Media Dunia Bergandeng Tangan untuk Atur Penggunaan Konten oleh AI
Puluhan penerbit dan media dari seluruh dunia baru saja bergabung bersama Standards for Publisher Usage Rights (SPUR) untuk mencegah perusahaan AI menggunakan atau mengambil keuntungan dari konten mereka tanpa izin.
SPUR ini pertama kali diluncurkan pada bulan Februari oleh BBC, Financial Times, Guardian Media Group, Mediahuis, Sky News, Telegraph Media Group, Associated Press, dan CMA Media. Hingga saat ini, mereka telah menggandeng lebih dari 80 anggota yang berasal dari lebih 20 negara.
Sebanyak 40 anggota baru yang masuk pada Selasa lalu (13/10) terdiri dari media-media besar dunia termasuk The New York Times, Agence France Presse (AFP), The Economist, dan The Atlantic.
Selain itu, ada juga organisasi-organisasi besar yang juga ikut bergabung seperti Associação Nacional de Jornais (ANJ) dari Brazil, Alianza de Medios dari Meksiko, dan Asociación de Entidades Periodísticas Argentinas (ADEPA) dari Argentina.
"Organisasi media di seluruh dunia harus bersatu untuk melindungi diri mereka sendiri, satu sama lain, dan masa depan jurnalisme," kata salah satu pendiri dan juru bicara SPUR David Buttle, dikutip dari situs resmi mereka.
"Kita tahu bahwa jurnalisme berkualitas tinggi membentuk fondasi model AI. Namun, saat ini penerbit tidak memiliki mekanisme untuk memastikan mereka mendapatkan kompensasi yang adil atas pekerjaan mereka. Dalam banyak kasus, hasil karya mereka benar-benar dicuri," tambahnya.
SPUR berkomitmen untuk menyatukan penerbit atau media untuk menciptakan pasar yang adil dan mengatur penggunaan konten dalam sistem AI, memastikan pemilik konten dan teknologi dapat melakukan bisnis secara transparan dan berkelanjutan.
Saat ini, mereka tengah berfokus dalam pengembangan standar dan sistem teknis di seluruh industri untuk membantu pihak penerbit untuk melacak dan mengontrol bagaimana perusahaan AI menggunakan konten mereka dan memfasilitasi perjanjian lisensi.
Dikutip dari Reuters, penerbit dan media telah mengupayakan langkah hukum untuk mencegah perusahaan AI menggunakan konten mereka tanpa izin untuk melatih model bahasa besar (LLM).
Pada awal bulan ini, USA Today dan beberapa surat kabar menggugat OpenAI atas tuduhan pelanggaran hak cipta. OpenAI dan Microsoft yang mendukungnya juga menghadapi klaim hak cipta serupa dari penulis dan organisasi berita terkemuka, termasuk New York Times.
"Perlindungan kekayaan intelektual dan kemajuan teknologi dapat dan harus berjalan beriringan," kata kepala kemitraan strategis dan kepala staf New York Times Rebecca Grossman-Cohen.
Selain pelanggaran hak cipta, media daring juga menghadapi tantangan lain berupa penurunan trefik karena browser saat ini dirancang untuk secara otomatis menampilkan jawaban yang dihasilkan AI, yang memungkinkan pengguna mengonsumsi informasi tanpa perlu mengeklik tautan ke situs web mereka.
Menurut data dari Chartbeat yang dikutip dalam laporan Reuters Institute, terdapat penurunan jumlah pencarian organik Google sebesar 33 persen secara global pada rentang waktu antara November 2024 hingga November 2025 di lebih dari 2.500 situs web.
SPUR mengungkap bahwa mereka baru-baru ini mengembangkan Content Telemetry Standard yang dirancang untuk menstandarisasi cara agen AI merekam dan melaporkan penggunaan konten media.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk memastikan para kreator mendapatkan kompensasi atas karya mereka.
(fta/lom)