengambil gambar di dalam kantor. Meski demikian, tim yang kami temui sangat terbuka menjawab semua pertanyaan. Bahkan kami bicara dengan perwakilan DramaBox di AS lewat online. Marlene, Namanya. Asal dari Argentina.
Ia bercerita tentang kiat dan formula drama berdurasi pendek, 2 menit, namun menjadi hiburan dan candu untuk penggemar drama percintaan yang diakses lewat aplikasi ini.
Produk DramaBox adalah Mini Drama. 90 detik per episode, total 60-80 episode. Cerita klise yang adiktif : CEO menyamar jadi satpam, istri disiram mertua, balas dendam miliarder. Atau perempuan miskin yang kemudian diperistri pria tampan yang kaya raya.
Industrinya meledak. Pada 2024 nilainya masih 50 miliar Yuan atau sekitar Rp113 triliun. Sementara 2026 diprediksi 180 miliar Yuan atau sekitar Rp425 triliun, menyalip total box office film bioskop China.
Diskusi di Kantor DramaBox - Beijing Foto: Dok. Istimewa
Semua diproduksi dengan dan dibantu AI. Naskah ditulis AI dalam 2 jam dari 10.000 naskah terlaris. Casting dipilih AI berdasar wajah yang paling diklik penggemarnya.
Trailer dipotong 20 versi oleh AI, diuji mana yang paling membuat orang mau membayar di 3 detik pertama. Satu drama, jadi hanya dalam 7 hari. Dari ide sampai tayang di 150 negara.
DramaBox masih terus memperluas jaring bisnisnya ke mancanegara. Termasuk bekerja sama dengan produser atau mitra lain di berbagai negara.
Indonesia termasuk pasar DramaBox yang besar dan potensial. Saat ditanya, apakah akan segera membangun kantor cabang dan berpoduksi di Indonesia. Tim DramaBox menjawab: "Itu sangat dimungkinkan."
Dalam DramaBox, cerita mirip dan berulang. Casting dan aktor serta aktris sama, meski cerita berbeda. Formula DramaBox sebenarnya sama dengan opera sabun, telenovela dan drama-drama lain yang pernah meledak di Tanah Air lewat layar kaca.
Hanya kini layarnya mengecil, seukuran layar HP. Yang berbeda dan terus dikembangkan Dramabox, penggunaan AI makin diperluas. Semakin banyak cerita yang dibuat AI, semakin banyak pemainnya juga buatan AI.
Pulang dari China, kami tentu belum bisa membuat robot, apalagi meminta robot membawakan koper yang berisi pakaian serta oleh-oleh. Tapi perjalanan ini meninggalkan kekaguman sekaligus pertanyaan, sejauh mana Indonesia ingin membangun masa depannya sendiri.
Tentu kami juga ingin bisa melihat dan merasakan kebanggaan, seperti yang dirasakan warga Beijing hingga Shanghai.
Quotes Xi Jinping Foto: Dok. Istimewa
Di salah satu dinding dalam gedung Shanghai Urban Planning Exhibition Center yang juga kami kunjungi, saya membaca dan mengagumi kalimat dari pemimpin China Xi Jinping.
Dan kutipan dari pemimpin 'Negeri Tirai Bambu' itu, makin lama makin terasa merasuk sanubari.
Jakarta, CNN Indonesia --
Ada pepatah: "Kalau mau lihat China 100 tahun lalu, pergi ke Beijing. Kalau mau lihat China hari ini, pergi ke Shanghai."
Kunjungan kami ke China di pertengahan September 2026, rasanya tidak tepat untuk menggambarkan kota Beijing saat ini. Lewat satu dekade saat kami mengunjunginya, Beijing kini sangat berubah. Maju dan modern.
Bukan sekadar pemandangan yang berubah. Bukan hanya gedung baru yang menjulang lebih tinggi, jalanan yang lebih lebar, atau kota yang lebih rapi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat kembali ke negara itu setelah bertahun-tahun, hal yang sungguh mengubah pandangan saya bukanlah kemewahan yang tampak mata, melainkan keteguhan arah.
Di sini, masa depan tidak dibiarkan terjadi begitu saja. Ia direncanakan dengan matang, diperjuangkan bertahap, dan diwujudkan dengan konsisten.
Memenuhi undangan Kedutaan Besar China untuk Indonesia, selama tujuh hari bersama beberapa pemimpin redaksi media nasional, kami menyusuri dua kota terpenting di China. Beijing, pusat adminstrasi, politik dan kebudayaan, serta Shanghai, jantung ekonomi dan perdagangan modern.
Kunjungan yang singkat, namun kami melihat, mendengar, dan menyaksikan langsung bagaimana sebuah bangsa berpenduduk lebih dari 1,4 miliar jiwa membangun fondasi kemajuannya. Mulai dari perencanaan kota untuk puluhan tahun ke depan, industri yang bertekad menguasai teknologi dari akarnya, kecerdasan buatan yang penggunaannya sampai ke ladang dan kolam ikan.
Beijing, kawasan kumuh ke kota masa depan
Di distrik Tongzhou, yang dulunya dulunya kawasan kumuh, tempat pembuangan sampah dan macet, tengah dibangun Pusat Adminstrasi Kota Beijing atau Beijing Municipal Adminstrative Center (BMC). Tongzhou berjarak sekitar 30 km dari pusat kota Beijing.
Di mulai pada 2016, pemerintah China memulai pembangunan yang menjadi bagian strategi pembangunan terpadu Kawasan Beijing - Tianjin - Hebei yang tujuannya meringakan beban fungsi non ibukota yang sebelumnya menumpuk di Kawasan pusat. BMC dibangun dengan luas 155 km persegi atau 6 kali Jakarta Pusat, dan menelan investasi awal 120 miliar Yuan.
Ini bukan pindah kantor biasa. Aturannya, semua gedung wajib green building bintang 3 atau standar tertinggi China, 100 persen energi dari angin dan surya, dan transportasi wajib subway.
BMC dibangun dengan standar internasional dengan mengusung tema 'Kota masa depan yang hijau, rendah karbon, cerdas dan layak huni.'. Di dalam Kawasan, Sebagian sudah berfungsi. Mulai dari layanan publik, Kawasan wisata, bahkan dibangun Universal Studio, juga dibuat klaster ekonomi digital dan keuangan modern.
Akhir tahun 2026 ini, BMC ditargetkan tuntas. Melihat progres pembangunannya, pihak pengelola memastikan semua berjalan sesuai perencanaan.
Kota bisa menjadi kumpulan beton, tanpa jiwa. Maka 2 km dari pusat Kota baru tersebut, dibangun Beijing City Library.
Beijing City Library , Tongzhou, Beijing, China Foto: Dok. Istimewa
Perpustakaan mewah dalam Hutan Pengetahuan
Kalau tidak masuk ke dalam bangunannya, banyak yang tidak menyangka ini adalah perpustakaan. Sekilas dari luar, bangunan ini terlihat seperti pusat perbelanjaan atau bahkan gedung seni kelas dunia. Dinding kaca 30 meter, 200 pilar putih menjulang seperti batang bambu raksasa.
Dan atap berbentuk daun ginkgo yang berlubang-lubang. Cahaya matahari tumpah seperti di hutan pagi. Arsiteknya Snohetta dari Norwegia, yang juga membuat Opera House Oslo.
Mengusung konsep "Hutan Pengetahuan', ruang baca menjadi tempat yang nyaman untuk siapapun.
Fasilitasnya dirancang untuk kenyamanan semua orang, sistem peminjaman dan pengembalian buku, sepenuhnya mandiri. Setiap meja belajar dilengkapi colokan listrik dan akses internet, koleksinya mencakup karya-karya pemenang penghargaan dari berbagai bidang ilmu.
Terletak di kawasan Taman Lvxun, perpustakaan ini buka setiap hari pukul 10 pagi hingga 8 malam, kecuali hari Senin, menyambut siapa saja yang haus akan ilmu.
Dengan koleksi 8 juta buku, Beijing City Library yang ruang bacanya seluas 42.000 m2 tercatat di Guinness World Record sebagai yang terbesar di dunia. Yang menarik pula, sistem perpustakaan di seluruh Beijing sudah terintegasi. Peminjam buku, tidak harus datang ke perpustakaan awal ia meminjam, namun bisa mengembalikan ke perpustakaan yang terkoneksi.
Kehadiran bangunan ini menjadi pesan yang tak terucapkan namun sangat jelas, gedung paling megah di kota ini bukan pusat belanja, melainkan tempat untuk belajar. Di tempat yang menjadi pusat kecerdasan dan harapan masa depan.
Robot 'bersekolah' di Shijingshan
Di kawasan Shijingshan, bagian barat Beijing, kami menyaksikan sesuatu yang mengubah cara pandang tentang kecerdasan buatan dan masa depan pekerjaan. Di Pusat Pelatihan Data Robot Humanoid, robot-robot tidak sekadar diprogram untuk melakukan tugas, mereka benar-benar "dilatih", seolah-olah sedang bersekolah.
Namanya Humanoid Robot Data Training Center.
Mengambil benda, menggenggamnya, memindahkan dari satu tempat ke tempat lain, merapikan tempat tidur, hingga menuangkan air dari teko ke gelas. Ini gerakan yang bagi manusia dilakukan dalam hitungan detik, namun bagi robot butuh latihan ribuan kali.
Setiap gerakan direkam, dianalisis, diperbaiki, lalu diulang lagi. Tujuannya bukan agar robot menghafal urutan gerakan, melainkan agar mereka beradaptasi, menyesuaikan diri jika benda yang dipegang berbeda bentuk, berat, atau posisinya berubah sedikit saja.
"Sekolah Robot" - Pusat Pelatihan Data Robot Humanoid di Distrik Shijingshan. Foto: Dok. Istimewa
Inilah yang disebut Kecerdasan Berwujud alias Embodied Intelligence, kemampuan memahami dunia fisik melalui interaksi langsung, persis seperti cara anak kecil belajar berjalan dan memegang benda.
Prinsip Kecerdasan Berwujud pengembangan dari Artificial Intelligence (AI). AI lama seperti ChatGPT hanya pintar di otak. Sementara AI baru, harus pintar di badan.
Faktanya, untuk membuat robot bisa melipat handuk dengan benar, paham bedanya handuk basah dan kering, butuh 3.000 kali pengulangan gerakan manusia. Satu gerakan memerlukan ribuan data yang disuntikkan ke software robot tersebut.
Hingga Mei 2026, pusat ini telah mengoperasikan hampir 270 unit robot secara penuh, menghasilkan 20 juta data per tahun. Angka ini disebut terus bertambah, seiring perluasan fasilitas.
Kunjungan di Humanoid Robot Data Training Center ini memberi pesan yang mendalam, persaingan teknologi ke depan bukan soal siapa yang bisa membuat robot saja, melainkan siapa yang punya data, talent, dan ekosistem memproduksi robot yang pintar.
Mengimpor robot mungkin bisa dilakukan siapa saja. Namun yang memahami cara robot bekerja untuk masa depan, adalah pemilik masa depan.
Lanjut baca halaman berikutnya Xiaomi hingga Dracin....
Mobil EV Xiaomi hingga Cuan Dracin Penguras Air Mata
Mobil Xiaomi. (Foto: REUTERS/Tingshu Wang)
Xiaomi dan seribu mobil listrik sehari
Di Kawasan Yizhuang, Beijing, kami menyaksikan salah satu lompatan yang dilakukan produsen ponsel pintar Xiaomi. Mereka sedang menunjukkan kemampuannya di bidang otomotif. Xiaomi ikut meramaikan kedigdayaan negeri Tiongkok di industri otomotif dunia.
Berkunjung di salah satu pabriknya, di atas lahan 720.000 meter per-segi, kita tidak melihat pabrik mobil yang mungkin kebanyakan terlihat kotor, berisik dan banyak pekerja. Di pabrik ini, suasana tenang, bersih dan sedikit sekali kami melihat pekerja manusia.
Pengunjung diajak keliling pabrik dengan mengunakan boogie car dengan seorang supir dan seorang petugas. Kami masuk ke bagian depan tertulis "Body Shop".
Iya, ini adalah bagian yang khusus merangkai dan merakit bodi kendaraan. Sebelum masuk, kita dipastikan memahami aturan untuk tidak memotret dan memvideokan selama di dalam pabrik. Tentu dipahami, bahwa sistem dan teknologi yang sedang dikembangkan Xiaomi sangat mahal dan berharga.
Di lantai produksi, terlihat lalu lalang kendaraan yang membawa bagian badan mobil. Bukan supir. Semuanya robot. Pun demikian tempat-tempat pemasangan komponen mobil. Hanya terlihat beberapa pekerja pengawas. Ada lebih dari 700 lengan robot bergerak teratur, presisi, dan tenang. Menyambung rangka, memasang komponen, dan seterusnya.
Di dalam ruangan ini, robot yang lalu lalang mengangkut body part mobil itu dilengkapi suara musik. Bunyinya, persis suara alunan musik ceria di wahana bermain anak.
Saya membatin, "mungkin supaya manusia yang berkerja mengawasinya, merasa seperti sedang bermain, agar rasa senang tetap ada saat bekerja "
Mobil listrik Xiaomi SU7 Ultra-Sedan listrik Performa Tinggi (high-performance electric sedan). Sport Sedan dengan konfigurasi 4 pintu. Foto: Dok. Istimewa
Dalam satu hari, pabrik ini dapat memproduksi 1.000 mobil. Yang kami lihat saat itu dirakit adalah jenis mobil listrik Xiaomi SU7. Sedan listrik berperforma tinggi atau sport sedan dengan konfigurasi 4 pintu.
Yang membedakan dengan produsen lain, adanya personalisasi pada pemesanan. Meski diproduksi secara masal, robot dapat memastikan yang dibuat adalah sesuai pesanan pembeli. Produsen ini memastikan pemesan menerima mobilnya sesuai pesanannya, baik warna mobil, jenis jok dan fitur tambahan.
Dengan merambah ke otomotif, Xiaomi menginvestasikan riset dan pengembangan sebesar 105, 5 milliar Yuan. Sejauh ini terkait kecerdasan, Xiomi sudah memiliki 45.000 paten.
Dari data yang dirangkum, pendapatan perusahaan tumbuh dari 100 miliar Yuan (2017) menjadi 457,3 miliar Yuan (2025)
Saat pengenalan mobil-mobilnya, di bagian showroom, pengunjung diperlihatkan teknologi yang terhubung ke ekosistem: ponsel pintar, rumah pintar dan mobil pintar. Dari kendaraan, pemilik dapat memberikan perintah perangkat di rumahnya bekerja sesuai yang diminta.
Mulai dari menyalakan lampu rumah, AC, menutup atau membuka gorden, bahkan merapihkan dan membersihkan lantai. Semuanya saling terhubung dalam satu genggaman. Bagi Xiaomi, mobil bukan sekadar alat transportasi. Ini adalah gawai cerdas yang diberi roda.
Bagaimana AI mengubah nasib peternak ikan?
Pengembangan AI dan Teknologi di China bukan hanya domain perusahaan IT dan AI. Kampus juga berlomba membuat teknologi yang modern dan berguna untuk industri pertanian-perikanan.
Kampus ikut menjadi ujung tombak pengembangan perikanan-pertanian yang dapat memberi dampak ekonomi yang tinggi untuk negara.
Di Pusat Inovasi Perikanan Digital, Universitas Pertanian Tiongkok (CAU), sistem cerdas mengubah cara memelihara ikan secara menyeluruh, dari pemberian pakan otomatis, pemantauan kualitas air secara langsung, hingga analisis perilaku ikan menggunakan kamera bawah air. Semuanya menggunakan kecerdasan buatan.
Terobosan dari kampus ini yang paling utama adalah keberhasilan kampus membuat sistem sensor panoramic multidimensi, termasuk sensor kualitas air berpresisi tinggi, tahan lama dan berbiaya rendah. Dengan sistem sensor ini, China tidak lagi tergantung pada pasar internasional yang selama ini dikuasai produk dan merek Eropa dan Amerika.
Di beberapa sudut ruang kerja peneliti, kami melihat beberapa robot berbentuk ikan. Dari beberapa jenis ikan. Ini adalah robot inspeksi keramba jaring dan robot pembersih bawah air.
Salah satu dari kami yang berkunjung berkelakar, " ikan robot itu pasti tugasnya sebagai ikan gembala."
Wakil dari kampus mengajak kami melihat kolam mereka. Kolam cukup besar dengan dinding transparan. Diperlihatkan semua sistem terkoneksi. Untuk kecukupan dan kualitas air. Air kotor pembuangan kolam tidak dibuang percuma. Ada pipa yang mengalir ke rak panjang tempat menanam sayuran hidroponik.
Sayuran seperti pokcoy dan lainnya terlihat segar dengan akar yang menjuntai ke aliran air pembuangan dari kolam ikan.
Dengan menggunakan AI, hasil perikanan berbasis budidaya ini memberikan hasil yang sungguh mencengangkan.
Ilustrasi Caviar. (Photo by Anthony WALLACE / AFP) / TO GO WITH HongKong-China-lifestyle-food-gender,INTERVIEW by Jerome TAYLOR Foto: AFP/ANTHONY WALLACE
Produktivitas naik 80-90 persen dibanding cara konvensional. Satu meter kubik air yang dulu hanya mampu memelihara 2 kg ikan, kini mampu 70-80 kg.
Yang penting juga, teknologi ini dikembangkan untuk komoditas bernilai tinggi. Seperti ikan sturgeon, yang telurnya, caviar, bernilai jual tinggi. Selain sturgeon, pihak kampus juga mengembangkan budidaya ikan dengan pasar ekspor seperti salmon dan kerapu.
Ada misi penting dan mulia dari mahasiswa dan peneliti di kampus ini, yaitu membantu para petani/peternak ikan, agar mampu mengelola dan membudidaya ikan dengan bantuan teknologi.
Inilah wajah kemajuan yang paling nyata. Ketika kampus menciptakan teknologi dan kecerdasan buatan yang tidak hanya melayani pabrik dan industri besar, tapi juga dapat mensejahterakan petani dan mereka yang memiliki tempat produksi terbatas, seperti kolam-kolam di kampus ini.
AI, kolam air payau dan nol limbah
Penggunaan AI juga kita temui di Chongming. Lokasi yang kita tempuh 1 sampai 1,5 jam lewat perjalanan darat dari Shanghai. Namanya Puye Town Fishery-PV Digital Base.
Bila melihat dari atas atau menggunakan drone, Kawasan ini seperti danau kaca hitam seluas 2.200 hektar. Di sini ada 200.000 panel surya setinggi 3 meter menghasilkan 140 juta kWh per tahun. Dengan kapasitas 100 MW, cukup untuk 60.000 rumah. Produksi listrik mereka jual ke pemerintah.
Tidak hanya soal listrik, di bawah panel surya juga ada kolam-kolam air payau memelihara lima komoditas paling mahal. Seperti Kepiting Bulu Chongming yang harganya Rp 500.000 per ekor di restoran Shanghai, Ikan Bass, Silver Perch Australia, hingga Udang Vaname.
Yang menarik juga, cara mereka mengelola air limbah perikanan. Airnya tidak dibuang. Limbah ikan dialirkan ke kolam biofilter, disaring bakteri, lalu air bersihnya dipakai kembali. Sistem tertutup, nol limbah.
Di bandingkan dengan petani tradisonal, petani di sini tidak lagi melihat cuaca. Mereka memantaunya lewat dashboard yang berisi informasi seperti suhu air, pH, oksigen, termasuk harga listrik hari ini. Jadi, petani selain menjual listrik, mereka juga menjual kepiting dan hasil budidaya perikanan lainnya.
Di gedung tanpa plang di Shanghai, kami bertemu orang-orang yang berada di belakang layar bisnis menjual air mata. di Tanah Air mungkin orang mengenalnya sebagai Dracin alias Drama China.
Kantor DramaBox di Shanghai adalah semacam kantor cabang. Kantor pusatnya ada di Singapura. Selain di Shanghai, ada juga kantor cabang di belahan dunia lain, seperti di AS. Ada banyak pekerja seni dengan berbagai latar belakang negara. Ada yang menemui kami, asalnya dari Indonesia.
Berbicara dengan tim DramaBox, makin yakin bila bisnis ini tidak boleh disepelekan. Meski ini perusahan industri kreatif, tamu tidak diijinkan mengambil gambar di dalam kantor. Meski demikian, tim yang kami temui sangat terbuka menjawab semua pertanyaan. Bahkan kami bicara dengan perwakilan DramaBox di AS lewat online. Marlene, Namanya. Asal dari Argentina.
Ia bercerita tentang kiat dan formula drama berdurasi pendek, 2 menit, namun menjadi hiburan dan candu untuk penggemar drama percintaan yang diakses lewat aplikasi ini.
Produk DramaBox adalah Mini Drama. 90 detik per episode, total 60-80 episode. Cerita klise yang adiktif : CEO menyamar jadi satpam, istri disiram mertua, balas dendam miliarder. Atau perempuan miskin yang kemudian diperistri pria tampan yang kaya raya.
Industrinya meledak. Pada 2024 nilainya masih 50 miliar Yuan atau sekitar Rp113 triliun. Sementara 2026 diprediksi 180 miliar Yuan atau sekitar Rp425 triliun, menyalip total box office film bioskop China.
Diskusi di Kantor DramaBox - Beijing Foto: Dok. Istimewa
Semua diproduksi dengan dan dibantu AI. Naskah ditulis AI dalam 2 jam dari 10.000 naskah terlaris. Casting dipilih AI berdasar wajah yang paling diklik penggemarnya.
Trailer dipotong 20 versi oleh AI, diuji mana yang paling membuat orang mau membayar di 3 detik pertama. Satu drama, jadi hanya dalam 7 hari. Dari ide sampai tayang di 150 negara.
DramaBox masih terus memperluas jaring bisnisnya ke mancanegara. Termasuk bekerja sama dengan produser atau mitra lain di berbagai negara.
Indonesia termasuk pasar DramaBox yang besar dan potensial. Saat ditanya, apakah akan segera membangun kantor cabang dan berpoduksi di Indonesia. Tim DramaBox menjawab: "Itu sangat dimungkinkan."
Dalam DramaBox, cerita mirip dan berulang. Casting dan aktor serta aktris sama, meski cerita berbeda. Formula DramaBox sebenarnya sama dengan opera sabun, telenovela dan drama-drama lain yang pernah meledak di Tanah Air lewat layar kaca.
Hanya kini layarnya mengecil, seukuran layar HP. Yang berbeda dan terus dikembangkan Dramabox, penggunaan AI makin diperluas. Semakin banyak cerita yang dibuat AI, semakin banyak pemainnya juga buatan AI.
Pulang dari China, kami tentu belum bisa membuat robot, apalagi meminta robot membawakan koper yang berisi pakaian serta oleh-oleh. Tapi perjalanan ini meninggalkan kekaguman sekaligus pertanyaan, sejauh mana Indonesia ingin membangun masa depannya sendiri.
Tentu kami juga ingin bisa melihat dan merasakan kebanggaan, seperti yang dirasakan warga Beijing hingga Shanghai.
Quotes Xi Jinping Foto: Dok. Istimewa
Di salah satu dinding dalam gedung Shanghai Urban Planning Exhibition Center yang juga kami kunjungi, saya membaca dan mengagumi kalimat dari pemimpin China Xi Jinping.
Dan kutipan dari pemimpin 'Negeri Tirai Bambu' itu, makin lama makin terasa merasuk sanubari.