Pakar Ungkap Penyebab Fenomena Retakan Tanah di Kalimantan
Fenomena retakan tanah pada lahan di Dusun Limus, Kalimantan Barat menarik perhatian publik. Pakar mengungkap fenomena yang dikaitkan dengan kawasan gurun Afrika ini terjadi karena kondisi tanah dan proses pengeringan yang terjadi.
Retakan tanah dapat terbentuk melalui proses alami ketika tanah atau endapan lumpur kehilangan air dan mengalami penyusutan, lalu menimbulkan tegangan sehingga permukaannya pecah.
Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB University Widiatmaka mengatakan retakan pada umumnya terjadi pada tanah atau material yang mengandung liat.
"Yang paling umum adalah pengeringan tanah atau endapan lumpur yang mengandung liat. Saat kehilangan air, material tersebut menyusut, sementara penyusutannya tertahan oleh lapisan di bawah atau material di sekitarnya. Tegangan yang muncul kemudian membuat permukaan pecah membentuk pola retakan," jelasnya pada Rabu (7/10), dikutip dari laman IPB.
Menurutnya, proses pengeringan mungkin disebabkan berbagai kondisi, seperti hujan yang semakin jarang terjadi, penguapan yang tinggi, genangan yang surut, maupun perubahan sistem aliran air atau drainase. Retakan juga bisa berkaitan dengan penurunan atau pergerakan tanah.
Penyebab retakan tanah di Dusun Limus, kata Widiatmaka, belum dapat dipastikan secara spesifik karena belum diadakan pemeriksaan lapangan. Namun, dapat dipastikan adanya pengeringan pada tanah atau endapan lumpur yang menyebabkan penyusutan di lahan tersebut.
"Belum dapat dipastikan apakah pengeringan itu terutama akibat cuaca kering, surutnya genangan, atau perubahan tata air dan penggunaan lahan," jelas Widiatmaka.
Ia menyebut ungkapan yang menyamakan fenomena ini dengan tanah retak di Afrika dan bahwa lahan tersebut telah menjadi gurun perlu dilihat secara hati-hati karena faktor pemicunya belum tentu sama.
"Lebih tepat menyebutnya menyerupai tanah retak di kawasan kering Afrika, bukan bukti bahwa lahan di Kalimantan telah berubah menjadi gurun," tegasnya.
Lihat Juga : |
Meskipun terjadinya kekeringan di lahan tersebut sudah dapat dipastikan sebagai penyebab munculnya retakan, Widiatmaka menilai kontribusi kekeringan maupun perubahan iklim terhadap kejadian tersebut masih perlu dibuktikan melalui data lapangan dan riwayat hujan.
Selain itu, ia juga memandang perlu adanya perhatian terhadap aktivitas manusia yang juga dapat mempercepat proses pengeringan seperti berkurangnya naungan akibat pembukaan lahan, serta perubahan kondisi tata air akibat perubahan perubahan drainase, pengambilan air, serta aktivitas penambangan.
Ia menjelaskan, retakan tanah seperti ini tidak selalu merupakan ancaman lingkungan. Namun, perlu penelitian lebih lanjut jika retakannya terjadi berulang, meluas, disertai penurunan permukaan tanah, kematian vegetasi, atau berkurangnya sumber air.
"Retakan saja belum cukup untuk menyimpulkan adanya ancaman serius. Kondisi tanah, air, dan penggunaan lahannya perlu diperiksa terlebih dahulu," tandasnya.
(fta/lom)