Silicon Valley Tak Lagi Menarik, Ilmuwan AI Lebih Pilih ke China

CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 10:15 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah laporan menunjukkan para peneliti kecerdasan buatan (AI) lebih memilih China alih-alih Amerika Serikat (AS) sebagai tempat kerja utama mereka seiring pesatnya industri AI di negara ini dan pengetatan aturan visa AS. Bagi sebagian peneliti AI, Silicon Valley tidak lagi menarik seperti dulu.

Laporan berjudul "Who's ahead in the global AI talent race" yang dirilis oleh Carnegie China pekan ini menyatakan kehadiran peneliti secara langsung di China memperkuat posisi negara ini dalam persaingan AI global melawan AS.

Tahun lalu, China mempekerjakan 41 persen dari peneliti AI terkemuka di dunia, mengungguli AS di angka 34 persen. Dibandingkan dengan tahun 2022, peneliti di AS lebih banyak sejumlah 46 persen, sementara China hanya 27 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Temuan ini juga mengindikasikan pergeseran yang lebih luas dalam keseimbangan kekuatan teknologi global di saat kedua negara besar ini bersaing meraih supremasi dalam perkembangan teknologi mutakhir.

"China telah membangun industri AI dalam negeri yang tangguh dengan dukungan perusahaan-perusahaan terkemuka seperti DeepSeek dan Moonshot AI, di mana tingkat kompensasinya kini cukup sebanding dengan yang ada di Silicon Valley," kata Damien Ma, direktur Carnegie sekaligus salah satu penulis laporan tersebut, dikutip dari South China Morning Post, Jumat (25/9).

China juga menjadi pencetak tenaga ahli AI terbanyak. Tahun lalu, sebanyak 57 persen peneliti AI tercatat menyelesaikan studi sarjana di negeri Tirai Bambu, sedangkan peneliti yang menyelesaikan studi sarjana di AS hanya 13 persen.

Tingginya angka lulusan dalam negeri ini sejalan dengan semakin banyaknya para peneliti yang memutuskan untuk tetap berkarir di China. Hal ini juga didukung oleh melimpahnya peluang kerja lokal serta ketatnya pembatasan visa di AS.

Temuan laporan tersebut merupakan hasil analisis dari 10.280 peneliti yang mewakili sekitar 40 persen dari seluruh peneliti yang makalahnya diterima di salah satu konferensi machine learning terbesar di dunia, Conference on Neural Information Processing Systems tahun 2025.

Meski industri AI China mulai menarik, AS tetap menjadi tujuan utama peneliti AI China yang ingin berkarir di luar negeri. Peneliti AI di AS yang meraih gelar sarjana dari China pada tahun lalu meningkat sebanyak 4 persen.

Namun, pada saat yang bersamaan terdapat hambatan mobilitas atau perpindahan warga negara karena AS dan China sama-sama memperketat pengawasan terhadap transfer teknologi dan risiko keamanan nasional.

(fta/dmi)