InfraNexia membidik bisnis konektivitas antarpusat data dan kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) seiring pemisahan bisnis dan aset atau spin-off tahap kedua dari Telkom.
Perusahaan plat merah ini berencana menjadikan pemetaan kebutuhan penyedia layanan komputasi skala besar atau hyperscaler sebagai dasar ekspansi jaringan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menyebut konektivitas antarpusat data akan menjadi salah satu fokus pengembangan bisnis InfraNexia. Perusahaan tengah memetakan kebutuhan para hyperscaler untuk menentukan arah ekspansi tersebut.
"DC-to-DC connectivity akan menjadi salah satu fokus berikutnya. Saat ini kita akan fokus bagaimana menjawab kebutuhan dari para hyperscaler dengan membuat semacam AI heatmap dari para hyperscaler tersebut," kata pihak InfraNexia dalam sesi wawancara setelah paparan Telkom, 30 September 2026.
"Itu akan menjadi dasar ekspansi kami di area DC to DC connectivity," tambahnya.
Rencana tersebut, katanya, berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan pemanfaatan aset fiber. Menurut Seno, tingkat utilisasi aset tersebut masih sangat rendah, sementara investasi pembangunannya sudah dikeluarkan.
Untuk meningkatkan pemanfaatannya, InfraNexia berencana membuka akses layanan bagi berbagai operator atau menjadi carrier-neutral. Perusahaan berharap pendekatan ini dapat memperluas pasar dan meningkatkan penggunaan jaringan yang sudah dimiliki.
Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd Rauf mengatakan modernisasi menjadi salah satu pekerjaan yang harus segera dilakukan setelah pemindahan aset. Langkah tersebut diperlukan agar infrastruktur perusahaan dapat memenuhi kebutuhan industri, termasuk AI dan komputasi awan.
"Tantangannya adalah kami akan segera melakukan modernisasi memastikan seluruh alat produksi yang kami miliki relevan dengan pertumbuhan industri saat ini, termasuk untuk mendukung AI dan platform-platform digital yang sudah semakin besar, mulai dari cloud sampai ke peluang lainnya," ujar Lukman.
Lukman menjelaskan bisnis InfraNexia terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni layanan konektivitas jaringan secara wholesale serta layanan akses berbasis serat optik atau FTTx. Kedua kelompok tersebut melayani pelanggan internal maupun eksternal Telkom Group.
Menurutnya, InfraNexia sudah mengoperasikan aset yang dialihkan sejak tahap pertama. Pemindahan aset berikutnya diharapkan memperluas jangkauan bisnis sekaligus membuka peluang pengembangan produk.
Dari sisi pelanggan eksternal, Lukman menyebut kontribusi pendapatannya berada di atas 15 persen hingga semester I 2026. Ia juga mengatakan pendapatan eksternal tumbuh lebih dari 30 persen secara tahunan.
Pemisahan tahap kedua telah mendapat persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkom. Dalam agenda tersebut, turut terjadi perubahan pada susunan direksi Telkom, salah satunya Direktur Utama Dian Siswarini digantikan oleh Direktur Network Nanang Hendarno.
Nanang Hendarno menyebut nilai aset atau segmen usaha wholesale yang dipisahkan dalam spin-off tahap kedua mencapai Rp49,9 triliun.
Ia menegaskan angka tersebut merupakan nilai aset, bukan pendapatan ataupun penerimaan kas langsung bagi Telkom. InfraNexia disebut tetap berada di bawah kendali Telkom, dengan kepemilikan saham sebesar 99,9 persen.
Menurut Nanang, pemisahan ditujukan untuk memperbaiki pengelolaan bisnis dan aset, meningkatkan transparansi kinerja, serta membuka peluang pemanfaatan dan monetisasi.
(lom)
