Arkeolog Temukan Tempat Alexander Agung Berguru ke Aristoteles

CNN Indonesia
Selasa, 06 Okt 2026 10:20 WIB
Para arkeolog menemukan 'ruang kelas tempat Aristoteles mengajar Aleksander Agung'
Para arkeolog menemukan 'ruang kelas tempat Aristoteles mengajar Aleksander Agung. (Foto: Arsip Hellenic Ministry of Culture)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tim arkeolog berhasil menemukan lokasi yang diduga tempat Alexander Agung berguru ke filsuf Aristoteles. Tempat berbentuk aula megah berhias mosaik itu disinyalir berusia sekitar 2.400 tahun.

Lokasi itu ditemukan di saat para arkeolog sedang melakukan penggalian terbaru di gymnasium Aristoteles di Mieza kuno. Penggalian di situs kuno yang berada di Yunani utara ini mengungkap masa-masa sekolah Alexander Agung muda yang berguru kepada Aristoteles.

Dalam pernyataan resminya, pejabat Yunani mengumumkan bahwa para arkeolog yang meneliti situs bersejarah gymnasium kerajaan Mieza menemukan ruang-ruang megah berlantai mosaik yang diduga menjadi bagian dari sekolah Alexander Agung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir Smithsonian Magazine, Senin (28/9), penemuan ini merupakan bagian dari proyek tiga tahun untuk mengungkap sejarah Mieza, tempat Aristoteles mengajar Alexander semasa remaja. Penggalian sebelumnya memperlihatkan bahwa kompleks gymnasium seluas 30 hektare ini memiliki arena gulat (palaestra), stadion, deretan pilar, dan xystus atau lintasan lari tertutup sepanjang 200 meter.

Namun, temuan terbaru ini memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai detail pendidikan Alexander Agung.

Pada abad pertama Masehi, Plutarch menulis dalam biografi The Life of Alexander bahwa Raja Philip II, ayah Alexander, membangun sebuah sekolah untuk putranya dan kaum bangsawan lain di kota Mieza, Makedonia. Meski kompleks ini dinamai gymnasium, orang Yunani kuno menggunakannya jauh lebih dari sekadar tempat latihan fisik.

Tim arkeolog yang dipimpin oleh Angeliki Kottaridi menemukan area luas bernama Didaskaleion atau "tempat mengajar", tempat para murid belajar menggunakan pena ukir (stylus) dan meja batu.

Arkeolog juga menemukan dua ruang perjamuan di samping area belajar. Ruangan mewah berlantai mosaik ini memiliki ornamen rumit yang mirip dengan istana Philip II di Aigai. Kottaridi meyakini kemiripan ini bukanlah kebetulan, melainkan bukti kuat bahwa kompleks Mieza memang dibangun khusus oleh Philip II untuk pendidikan putranya dan anak-anak bangsawan Makedonia.

Tata letak sekolah ini juga memberi gambaran tentang struktur dan nilai-nilai pendidikan kaum elit Makedonia pada abad ke-4 Sebelum Masehi. Ukuran dan struktur kompleks yang menggabungkan area olahraga dan ruang kelas menegaskan status gymnasium Mieza sebagai lembaga pendidikan utama Makedonia.

Keberadaan ruang perjamuan formal yang dulunya dilengkapi sofa rehat menunjukkan bahwa pendidikan sosial memegang peranan penting. Sambil mendalami logika Aristoteles dan menempa fisik, para murid juga dilatih tata krama yang dibutuhkan untuk menghadiri maupun menggelar symposia, yaitu pesta makan malam khas kaum elit Makedonia.

Penemuan sebelumnya di situs ini meliputi pecahan tembikar, koin kuno, beragam benda antik, serta empat pena ukir perunggu yang kemungkinan digunakan oleh murid-murid Aristoteles, bahkan mungkin oleh Alexander muda. Selain itu, para ahli juga menemukan fragmen wadah minyak zaitun suci dari Athena, yang menandakan para murid di sana memiliki akses ke salah satu komoditas paling berharga di dunia Hellenik.

Meski belum bukti mutlak bahwa di gymnasium ini Alexander mendapat pelajaran yang membentuknya jadi penakluk besar, para peneliti sangat optimistis dengan petunjuk yang ada dan berharap bisa menemukan lebih banyak bukti.

[Gambas:Video CNN]

"Semua petunjuk mengarah pada fakta bahwa inilah sekolah yang disediakan Philip untuk Aristoteles mengajar Alexander muda dan murid lainnya," kata Jeanne Reames direktur Mediterania kuno di University of Nebraska, yang tidak terlibat dalam penggalian ini.

Ia meyakini, seiring berlanjutnya penggalian, temuan ini akan makin memperjelas gambaran tentang pendidikan kaum elit Makedonia pada paruh kedua abad ke-4 SM.

Penemuan ini pun memicu antusiasme di kalangan akademisi karena berpotensi mengungkap kehidupan sehari-hari dua tokoh penting Makedonia kuno.

Graham Wrightson, sejarawan dari South Dakota State University, menyebutkan bahwa temuan ini membantu kita membayangkan kehidupan Alexander muda dan memahami bagaimana ia tumbuh menjadi raja tersohor.

(dmi)
placeholder