BRIN: Super El Nino Berpotensi Picu Kemarau Lebih Panjang

CNN Indonesia
Jumat, 02 Okt 2026 09:41 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN Erma Yulihastin menyebut fenomena El Nino kategori sangat kuat pada 2026-2027 bisa memicu kemarau lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia.

Erma mengatakan, dampak El Nino tahun ini di Indonesia menunjukkan pola spasial yang semakin beragam dan tidak lagi sederhana berdasarkan garis ekuator. Oleh karena itu, ia mendorong penguatan kesiapsiagaan dan kerja sama riset lintas negara untuk mengantisipasi dampak El Nino.

"Perambatan gelombang El Nino memicu pergeseran musim kemarau yang lebih panjang serta meningkatkan ancaman tekanan panas ekstrem atau indeks suhu bola basah (Wet Bulb Global Temperature/WGBT)," kata Erma dalam sebuah webinar, melansir laman resmi BRIN, Selasa (29/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Erma menyebut, kajiannya bersama tim menyoroti risiko produksi padi dan tekanan panas lingkungan. Hasil pengukuran menggunakan indeks WGBT menunjukkan wilayah Kalimantan dan Papua sangat rentan terhadap panas serta potensi peningkatan kebakaran hutan.

Berdasarkan hasil simulasi dan analisis dari 14 model iklim NASA NEX-GDPP, Erma menyebut ancaman kekeringan akibat El Nino diproyeksikan masih berlanjut hingga periode 2027-2028. Kondisi ini menunjukkan perlunya kewaspadaan jangka panjang dari berbagai pihak.

Mark Merrified dari Scripps Institution of Oceanography menyampaikan, anomali suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa menunjukkan sinyal kuat menuju fase Super El Nino yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027.

"Untuk musim Oktober hingga Desember 2026, terdapat peluang sebesar 75 persen bahwa fenomena ini akan menjadi peristiwa bersejarah yang kekuatannya melampaui rekor El Nino sebelumnya sejak tahun 1950-an," kata Mark.

Ia mengatakan anomali suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa menunjukkan sinyal kuat menuju fase Super El Nino.

Anomali suhu di Samudra Pasifik telah melampaui rekor, beberapa bulan sebelum fenomena El Nino diperkirakan mencapai puncaknya.

Anomali suhu di wilayah itu mencapai 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991-2020, melewati rekor 3,02 derajat Celsius pada akhir November 2015.

Sementara itu, ukuran lain yang banyak digunakan ahli meteorologi, yakni ONI di wilayah Niño 3.4, hanya terpaut 0,01 derajat Celsius di bawah rekor 2015.

Terpisah, ilmuwan iklim Zeke Hausfather menelaah 14 model yang rata-rata memproyeksikan anomali suhu mencapai sekitar 4 derajat Celsius pada November dan Desember.

Hausfather, yang analisisnya diterbitkan Carbon Brief, menyebut proyeksi penguatan tersebut mencengangkan.

Menurutnya, analisis terumbu karang, lingkaran pertumbuhan pohon, dan dokumen sejarah mengindikasikan belum ada El Nino yang mencapai tingkat tersebut dalam satu milenium terakhir.

(dmi)