Bulan Terus Menyusut, Ilmuwan Ungkap Penyebabnya

CNN Indonesia
Senin, 19 Okt 2026 08:30 WIB
Ilustrasi. Penelitian terbaru mengungkap Bulan menyusut akibat pendinginan bagian dalam. (Foto: AFP/KIRILL KUDRYAVTSEV)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para ilmuwan menyebut ukuran Bulan yang semakin menyusut seiring dikarenakan adanya pendinginan bagian dalam secara bertahap dari waktu ke waktu.

Temuan soal kondisi satelit Bumi ini dituliskan para peneliti dalam sebuah jurnal bertajuk "Thrust Faulting and Late-Stage Contraction of the Moon".

Studi yang diterbitkan oleh The Planetary Scince Journal pada Rabu (14/10) ini mengidentifikasi lebih dari 10.0000 sesar muda yang tersebar di permukaan Bulan dan memperkirakan bahwa jari-jari Bulan telah berkurang sekitar 45 meter selama 400 hingga 800 juta tahun terakhir.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan pengamatan dari Lunar Reconnaissance Orbiter Camera (LROC) yang memetakan lobate scarps atau ribuan bentang alam yang terbentuk akibat penyusutan, serta punggung-punggung kecil di dataran mare. Pemetaan ini dilakukan di dataran tinggi Bulan maupun mare, yaitu hamparan daratan luas dan gelap yang terlihat di permukaan Bulan.

Para ahli turut memperkirakan jika laju penyusutan jari-jari Bulan tetap konstan selama periode tersebut, hal ini menunjukkan bahwa ukuran Bulan menyusut sekitar 6 hingga 11 sentimeter setiap tahun, atau sekitar 0,1 mikrometer per tahun.

Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata pergerakan lempeng Bumi, yaitu sekitar 1,5 sentimeter per tahun. Mereka memperkirakan pergerakan ini kurang lebih sama dengan laju pertumbuhan kuku.

Pergerakan lempeng Bumi tersebut didorong oleh pelepasan panas dari bagian dalam Bumi. Sekitar 90 persen aktivitas tektonik dan seisimik Bumi diketahui terjadi di batas-batas lempengnya.

Sementara itu, Bulan merupakan benda langit dengan satu lempeng yang memiliki sesar akibat penyusutan. Berbeda dengan Bumi yang terdiri atas lebih dari 15 lempeng litosfer yang tersusun seperti mosaik, satu lempeng Bulan bertindak seperti cangkang yang utuh.

Oleh karena itu, ketika bagian dalam Bulan mendingin dan menyusut, sesar tidak terkonsentrasi di sepanjang batas lempeng, namun tersebar luas di seluruh permukannya.

Dengan demikian, gempa Bulan dapat terjadi di mana saja, baik akibat pergerseran pada sesar yang sudah ada maupun akibat terbentuknya sesar baru.

Penelitian terbaru ini juga mengungkap beberapa wilayah yang memiliki lebih banyak sesar dibandingkan dengan wilayah lainnya. Sementara itu, bagian Bulan dengan kerak paling tebal tampaknya memiliki sesar paling sedikit.

Para ilmuwan menyebut hal ini menunjukkan wilayah tersebut mungkin merupakan bagian yang paling stabil.

Mereka turut menemukan pembentukan sesar secara luas tidak terjadi pada tahap awal evolusi Bulan. Pasalnya, kerak bulan yang tebal, berpori, dan dipenuhi retakan berfungsi sebagai lapisan penyekat yang menghambat pelepasan panas dari dalamnya.

Kondisi ini disebut dapat memperlambat proses pendinginan dan penyusutan Bulan hingga periode yang relatif baru.

"Seiring dengan berlanjutnya proses pendinginan dan penyusutan bagian dalam Bulan, pertumbuhan sesar baru diperkirakan masih berlangsung hingga saat ini," kata Thomas R. Watters selaku pemimpin utama penelitian ini dalam keterangannya, Rabu (14/10).

Watters merupakan seorang ilmuwan senior emeritus di Center for Earth and Planetary Studies. Ia melakukan penelitian ini bersama beberapa ilmuwan lain seperti Maria Banks, Cole Nypaver, dan Mark Robinson.

(nad/lom)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK