Samsung Galaxy Watch Ultra 2: Teman Sehat yang Makin Personal
CNN Indonesia
Rabu, 07 Okt 2026 18:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Samsung Galaxy Watch Ultra 2 hadir dengan desain tangguh dan fitur kesehatan lengkap. Dikenal untuk olahraga, smartwatch ini juga memantau pemulihan tubuh. (Foto: CNN Indonesia/Damar Iradat)
Jakarta, CNN Indonesia --
Samsung resmi memperkenalkan Galaxy Watch Ultra 2 pada Juli lalu sebagai penerus dari generasi pertamanya. Namun, smartwatch ini hadir bukan sekadar membawa peningkatan spesifikasi dari generasi sebelumnya.
Lebih dari itu, Galaxy Watch Ultra 2 membawa ambisi menjadi jam tangan pintar yang dapat dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, tapi tetap dapat diandalkan untuk berbagai aktivitas olahraga hingga berpetualang di luar ruangan.
Perangkat ini dirancang sebagai smartwatch premium untuk olahraga intens dan aktivitas outdoor, dengan bodi tangguh serta sejumlah fitur yang ditujukan bagi pengguna yang lebih aktif. Dengan harga Rp10,499 juta, Galaxy Watch Ultra 2 juga menempatkan diri sebagai salah satu smartwatch premium yang menawarkan pengalaman lebih dari sekadar pencatatan aktivitas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, kemampuan perangkat ini tidak berhenti ketika latihan selesai. Justru selepas aktivitas berakhir, perangkat ini dapat memberi informasi penting mengenai bagaimana tubuh merespons latihan tersebut dan apakah sudah cukup pulih untuk kembali beraktivitas.
CNNIndonesia.com sudah mencobanya selama kurang lebih satu bulan. Lantas, bagaimana keandalan jam tangan pintar terbaru keluaran Samsung ini? Simak reviewnya berikut.
Secara desain, Galaxy Watch Ultra 2 bisa dibilang tidak memiliki banyak perbedaan dari Galaxy Watch Ultra generasi pertama. Jam tangan pintar ini masih mempertahankan karakter khas seri Ultra, yakni bodi besar dengan material titanium dan bentuk yang terlihat seperti perangkat outdoor dibanding smartwatch konvensional.
Perangkat ini masih mengusung desain kotak berukuran 47 mm. Namun begitu, Galaxy Watch Ultra 2 memiliki ketebalan 10,7 mm lebih tipis dibanding generasi sebelumnya.
Meski lebih tipis, bobotnya justru lebih besar 1,5 gram dari versi pertama. Namun begitu, distribusi bobot dan strap baru ini membuat perangkat terasa lebih nyaman ketika digunakan untuk aktivitas sehari-hari.
Material titanium juga memberi kesan premium sekaligus tangguh. Galaxy Watch Ultra 2 dirancang untuk menghadapi lingkungan yang lebih ekstrem, oleh karenanya, jam ini sudah mengantongi sertifikasi MIL-STD-810H, IP69K, ketahanan air 10 ATM, serta sertifikasi EN13319 untuk aktivitas menyelam.
Strap bawaannya juga terasa lebih lentur dibanding generasi sebelumnya. Ini menjadi detail kecil yang cukup penting, karena Galaxy Watch Ultra 2 bukan perangkat yang ideal jika hanya dipakai seskali.
Selama periode pemakaian, saya coba menggunakannya selama tujuh hari berturut-turut, termasuk ketika tidur. Hasilnya, penggunaan selama tidur masih cukup nyaman, apalagi bagi saya yang tidak suka menggunakan aksesoris ketika beristirahat di malam hari.
Jam ini memang dirancang untuk terus menempel di pergelangan tangan, termasuk ketika pengguna tidur. Pasalnya, perangkat ini dapat mencatat aktivitas hingga kualitas tidur yang dapat menentukan skor energi pengguna di pagi hari.
Salah satu peningkatan dibanding generasi sebelumnya adalah layar yang lebih cerah. Perangkat ini menggunakan panel Super AMOLED 1,52 inci dengan resolusi 498 x 498 piksel dan tingkat kecerahan hingga 5.000 nit.
Spesifikasi ini membantu ketika aktivitas seperti lari, berenang, dan sepeda di luar ruangan. Pasalnya, statistik olahraga tetap dapat dibaca ketika layar terkena cahaya Matahari langsung.
Hal ini jadi penting bagi sebuah smartwatch yang salah satu fungsi utamanya adalah digunakan ketika beraktivitas di luar ruangan. Pengguna tidak perlu terlalu sering menutupi layar dengan tangan hanya untuk membaca data latihan.
Layar ini juga mendukung fitur Always-On Display, yang membuat informasi waktu tetap terlihat tanpa harus mengangkat atau menyentuh jam.
Kemampuan layar ini juga terasa ketika digunakan untuk aktivitas berenang. Meski basah dan berada di dalam air, data aktivitas yang ditampilkan Galaxy Watch Ultra 2 tetap dapat dibaca dengan jelas.
Layar Galaxy Watch Ultra 2 yang semakin cerah membantu pengguna untuk tetap bisa memantau data kesehatan secara real-time. (Foto: CNN Indonesia/Damar Iradat)
Kapasitas baterai lebih besar
Samsung meningkatkan kapasitas baterai Galaxy Watch Ultra 2 menjadi 800 mAh dari 590 mAh pada generasi sebelumnya. Perusahaan mengeklaim daya tahannya mencapai 60 jam dengan fitur Always-On Display aktif dan hingga 80 jam jika fitur tersebut dimatikan.
Selama kurang lebih satu bulan menggunakan Galaxy Watch Ultra 2, saya menguji daya tahan baterainya dalam berbagai aktivitas olahraga. Pengujian dilakukan dengan sejumlah fitur yang aktif, termasuk GPS, Always-On Display, serta pemantauan kesehatan dan aktivitas sepanjang hari.
Pengisian dayanya juga relatif cepat. Dalam pengujian saya, baterai dapat bertambah sekitar 40 persen hanya dalam waktu 30 menit menggunakan fitur fast charging. Kemampuan ini cukup membantu ketika pengguna membutuhkan tambahan daya dalam waktu singkat, misalnya sebelum berolahraga atau ketika baterai mulai menipis di tengah hari.
Saat digunakan untuk berlari sejauh 5 kilometer, baterai berkurang sekitar 5 persen. Ketika digunakan bersepeda sejauh kurang lebih 20 kilometer, konsumsi baterai berada di kisaran 15 persen. Sementara untuk berenang selama sekitar satu jam, baterai berkurang sekitar 10 persen.
Dengan pola penggunaan tersebut, konsumsi daya Galaxy Watch Ultra 2 masih tergolong wajar. Bahkan ketika digunakan untuk aktivitas olahraga dengan sejumlah fitur yang aktif, baterai tidak terkuras secara berlebihan.
Hasil ini tentu tidak bisa dijadikan patokan mutlak karena daya tahan baterai akan berbeda bergantung pada pola penggunaan masing-masing pengguna. Durasi aktivitas, intensitas penggunaan GPS, koneksi jaringan, hingga fitur yang aktif dapat memengaruhi konsumsi daya.
Namun, untuk kebutuhan olahraga harian seperti lari, bersepeda, dan berenang, daya tahan baterai Galaxy Watch Ultra 2 sejauh pengujian saya cukup dapat diandalkan. Pengguna juga tidak perlu terlalu sering menghentikan aktivitas hanya untuk mengisi ulang daya.
Galaxy Watch Ultra 2 menggunakan Snapdragon Wear Elite dengan fabrikasi 3 nm, RAM 2GB, dan penyimpanan internal 64 GB. Ini menggantikan Exynos W1000 yang digunakan pada generasi sebelumnya.
Selama penggunaan kurang lebih satu bulan, peningkatan tersebut terutama terasa pada respons perangkat. Perpindahan menu berlangsung cepat, aplikasi dapat dibuka tanpa jeda, dan berbagai informasi catatan aktivitas olahraga dapat ditampilkan dengan mulus.
Hal ini mungkin bukan fitur yang akan menjadi alasan utama seseorang membeli smartwatch. Namun setelah perangkat ini digunakan setiap hari, respons antarmuka menjadi faktor yang menentukan kenyamanan.
Salah satu hal yang paling menarik selama penggunaan Galaxy Watch Ultra 2 justru muncul setelah aktivitas olahraga selesai. Jam ini tidak berhenti pada mencatat berapa pace yang dicapai, seberapa jauh pengguna berlari, berapa lama waktu tempuh, atau berapa banyak kalori yang terbakar.
Samsung membawa pendekatan yang mereka sebut "Rest and Do the Rest". Konsep ini menempatkan pemulihan sebagai bagian dari aktivitas, bukan sekadar waktu ketika pengguna berhenti berolahraga.
Setelah aktivitas olahraga selesai, Galaxy Watch Ultra 2 tetap mengolah data yang dikumpulkan untuk memberikan gambaran mengenai kondisi tubuh pengguna.
Dalam praktiknya, pendekatan tersebut terasa melalui data yang dikumpulkan Galaxy Watch Ultra 2 dan kemudian diolah di Samsung Health. Setelah aktivitas selesai, pengguna tidak hanya mendapatkan rangkuman latihan, tetapi juga sejumlah informasi yang membantu memahami apa yang terjadi pada tubuh selama berolahraga.
Misalnya, ketika saya menggunakan Galaxy Watch Ultra 2 untuk berlari sejauh 5 kilometer, perangkat mencatat estimated sweat loss sebesar 654 mililiter. Berdasarkan data tersebut, saya kemudian disarankan mengonsumsi sekitar 981 mililiter air untuk mengganti 150 persen cairan yang hilang selama aktivitas.
Aplikasi Samsung Health yang terhubung dengan Samsung Galaxy Watch Ultra 2 memproses data lain yang lebih bermanfaat bagi pengguna setelah berolahraga. (Foto: Tangkapan Layar Samsung Health)
Informasi seperti ini terlihat sederhana, tetapi cukup berguna karena memberikan gambaran yang lebih personal dibanding sekadar mencatat durasi dan jarak lari. Pengguna setidaknya memiliki acuan mengenai kebutuhan cairan setelah berolahraga, meski angka tersebut tentu tetap merupakan estimasi dari perangkat.
Galaxy Watch Ultra 2 juga memberikan informasi mengenai energy sources, yakni perkiraan sumber energi yang digunakan tubuh selama berolahraga. Dalam salah satu sesi lari 5 kilometer saya, misalnya, perangkat mencatat sekitar 238 kalori berasal dari karbohidrat dan 220 kalori dari lemak. Artinya, sekitar 52 persen energi yang digunakan berasal dari karbohidrat, sementara 48 persen berasal dari lemak.
Data semacam ini membuat pengalaman menggunakan Galaxy Watch Ultra 2 terasa berbeda dari smartwatch yang hanya menyajikan statistik dasar setelah olahraga. Data latihan tidak berhenti sebagai catatan, tetapi diolah menjadi informasi yang bisa membantu pengguna memahami kondisi tubuh dan aktivitas yang baru saja dilakukan.
Selama sebulan penggunaan, bagian inilah yang menurut saya paling terasa manfaatnya. Galaxy Watch Ultra 2 bukan cuma menjadi perangkat yang mencatat apa yang sudah dilakukan tubuh, tetapi juga mencoba membantu pengguna memahami apa yang terjadi setelahnya.
Kelebihan
Fitur kesehatan dan olahraga lengkap, dengan insight yang membantu pengguna memahami kondisi tubuh setelah beraktivitas.
Layar terang dan mudah dibaca, termasuk saat digunakan di luar ruangan maupun ketika berenang.
Baterai cukup bisa diandalkan untuk olahraga harian, bahkan dengan GPS, Always-On Display, dan pemantauan kesehatan tetap aktif.
Kekurangan
Bodi 47 mm dengan bobot 61,5 gram cukup besar dan terasa berat, terutama bagi pengguna dengan pergelangan tangan kecil.
Ekosistem Samsung masih menjadi batasan, karena sejumlah fitur kesehatan hanya dapat digunakan secara optimal ketika dipasangkan dengan HP Samsung.
Desain relatif tidak banyak berubah dibanding generasi sebelumnya
Galaxy Watch Ultra 2 memang tidak menawarkan perubahan desain yang revolusioner dibanding pendahulunya. Namun, Samsung melakukan peningkatan pada bagian-bagian yang cukup penting: baterai, layar, performa, kemampuan olahraga, serta pemantauan kesehatan.
Kekuatan utamanya bukan berada pada satu fitur tertentu, melainkan pada bagaimana berbagai fitur tersebut bekerja bersama.
Jam ini dapat menemani pengguna ketika berlari, mencatat aktivitas dan respons tubuh, kemudian tetap bekerja ketika aktivitas selesai untuk memantau tidur dan kondisi tubuh pada hari berikutnya.
Galaxy Watch Ultra 2 pada akhirnya bukan perangkat yang ingin sekadar memberi tahu berapa langkah yang sudah ditempuh hari ini. Samsung ingin jam ini membantu pengguna memahami apa yang terjadi pada tubuhnya setelah semua aktivitas tersebut selesai.
Jakarta, CNN Indonesia --
Samsung resmi memperkenalkan Galaxy Watch Ultra 2 pada Juli lalu sebagai penerus dari generasi pertamanya. Namun, smartwatch ini hadir bukan sekadar membawa peningkatan spesifikasi dari generasi sebelumnya.
Lebih dari itu, Galaxy Watch Ultra 2 membawa ambisi menjadi jam tangan pintar yang dapat dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, tapi tetap dapat diandalkan untuk berbagai aktivitas olahraga hingga berpetualang di luar ruangan.
Perangkat ini dirancang sebagai smartwatch premium untuk olahraga intens dan aktivitas outdoor, dengan bodi tangguh serta sejumlah fitur yang ditujukan bagi pengguna yang lebih aktif. Dengan harga Rp10,499 juta, Galaxy Watch Ultra 2 juga menempatkan diri sebagai salah satu smartwatch premium yang menawarkan pengalaman lebih dari sekadar pencatatan aktivitas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, kemampuan perangkat ini tidak berhenti ketika latihan selesai. Justru selepas aktivitas berakhir, perangkat ini dapat memberi informasi penting mengenai bagaimana tubuh merespons latihan tersebut dan apakah sudah cukup pulih untuk kembali beraktivitas.
CNNIndonesia.com sudah mencobanya selama kurang lebih satu bulan. Lantas, bagaimana keandalan jam tangan pintar terbaru keluaran Samsung ini? Simak reviewnya berikut.
Secara desain, Galaxy Watch Ultra 2 bisa dibilang tidak memiliki banyak perbedaan dari Galaxy Watch Ultra generasi pertama. Jam tangan pintar ini masih mempertahankan karakter khas seri Ultra, yakni bodi besar dengan material titanium dan bentuk yang terlihat seperti perangkat outdoor dibanding smartwatch konvensional.
Perangkat ini masih mengusung desain kotak berukuran 47 mm. Namun begitu, Galaxy Watch Ultra 2 memiliki ketebalan 10,7 mm lebih tipis dibanding generasi sebelumnya.
Meski lebih tipis, bobotnya justru lebih besar 1,5 gram dari versi pertama. Namun begitu, distribusi bobot dan strap baru ini membuat perangkat terasa lebih nyaman ketika digunakan untuk aktivitas sehari-hari.
Material titanium juga memberi kesan premium sekaligus tangguh. Galaxy Watch Ultra 2 dirancang untuk menghadapi lingkungan yang lebih ekstrem, oleh karenanya, jam ini sudah mengantongi sertifikasi MIL-STD-810H, IP69K, ketahanan air 10 ATM, serta sertifikasi EN13319 untuk aktivitas menyelam.
Strap bawaannya juga terasa lebih lentur dibanding generasi sebelumnya. Ini menjadi detail kecil yang cukup penting, karena Galaxy Watch Ultra 2 bukan perangkat yang ideal jika hanya dipakai seskali.
Selama periode pemakaian, saya coba menggunakannya selama tujuh hari berturut-turut, termasuk ketika tidur. Hasilnya, penggunaan selama tidur masih cukup nyaman, apalagi bagi saya yang tidak suka menggunakan aksesoris ketika beristirahat di malam hari.
Jam ini memang dirancang untuk terus menempel di pergelangan tangan, termasuk ketika pengguna tidur. Pasalnya, perangkat ini dapat mencatat aktivitas hingga kualitas tidur yang dapat menentukan skor energi pengguna di pagi hari.
Salah satu peningkatan dibanding generasi sebelumnya adalah layar yang lebih cerah. Perangkat ini menggunakan panel Super AMOLED 1,52 inci dengan resolusi 498 x 498 piksel dan tingkat kecerahan hingga 5.000 nit.
Spesifikasi ini membantu ketika aktivitas seperti lari, berenang, dan sepeda di luar ruangan. Pasalnya, statistik olahraga tetap dapat dibaca ketika layar terkena cahaya Matahari langsung.
Hal ini jadi penting bagi sebuah smartwatch yang salah satu fungsi utamanya adalah digunakan ketika beraktivitas di luar ruangan. Pengguna tidak perlu terlalu sering menutupi layar dengan tangan hanya untuk membaca data latihan.
Layar ini juga mendukung fitur Always-On Display, yang membuat informasi waktu tetap terlihat tanpa harus mengangkat atau menyentuh jam.
Kemampuan layar ini juga terasa ketika digunakan untuk aktivitas berenang. Meski basah dan berada di dalam air, data aktivitas yang ditampilkan Galaxy Watch Ultra 2 tetap dapat dibaca dengan jelas.
Layar Galaxy Watch Ultra 2 yang semakin cerah membantu pengguna untuk tetap bisa memantau data kesehatan secara real-time. (Foto: CNN Indonesia/Damar Iradat)
Kapasitas baterai lebih besar
Samsung meningkatkan kapasitas baterai Galaxy Watch Ultra 2 menjadi 800 mAh dari 590 mAh pada generasi sebelumnya. Perusahaan mengeklaim daya tahannya mencapai 60 jam dengan fitur Always-On Display aktif dan hingga 80 jam jika fitur tersebut dimatikan.
Selama kurang lebih satu bulan menggunakan Galaxy Watch Ultra 2, saya menguji daya tahan baterainya dalam berbagai aktivitas olahraga. Pengujian dilakukan dengan sejumlah fitur yang aktif, termasuk GPS, Always-On Display, serta pemantauan kesehatan dan aktivitas sepanjang hari.
Pengisian dayanya juga relatif cepat. Dalam pengujian saya, baterai dapat bertambah sekitar 40 persen hanya dalam waktu 30 menit menggunakan fitur fast charging. Kemampuan ini cukup membantu ketika pengguna membutuhkan tambahan daya dalam waktu singkat, misalnya sebelum berolahraga atau ketika baterai mulai menipis di tengah hari.
Saat digunakan untuk berlari sejauh 5 kilometer, baterai berkurang sekitar 5 persen. Ketika digunakan bersepeda sejauh kurang lebih 20 kilometer, konsumsi baterai berada di kisaran 15 persen. Sementara untuk berenang selama sekitar satu jam, baterai berkurang sekitar 10 persen.
Dengan pola penggunaan tersebut, konsumsi daya Galaxy Watch Ultra 2 masih tergolong wajar. Bahkan ketika digunakan untuk aktivitas olahraga dengan sejumlah fitur yang aktif, baterai tidak terkuras secara berlebihan.
Hasil ini tentu tidak bisa dijadikan patokan mutlak karena daya tahan baterai akan berbeda bergantung pada pola penggunaan masing-masing pengguna. Durasi aktivitas, intensitas penggunaan GPS, koneksi jaringan, hingga fitur yang aktif dapat memengaruhi konsumsi daya.
Namun, untuk kebutuhan olahraga harian seperti lari, bersepeda, dan berenang, daya tahan baterai Galaxy Watch Ultra 2 sejauh pengujian saya cukup dapat diandalkan. Pengguna juga tidak perlu terlalu sering menghentikan aktivitas hanya untuk mengisi ulang daya.
Samsung Galaxy Watch Ultra 2 hadir dengan desain tangguh dan fitur kesehatan lengkap. Dikenal untuk olahraga, smartwatch ini juga memantau pemulihan tubuh. (Foto: CNN Indonesia/Damar Iradat)
Performa tak lagi jadi masalah
Galaxy Watch Ultra 2 menggunakan Snapdragon Wear Elite dengan fabrikasi 3 nm, RAM 2GB, dan penyimpanan internal 64 GB. Ini menggantikan Exynos W1000 yang digunakan pada generasi sebelumnya.
Selama penggunaan kurang lebih satu bulan, peningkatan tersebut terutama terasa pada respons perangkat. Perpindahan menu berlangsung cepat, aplikasi dapat dibuka tanpa jeda, dan berbagai informasi catatan aktivitas olahraga dapat ditampilkan dengan mulus.
Hal ini mungkin bukan fitur yang akan menjadi alasan utama seseorang membeli smartwatch. Namun setelah perangkat ini digunakan setiap hari, respons antarmuka menjadi faktor yang menentukan kenyamanan.
Salah satu hal yang paling menarik selama penggunaan Galaxy Watch Ultra 2 justru muncul setelah aktivitas olahraga selesai. Jam ini tidak berhenti pada mencatat berapa pace yang dicapai, seberapa jauh pengguna berlari, berapa lama waktu tempuh, atau berapa banyak kalori yang terbakar.
Samsung membawa pendekatan yang mereka sebut "Rest and Do the Rest". Konsep ini menempatkan pemulihan sebagai bagian dari aktivitas, bukan sekadar waktu ketika pengguna berhenti berolahraga.
Setelah aktivitas olahraga selesai, Galaxy Watch Ultra 2 tetap mengolah data yang dikumpulkan untuk memberikan gambaran mengenai kondisi tubuh pengguna.
Dalam praktiknya, pendekatan tersebut terasa melalui data yang dikumpulkan Galaxy Watch Ultra 2 dan kemudian diolah di Samsung Health. Setelah aktivitas selesai, pengguna tidak hanya mendapatkan rangkuman latihan, tetapi juga sejumlah informasi yang membantu memahami apa yang terjadi pada tubuh selama berolahraga.
Misalnya, ketika saya menggunakan Galaxy Watch Ultra 2 untuk berlari sejauh 5 kilometer, perangkat mencatat estimated sweat loss sebesar 654 mililiter. Berdasarkan data tersebut, saya kemudian disarankan mengonsumsi sekitar 981 mililiter air untuk mengganti 150 persen cairan yang hilang selama aktivitas.
Aplikasi Samsung Health yang terhubung dengan Samsung Galaxy Watch Ultra 2 memproses data lain yang lebih bermanfaat bagi pengguna setelah berolahraga. (Foto: Tangkapan Layar Samsung Health)
Informasi seperti ini terlihat sederhana, tetapi cukup berguna karena memberikan gambaran yang lebih personal dibanding sekadar mencatat durasi dan jarak lari. Pengguna setidaknya memiliki acuan mengenai kebutuhan cairan setelah berolahraga, meski angka tersebut tentu tetap merupakan estimasi dari perangkat.
Galaxy Watch Ultra 2 juga memberikan informasi mengenai energy sources, yakni perkiraan sumber energi yang digunakan tubuh selama berolahraga. Dalam salah satu sesi lari 5 kilometer saya, misalnya, perangkat mencatat sekitar 238 kalori berasal dari karbohidrat dan 220 kalori dari lemak. Artinya, sekitar 52 persen energi yang digunakan berasal dari karbohidrat, sementara 48 persen berasal dari lemak.
Data semacam ini membuat pengalaman menggunakan Galaxy Watch Ultra 2 terasa berbeda dari smartwatch yang hanya menyajikan statistik dasar setelah olahraga. Data latihan tidak berhenti sebagai catatan, tetapi diolah menjadi informasi yang bisa membantu pengguna memahami kondisi tubuh dan aktivitas yang baru saja dilakukan.
Selama sebulan penggunaan, bagian inilah yang menurut saya paling terasa manfaatnya. Galaxy Watch Ultra 2 bukan cuma menjadi perangkat yang mencatat apa yang sudah dilakukan tubuh, tetapi juga mencoba membantu pengguna memahami apa yang terjadi setelahnya.
Kelebihan
Fitur kesehatan dan olahraga lengkap, dengan insight yang membantu pengguna memahami kondisi tubuh setelah beraktivitas.
Layar terang dan mudah dibaca, termasuk saat digunakan di luar ruangan maupun ketika berenang.
Baterai cukup bisa diandalkan untuk olahraga harian, bahkan dengan GPS, Always-On Display, dan pemantauan kesehatan tetap aktif.
Kekurangan
Bodi 47 mm dengan bobot 61,5 gram cukup besar dan terasa berat, terutama bagi pengguna dengan pergelangan tangan kecil.
Ekosistem Samsung masih menjadi batasan, karena sejumlah fitur kesehatan hanya dapat digunakan secara optimal ketika dipasangkan dengan HP Samsung.
Desain relatif tidak banyak berubah dibanding generasi sebelumnya
Galaxy Watch Ultra 2 memang tidak menawarkan perubahan desain yang revolusioner dibanding pendahulunya. Namun, Samsung melakukan peningkatan pada bagian-bagian yang cukup penting: baterai, layar, performa, kemampuan olahraga, serta pemantauan kesehatan.
Kekuatan utamanya bukan berada pada satu fitur tertentu, melainkan pada bagaimana berbagai fitur tersebut bekerja bersama.
Jam ini dapat menemani pengguna ketika berlari, mencatat aktivitas dan respons tubuh, kemudian tetap bekerja ketika aktivitas selesai untuk memantau tidur dan kondisi tubuh pada hari berikutnya.
Galaxy Watch Ultra 2 pada akhirnya bukan perangkat yang ingin sekadar memberi tahu berapa langkah yang sudah ditempuh hari ini. Samsung ingin jam ini membantu pengguna memahami apa yang terjadi pada tubuhnya setelah semua aktivitas tersebut selesai.