AS Bongkar Peternakan Laptop untuk Pekerja IT Korut, Apa Itu?
Amerika Serikat (AS) membongkar "peternakan" laptop ilegal yang digunakan oleh pekerja IT asal Korea Utara. Apa itu peternakan laptop yang dimaksud?
"Peternakan laptop" atau laptop farm adalah kumpulan laptop yang dioperasikan untuk mendukung aktivitas ilegal para pekerja IT Korea Utara.
Istilah ini digunakan oleh Biro Investigasi Federal (FBI) Dallas dalam membongkar kasus jaringan laptop yang diduga digunakan oleh pekerja IT Korea Utara untuk mengakses sistem perusahaan AS secara ilegal dengan menggunakan identitas warga AS yang dicuri atau dipalsukan.
Lihat Juga : |
Dalam operasi Lonestar Roundup, FBI menggeledah lebih dari 40 rumah di Texas serta menyita sekitar 187 laptop dan perangkat KVM (keyboard, video, mouse). Sementara itu, penyidik menyita sekitar 100 perangkat yang digunakan oleh para pekerja IT Korea Utara dan para kaki tangannya di AS untuk menjalankan skema penipuan di Texas Utara.
Tujuan dari skema penipuan itu disebut untuk mendapatkan pekerjaan jarak jauh secara ilegal dan menghasilkan pendapatan bagi program persenjataan Korea Utara yang terkena sanksi.
"Investigasi ini bukan sekadar tentang penipuan. Ini menyangkut upaya rezim asing yang bermusuhan untuk menyusup ke perusahaan-perusahaan AS melalui identitas curian dan akses tersembunyi di dalam wilayah kami sendiri," kata Jaksa Amerika Serikat untuk Distrik Utara Texas, Ryan Raybould, Selasa (13/10), dikutip dari situs Kantor Kejaksaan AS.
Menurut Raybould, pembongkaran kasus peternakan laptop ini akan memutus salah satu sumber pendapatan yang diandalkan pemerintah Korea Utara untuk mendanai program persenjataan yang mengancam stabilitas global.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala FBI Dallas R. Joseph Rothrock menyebut Operasi Lonestar Roundup bertujuan memberantas aktivitas siber berbahaya yang dilakukan pemerintah Korea Utara dalam mendukung program senjata pemusnah massal (WMD), rudal balistik, intelijen dan nuklir.
"Setiap laptop yang disita berpotensi mewakili satu perusahaan yang telah mempekerjakan IT Korea Utara," ujar Rothrock.
Modus pekerja IT Korea Utara
Berdasarkan hasil penyelidikan, para pekerja IT Korea Utara melamar dan mendapatkan pekerjaan jarak jauh dengan menggunakan dokumen identitas curian atau palsu. Mereka turut memanfaatkan jaringan privat virtual (VPN) dan sistem perantara yang digunakan untuk menjadi rute lalu lintas internet (proxy infrastructure) agar lokasi kerja mereka seolah-olah berada di AS.
Dalam menjalankan aksinya, mereka dibantu oleh pihak-pihak yang berbasis di AS. Para fasilitator ini menerima laptop dari perusahaan korban, menyimpan dan mengonfigurasi perangkat tersebut, memasang perangkat lunak akses jarak jauh serta menyalurkan penghasilan ke rekening yang dikendalikan oleh Korea Utara.
Perusahaan keamanan siber AS, CrowdStrike, mengidentifikasikan kelompok pekerja IT Korea Utara beserta fasilitatornya sebagai "Famous Chollima". Nama tersebut kini digunakan oleh banyak korban yang merujuk pada kasus tersebut.
Lebih lanjut, para penyelidik juga turut menemukan bahwa para pelaku diduga menggunakan sejumlah akun Google palsu untuk mendukung aktivitas kriminal ini.
Departemen Kehakiman AS menyebut investigasi terkait kasus ini masih terus berlangsung. Mereka turut berkomitmen untuk memberantas jaringan keuangan ilegal Korea Utara dan melindungi perusahaan-perusahaan AS dari skema penyusupan terselubung.
(nad/lom)