Pakar Sebut Potensi El Nino "Pecah" pada Oktober-Desember

CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 12:30 WIB
Pakar memprediksi El Nino 2026-2027 pecahkan rekor antara Oktober hingga Desember 2026.
Pakar memprediksi El Nino 2026-2027 pecahkan rekor antara Oktober hingga Desember 2026. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pakar dari Scripps Institution of Oceanography Mark Merrifield menyebut El Nino berpotensi memecahkan rekor kekuatan pada Oktober hingga Desember 2026. Menurutnya, peluang fenomena tersebut melampaui kekuatan El Nino sebelumnya sejak 1950-an mencapai 75 persen.

"Untuk musim Oktober hingga Desember 2026, terdapat peluang sebesar 75 persen bahwa fenomena ini akan menjadi peristiwa bersejarah yang kekuatannya melampaui rekor El Nino sebelumnya sejak tahun 1950-an," ujar Merrifield dalam webinar pada Selasa (29/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam webinar bertajuk "El-Nino 2026-2027: From Global Climate Signal to Local Action: Preparing Indonesia and the United States for an Unprecedented Climate Challenge," Merrifield mengatakan anomali suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa menunjukkan sinyal kuat menuju fase Super El Nino.

Anomali suhu di Samudra Pasifik telah melampaui rekor, beberapa bulan sebelum fenomena El Nino diperkirakan mencapai puncaknya.

Anomali suhu di wilayah itu mencapai 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020, melewati rekor 3,02 derajat Celsius pada akhir November 2015.

Sementara itu, ukuran lain yang banyak digunakan ahli meteorologi, yakni ONI di wilayah Niño 3.4, hanya terpaut 0,01 derajat Celsius di bawah rekor 2015.

Terpisah, ilmuwan iklim Zeke Hausfather menelaah 14 model yang rata-rata memproyeksikan anomali suhu mencapai sekitar 4 derajat Celsius pada November dan Desember.

Hausfather, yang analisisnya diterbitkan Carbon Brief, menyebut proyeksi penguatan tersebut mencengangkan.

Menurutnya, analisis terumbu karang, lingkaran pertumbuhan pohon, dan dokumen sejarah mengindikasikan belum ada El Nino yang mencapai tingkat tersebut dalam satu milenium terakhir.

Kondisi lokal dan dampak El Nino

El Nino disebut bisa memberikan dampak yang berbeda tergantung pada kondisi lokal suatu wilayah.

Merrifield mencontohkan dampak tersebut di wilayah pesisir Pantai California yang menghadapi peningkatan gelombang, tingginya permukaan laut, pasang surut ekstrem, serta hujan lebat yang dapat meningkatkan risiko banjir pesisir.

Sementara itu, Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN Erma Yulihastin menjelaskan perbedaan dampak El Nino di sejumlah wilayah Indonesia.

Menurut Erma, dampak El Nino 2026-2027 di Benua Maritim Indonesia menunjukkan pola spasial yang semakin beragam. Perbedaan dampaknya tidak lagi dapat dijelaskan secara sederhana berdasarkan garis ekuator.

Kondisi lokal dan topografi turut memengaruhi cuaca yang dialami setiap wilayah. Sebagai contoh, Bogor masih kerap diguyur hujan karena pengaruh kondisi setempat dan topografi pegunungan.

Situasi tersebut berbeda dengan Lamongan, Jawa Timur, yang menurut Erma mengalami periode kering jauh lebih panjang.

Lebih lanjut, Erma mengatakan kajian timnya juga menyoroti pergeseran musim kemarau yang lebih panjang, risiko terhadap produksi padi, serta tekanan panas lingkungan.

Pengukuran menggunakan indeks Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) dalam kajian tersebut menunjukkan bahwa Kalimantan dan Papua memiliki kerentanan tinggi terhadap tekanan panas. Ia juga menyoroti potensi peningkatan kebakaran hutan.

[Gambas:Video CNN]

Erma menyebut ancaman kekeringan akibat El Nino diproyeksikan masih berlanjut hingga periode 2027-2028. Proyeksi itu, menurutnya, didasarkan pada hasil simulasi dan analisis menggunakan 14 model iklim NASA NEX-GDDP.

Ia menilai hasil kajian tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan jangka panjang dari berbagai pihak dalam menghadapi risiko kekeringan dan tekanan panas.

(lom)