Pakar Ungkap Asal-usul Blue Fire yang Muncul di Papandayan

CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 16:45 WIB
Gunung Papandayan mengeluarkan blue fire akibat pembakaran gas belerang. Fenomena ini berbahaya, masyarakat diimbau untuk tidak mendekat. (Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gunung Papandayan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengeluarkan api biru (blue fire) seperti yang terjadi di Kawah Ijen. Akibatnya, jalur pendakian dan perkemahan sempat ditutup sementara. Lantas, dari mana asal-usul blue fire yang muncul di Gunung Papandayan?

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Sonni Setiawan menjelaskan fenomena tersebut terjadi akibat pembakaran gas belerang yang keluar dari rekahan vulkanik.

"Mekanisme blue fire adalah ketika magma di bawah Papandayan melepaskan gas hidrogen sulfida (H2S) dan sulfur dioksida (SO2) bersuhu sekitar 200-600 derajat Celsius melalui rekahan fumarol atau solfatara," jelas Sonni, dikutip dari situs resmi IPB University pada Rabu (30/9).

Sonni kemudian menjelaskan gas H2S yang keluar melalui rekahan tersebut bereaksi dengan oksigen di udara dan mengalami pembakaran. Reaksi ini menghasilkan sulfur dioksida, uap air, panas, serta nyala api berwarna biru.

"Pembakaran gas belerang inilah yang menghasilkan nyala api berwarna biru elektrik, dengan suhu api dapat mencapai sekitar 600 derajat Celsius," ujarnya.

Blue fire di Papandayan muncul di area fumarol aktif atau lubang tempat gas vulkanik keluar ke atmosfer seperti Blok Mas dan kawasan Golden Sunrise. Fenomena ini lebih terlihat di malam hari ketika kondisi benar-benar gelap, terutama sekitar pukul 02.00-05.00 WIB.

Ini bukan pertama kalinya Gunung Papandayan mengeluarkan blue fire, aktivitas serupa mulai terjadi pasca erupsi gunung tersebut pada November 2002 yang menghasilkan fumarol dan rekahan baru di kawasan Kawah Mas, Kawah Baru, dan Nangklak.

"Setelah erupsi 2002, banyak rekahan baru terbuka. Gas yang sebelumnya menyebar kemudian menjadi lebih terpusat pada celah-celah sempit dengan tekanan yang lebih tinggi. Ketika bercampur dengan udara, gas tersebut dapat terbakar dan menghasilkan blue fire," kata Sonni.

Berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas vulkanik di Gunung Papandayan mengalami peningkatan, ditandai dengan peningkatan aliran SO2 dan kenaikan aktivitas gempa vulkanik dangkal.

Selain itu, juga ada peningkatan suhu fumarol yang sebelumnya sekitar 150 derajat Celcius menjadi 300-400 derajat Celcius.

"Pada suhu tersebut, gas H2S dapat terbakar secara spontan tanpa perlu disulut, sehingga kemunculan api menjadi lebih sering terlihat," jelas Sonni.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati lokasi blue fire tersebut karena gas vulkanik seperti SO2 berbahaya bagi pernapasan dan tanah di sekitar fumarol bisa jadi rapuh karena tingginya suhu.

"Jika melakukan pengamatan pada malam hari, keselamatan harus menjadi prioritas. Masker kain biasa tidak cukup untuk menghadapi paparan gas vulkanik. Jangan mendekati lubang fumarol karena selain gasnya beracun, struktur tanah di sekitarnya juga dapat rapuh," pungkasnya.

(fta/dmi)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK