Pakar: AI Bikin Serangan Siber Makin Cepat, Semua Sektor Terancam

CNN Indonesia
Jumat, 30 Okt 2026 20:15 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat serangan siber semakin mudah dilakukan, lebih murah, dan mampu menjangkau sasaran dalam skala lebih besar.Ancaman ini tak lagi terbatas pada sektor perbankan atau lembaga pemerintah, tetapi juga mengincar berbagai sektor dan pekerja, termasuk rumah sakit hingga kantor pemerintahan daerah.

Presiden Korea Institute of Information Security and Cryptology (KIISC) Howon Kim mengatakan penggunaan AI telah mengubah kemampuan pelaku serangan siber.

Jika sebelumnya serangan membutuhkan peretas dengan keahlian khusus, waktu, dan biaya besar, kini teknologi AI memungkinkan orang dengan kemampuan teknis terbatas melancarkan serangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"AI membuat serangan siber jauh lebih mudah. Jika sebelumnya serangan yang efektif membutuhkan peretas terampil, waktu, dan biaya besar, kini pemula pun bisa membuat email phishing yang meyakinkan dalam berbagai bahasa tanpa kesalahan ejaan," kata Howon dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea (IKJN) di Jakarta, Jumat (30/10).

"AI juga dapat meniru suara atau wajah seseorang dalam hitungan menit, menemukan celah keamanan, bahkan menulis kode serangan. Akibatnya, serangan menjadi lebih murah, cepat, dan berskala jauh lebih besar," sambungnya.

Menurut Howon, kemampuan AI tersebut membuat siapa pun berpotensi menjadi sasaran. Ia mencontohkan perawat rumah sakit yang menerima email palsu tetapi terlihat meyakinkan, pegawai kantor yang mendapat telepon deepfake dengan suara menyerupai atasannya, hingga kantor pemerintah daerah yang menjadi target serangan.

"Penyerang tidak membutuhkan sistem keamanan yang sangat canggih untuk menembus organisasi. Mereka hanya membutuhkan satu orang yang mengeklik tautan berbahaya. Karena itu, setiap sektor dan setiap pekerja kini berada di garis depan menghadapi ancaman siber," ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut tidak berarti kebutuhan terhadap tenaga ahli keamanan siber berkurang. Sebaliknya, organisasi membutuhkan lebih banyak tenaga profesional untuk memantau ancaman, bertukar informasi, dan merespons serangan yang terus berkembang.

Howon menyebut lembaga keamanan nasional seperti Korea Internet & Security Agency (KISA), tim tanggap darurat, serta tim keamanan perusahaan yang dipimpin pejabat Chief Information Security Officer (CISO) memiliki peran penting. Mereka bertugas memantau ancaman selama 24 jam dan memanfaatkan AI untuk mendeteksi serangan lebih cepat.

"Para ahli menjadi pusat kendali, sementara setiap sektor dan semua orang berada di garis depan. Keduanya harus bekerja bersama," katanya.

Howon juga menyinggung kondisi keamanan siber di Indonesia. Ia mengaku pernah mengunjungi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) beberapa tahun lalu. Menurutnya, BSSN pernah melaporkan sekitar 3 miliar anomali trafik, yang sebagian besar disebut berkaitan dengan malware.

Ia menambahkan perkembangan AI membuat pencarian celah keamanan dapat dilakukan secara otomatis dan dalam skala besar. Namun, teknologi yang sama juga bisa dimanfaatkan untuk memperkuat pertahanan siber, misalnya membantu mendeteksi ancaman lebih cepat.

Howon mengatakan, di Korea Selatan, sistem industri teknologi informasi, pemerintahan, hingga militer saling terhubung. Kondisi tersebut membuat keamanan siber menjadi persoalan serius karena gangguan pada satu sistem berpotensi berdampak pada sistem lainnya.

LIHAT SELENGKAPNYA