Sebuah video yang menjelaskan bahwa NASA, lembaga antariksa Amerika Serikat, memprediksi asteroid besar bakal menghantam Bumi pada 2027 viral di TikTok. Namun ternyata, video tersebut hoaks dan tidak sesuai fakta.
Video berisi teori konspirasi lama itu viral di TikTok dan sudah ditonton 4,2 juta kali. Video hoaks itu menyatakan bahwa peristiwa hantaman asteroid itu berpeluang memusnahkan 96 persen kehidupan di Bumi pada 2027.
Saat ini, video tersebut tampaknya sudah dihapus oleh platform. Namun, konten ini sempat didokumentasikan oleh platform pemeriksa fakta, BiasBreak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut laporan IFL Science, Rabu (30/9), untuk memberi kesan bahwa seolah-olah klaim ini terpercaya, video tersebut memasukan berbagai tangkapan layar dari sebuah studi NASA yang dipotong dan dikeluarkan dari konteksnya.
"Berdasarkan pengukuran pelacakan terbaru minggu ini, International Asteroid Warning Network (IAWN) mengonfirmasi bahwa asteroid 2017 PDC berada pada jalur yang hampir pasti akan menghantam Bumi pada 21 Juli 2027, kurang dari sembilan tahun dari sekarang," begitu bunyi tulisan dalam tangkapan layar di video tersebut.
"IAWN memperkirakan peluang hantaman sebesar 96 persen, dan lokasi yang berpotensi terdampak terbatas pada wilayah memanjang yang ditandai dengan titik-titik merah pada gambar di bawah," lanjut video itu.
Namun begitu, faktanya tidak seperti yang dijelaskan dalam video viral itu.
Bagian yang sengaja dipotong dalam video tersebut, misalnya dengan menampilkan tangkapan layar hasil pencarian Google, adalah fakta bahwa seluruh dokumen itu berasal dari latihan simulasi yang diadakan NASA.
Lembaga antariksa itu memang secara berkala menjalankan skenario simulasi seperti ini. Mereka menyajikan asteroid buatan kepada tim ahli untuk melihat bagaimana mereka akan merespons, baik dengan meluncurkan misi pengalihan jalur asteroid maupun meminimalkan jatuhnya korban jiwa di Bumi, terutama lewat upaya evakuasi.
Astrofisikawan Alfredo Carpineti menjelaskan bahwa dalam simulasi saat itu, tim ingin menyajikan skenario buatan yang tetap terasa realistis.
"Jika asteroid simulasi ini benar-benar nyata, dampaknya bisa sangat menghancurkan dalam skala benua. Mengingat ketidakpastian mengenai objek tersebut, ia bisa saja jatuh pada tanggal 29 April 2027 di jalur sempit yang membentang dari Hawaii hingga Afrika, melintasi wilayah daratan utama Amerika Serikat," kata Carpineti.
Dalam simulasi itu, tim merancang misi pengalihan asteroid yang kemudian dikondisikan tidak berjalan dengan baik.
"Begitu mereka mengetahui bahwa asteroid tersebut berada pada lintasan tabrakan, NASA dan badan antariksa di seluruh dunia memutuskan untuk mengirim armada penabrak kinetik guna membelokkan arah asteroid itu," demikian penjelasan NASA mengenai simulasi tersebut, sekaligus menyatakan bahwa ini bukan kejadian asli.
Pada hari terakhir konferensi simulasi, tim memodelkan penanganan terhadap potensi hantaman yang saat itu disimulasikan hampir pasti menimpa kota New York pada 29 April 2027, dengan energi sebesar 5 hingga 20 megaton.
Leviticus Lewis dari Divisi Operasi Penanggulangan FEMA saat itu menyampaikan bahwa menyatukan komunitas penanggulangan bencana dan komunitas ilmiah sangat krusial untuk bersiap menghadapi potensi hantaman asteroid di masa depan.
"Latihan ini sangat berharga karena melanjutkan upaya yang sedang berjalan dalam mengidentifikasi pertanyaan dan isu utama untuk skenario yang berpeluang rendah namun berdampak besar ini," ujar Lewis.
Meskipun NASA dan para astronom lainnya terus memantau langit secara berkala untuk mendeteksi asteroid yang berpotensi membahayakan, badan antariksa AS tersebut telah memastikan tidak ada ancaman hantaman dari asteroid besar yang terdata setidaknya untuk 100 tahun ke depan.
Namun, karena NASA rutin mengadakan simulasi ancaman asteroid ini, tangkapan layar yang beredar di TikTok bisa membuat situasi tampak seolah-olah ada bahaya nyata, padahal tidak ada ancaman mendesak sama sekali.

