Bagaimana Cara Modifikasi Cuaca Bekerja?

CNN Indonesia
Senin, 26 Okt 2026 12:45 WIB
Prajurit TNI AU dibantu pekerja memindahkan boks berisi dry ice atau es kering sebagai bahan semai untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ke dalam pesawat Cassa C-212 milik Skadron IV Wing Udara 1.2 Grup 1 Angkut Lanud Abdulrachman Saleh di Base Ops La
Pemerintah lakukan operasi modifikasi cuaca untuk atasi kekeringan dan kebakaran hutan. (Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) dalam beberapa situasi, seperti kekeringan panjang atau sebaliknya ketika curah hujan terlalu tinggi. Simak penjelasan bagaimana sistem mitigasi bencana ini dilakukan.

Cuaca panas dan kekeringan berkepanjangan pada musim kemarau tahun ini semakin diperparah dengan kombinasi fenomena iklim El Nino dan IOD. Beberapa wilayah di Indonesia bahkan mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sulit dipadamkan.

Modifikasi cuaca lantas dilakukan sebagai upaya pemadaman kebakaran hutan, menekan polusi dan penyebaran asap, dan menstabilkan suhu udara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengklaim modifikasi cuaca yang dilakukan sejauh ini cukup membuahkan hasil.

"Saya kira banyak berita bahwa terjadi hujan di Sumatra Selatan, di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dengan sangat intensif setelah dilakukannya OMC dengan menggabungkan antara dry ice dan NaCl gitu ya," jelas Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10).

Cara kerja modifikasi cuaca

Modifikasi cuaca dilakukan melalui teknik cloud seeding yang dilakukan dengan penyemaian bahan natrium klorida (NaCl) atau garam yang dinilai mampu membantu proses penggabungan uap dan butiran air sehingga pembentukan hujan bisa dipercepat pada kondisi awan tertentu.

Proses OMC disebut tidak bisa dilakukan sembarangan, karena diperlukan pemantauan berbasis ilmiah terlebih dahulu untuk menentukan titik penyemaian.

BMKG mengatakan pihaknya menggunakan pengukuran radiosonde untuk mengetahui profil suhu, tekanan udara di atmosfer, serta mengidentifikasi posisi lapisan inversi.

"Kita melakukan uji radiosonde naik ke atas, untuk mengetahui berapa suhu dan tekanan udara, profilling di atas, sehingga kita tahu persisi di bagian mana lapisan inversinya. Lalu, penyemaian kita lakukan pada titik tersebut," ungkap Faisal.

BMKG mengatakan asap akibat kebakaran hutan yang terjadi saat ini menutupi cahaya matahari, sehingga mengganggu proses pembentukan awan hujan. Untuk itu, modifikasi cuaca yang diterapkan di beberapa wilayah di Indonesia saat ini adalah kombinasi penyemaian dry ice dan NaCl.

OMC dry ice bertujuan untuk mengurangi kepekatan asap akibat kebakaran hutan dengan membongkar lapisan inversi atau kondisi udara panas di atmosfer yang membuat asap terperangkap di bawah ketinggian 6.000 sampai 7.000 kaki.

Dry ice akan mendinginkan lapisan inversi yang akan melancarkan perputaran udara dan menaikkan asap, mengurangi kepekatannya.

Ketika asap menipis, cahaya matahari bisa masuk dan memicu penguapan air, sehingga meningkatkan potensi pembentukan awan hujan.

Setelah lapisan inversi terbuka, BMKG kemudian kembali melakukan modifikasi cuaca menggunakan material NaCl untuk mempercepat proses pembentukan awan dan meningkatkan peluang terjadinya hujan di titik tersebut.

"Dalam beberapa hari pelaksanaan, intervensi dry ice menunjukkan indikasi dampak yang cukup baik. Jarak pandang di wilayah terdampak berangsur membaik, seperti yang sempat terjadi di Palembang beberapa hari lalu," ujar Deputi Bidang Modifikasi Cuaca Tri Handoko Seto, dikutip dari laman BMKG (20/10).

(fta/lom)
placeholder