Ahli Temukan 3 Lubang Hitam Raksasa di Galaksi Purba
Para ilmuwan menemukan tiga lubang hitam raksasa yang berjarak dan aktif melahap materi di dalam satu galaksi. Temuan ini mengungkap gambaran masa awal alam semesta.
Objek antariksa itu ditemukan oleh tim riset internasional pimpinan Institut Max Planck untuk Fisika Esktraterestrial (MPE). Melalui temuan ini, mereka menungkap gambaran tentang bagaimana lubang hitam raksasa tersebut tumbuh dan berinteraksi selama tahap paling awal alam semesta.
Ketiga lubang hitam ini terletak di sebuah galaksi bernama J0148-4214. Ketiganya secara aktif mengumpulkan materi yang berputar mendekati mereka melalui piringan gas dan material lain di sekitarnya.
Galaksi tersebut sangat jauh, oleh sebab itu cahayanya melakukan perjalanan melintasi ruang angkasa selama sekitar 12,5 miliar tahun sebelum mencapai Bumi. Hal ini berarti para astronom mengamatinya pada kondisi saat usianya hanya 1,2 miliar tahun setelah peristiwa Big Bang.
Pada jarak yang sangat jauh, pemuaian alam semesta membuat panjang gelombang cahaya meregang sehingga menjadi lebih panjang den kemerahan. Para astronom mengukur fenomena ini melalui suatu besaran yang disebut pergeseran merah atau redshift.
Untuk Galaksi J0148-4214, para ilmuwan mengukur pergeseran merah sebesar z=5.02. Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh jarak pastinya.
"Ini adalah bukti pertama dari tiga lubang hitam aktif di satu galaksi pada Alam Semesta yang jauh," kata Hannah Ubler, pemimpin kelompok riset MPE sekaligus penulis utama studi tersebut, Minggu (25/10).
Dua dari lubang hitam tersebut terletak di dekat pusat galaksi, dipisahkan oleh jarak proyeksi hanya sejauh 620 tahun cahaya. Sementara, lubang hitam ketiga berada jauh di pinggir, yaitu sekitar 5.500 tahun cahaya dari pusat galaksi.
Penemuan ini memberikan bukti penting tentang bagaimana lubang hitam bermassa besar berkumpul di Alam Semesta yang masih muda.
"Hal ini menunjukkan bahwa proses di Alam Semesta awal sangat efisien dalam menyatukan lubang hitam raksasa, membuka jalan bagi penggabungan lubang hitam raksasa yang kita perkirakan akan dideteksi oleh observatorium gelombang gravitasi di masa depan," ungkap Ubler.
Para astronom meyakini bahwa tabrakan dan penggabungan antar galaksi merupakan hal yang umum terjadi di awal sejarah alam semesta. Ketika sejumlah galaksi bergabung, lubang hitam di pusatnya juga bisa saling mendekat dan pada akhirnya bersatu.
Penggabungan ini akan menghasilkan lubang hitam yang semakin besar di pusat galaksi yang baru terbentuk, peristiwa ini berpotensi membantu menjelaskan bagaimana beberapa lubang hitam bisa tumbuh menjadi ukuran raksasa dalam waktu yang sangat singkat setelah Big Bang.