Bagaimana Celah Keamanan PHP Buat Lumpuh Situs di Berbagai Negara?

CNN Indonesia
Jumat, 23 Okt 2026 10:07 WIB
Ilustrasi. Situs di berbagai negara offline imbas temuan celah keamanan PHP. (Foto: iStockphoto)
Ilustrasi. Situs di berbagai negara offline imbas temuan celah keamanan PHP. (Foto: iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pakar keamanan digital menemukan celah keamanan siber dengan level kritis pada bahasa pemrograman PHP yang digunakan untuk menjalankan sebagian besar situs web di seluruh dunia. Temuan ini membuat banyak organisasi memilih menonaktifkan situsnya.

PHP merupakan bahasa pemrograman open source yang telah digunakan lebih dari 30 tahun di banyak situs web. Sejumlah sistem manajemen konten (CMS) seperti WordPress, Drupal, Joomla, dan Magento juga menggunakan teknologi ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para pakar dari dua perusahaan keamanan siber (cybersecurity) Calif dan Wiz menemukan kerentanan pada sistem kode PHP yang telah tersembunyi selama lebih dari satu dekade dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Calif menemukan celah tersebut pada 1 Agustus dengan bantuan large language model (LLM), sedangkan Wiz menggunakan Wiz Atlas yang berbasis AI, serta Google Gemini 4 Argon, dan OpenAI GPT-5.6 Sol.

Celah keamanan ini dapat dideteksi oleh AI setelah lama tidak disadari bertahun-tahun sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa AI bisa juga digunakan para peretas untuk mengeksploitasi kerentanan tersebut dan melakukan pembobolan.

Dua kerentanan tersebut, CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619, berpotensi memungkinkan pelaku kejahatan siber untuk menjalankan kode dari jarak jauh di inti PHP, yang berpotensi membahayakan data sensitif dan jaringan.

Kekhawatiran tersebut membuat pengelola situs web, terutama web lembaga pemerintah yang berisi data-data sensitif, langsung menonaktifkan situs mereka. Langkah ini dilakukan sebagai upaya pencegahan setelah muncul peringatan bahwa peretas mulai memanfaatkan celah keamanan tersebut.

Peringatan itu disampaikan PHP Foundation pada Rabu (21/10) sebagai seruan pengamanan untuk mencegah pembobolan situs-situs terkait. Mereka juga telah menyediakan versi PHP terbaru PHP 8.5.12, 8.4.27, 8.3.36, dan 8.2.35 untuk menangani kerentanan ini.

Pada hari yang sama, lembaga keamanan siber di berbagai negara telah mengimbau pengguna PHP untuk segera menerapkan pembaruan keamanan atau menonaktifkan situs sementara hingga perbaikan dapat dilakukan.

Panduan FBI

Dalam sebuah unggahan di X pada Rabu (21/10), FBI mendesak seluruh organisasi pemerintahan atau pengelola situs web yang menggunakan kode PHP untuk mengambil langkah-langkah berikut agar server tetap aman dari celah keamanan tersebut.

  1. Jika pembaruan segera tidak memungkinkan, disarankan menonaktifkan sistem hingga masalah dapat diatasi sepenuhnya.
  2. Segera perbarui instalasi PHP sesuai panduan php.net. Periksa di mana PHP berjalan di server, prioritaskan sistem yang terhubung langsung ke internet.
  3. Pantau aktivitas mencurigakan di server, termasuk proses PHP yang meluncurkan command shell atau mengunduh file secara tidak terduga. Langkah ini dapat membantu mengidentifikasi potensi eksploitasi.
  4. Jika menemukan tanda-tanda pembobolan, segera isolasi sistem yang terpengaruh, simpan log server web dan log PHP untuk pelaporan. Laporan nantinya dapat membantu identifikasi pelaku dan menjadi peringatan bagi sistem lainnya.
(fta/lom)
placeholder