Daftar Daerah Indonesia Terpanas Oktober 2026, Suhu Tembus 38 Derajat

CNN Indonesia
Senin, 19 Okt 2026 10:53 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Hingga pertengahan bulan Oktober 2026, wilayah Indonesia didominasi kondisi kering dan panas akibat penurunan curah hujan yang disebabkan oleh kombinasi fenomena El Nino dan IOD Positif. Simak daftar daerah terpanas sepanjang bulan ini.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 pada awal Oktober mencapai kategori sangat kuat di angka positif 3,33 derajat Celsius, sementara indeks El Niño-Southern Oscillation (ENSO) periode Agustus-September-Oktober mencapai positif 3,08.

Pada saat yang sama, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian tercatat pada angka positif 0,703. El Nino kategori sangat kuat yang diperparah dengan IOD Positif cenderung mengurangi potensi pembentukan awan hujan di wilayah indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibatnya, kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan meningkat, terutama di wilayah dengan periode tanpa hujan yang panjang. Berdasarkan hasil identifikasi BMKG, terdapat 1.297 titik panas (hotspot) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

"Sebaran terbanyak tercatat di Sumatera sebanyak 505 titik dan Kalimantan sebanyak 346 titik, disusul Papua dan Maluku sebanyak 330 titik. Sementara itu, Sulawesi terpantau memiliki 66 titik, Nusa Tenggara 38 titik, dan Jawa 12 titik," tulis BMKG di laman resminya.

Di tengah kondisi atmosfer yang masih kering, suhu udara juga ikut memanas. Suhu di beberapa wilayah bahkan mencapai lebih dari 37 derajat Celsius akibat tutupan awan yang masih minim sehingga radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal.

Berikut daftar wilayah terpanas pada 12-13 Oktober 2026:

  • Lampung (38,2 derajat Celsius)
  • Papua Selatan (37,4 derajat Celsius)
  • Kalimantan Selatan (37,4 derajat Celsius)
  • Jawa Barat (37,8 derajat Celsius)
  • Jawa Tengah (37,8 derajat Celsius)

Kapan Indonesia masuk musim hujan?

BMKG menyebutgabungan fenomena El Nino dan IOD yang tengah terjadi akan menyebabkan musim hujan 2026/2027 muncul lebih mundur dari rata-rata klimatologisnya dan dengan durasi yang juga lebih singkat.

"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani pada konferensi pers 'Prediksi Musim Hujan' secara daring pada Selasa (22/9).

Lebih lanjut, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami puncak musim hujan pada Desember, Januari, dan Februari.

"Jika dibandingkan dengan normalnya, durasi musim hujan 2026/2027 di wilayah Indonesia diprediksi lebih pendek dari normalnya pada 482 ZOM yang mencakup 51,90 persen luas daratan Indonesia, lebih panjang dari normalnya pada 60 ZOM yang mencakup 8,58 persen luas daratan Indonesia, dan sama dengan normalnya pada 40 ZOM yang mencakup 5,06 persen luas daratan Indonesia," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan.

(fta/dmi)