Akademisi dan peneliti meteorologi Deni Septiadi mengungkap aktivitas atmosfer di wilayah Jawa dan Aceh menunjukkan perkembangan awan konvektif yang cukup intens. Kondisi ini berpotensi memicu tiga ancaman cuaca ekstrem, yakni hujan lebat, petir, dan angin kencang.
Deni mengatakan, hasil analisis citra satelit Himawari-9 dan medan dinamika atmosfer Global Forecast System (GFS) pada Jumat (30/10) memperlihatkan pertumbuhan sejumlah klaster awan Cumulonimbus di kedua wilayah tersebut.
Hasil analisis tersebut menunjukkan, pertumbuhan sejumlah sek konvektif terpantau sejak siang hingga sore di Pulau Jawa. Suhu puncak awan minimum tercatat mencapai sekitar minus 86,8 derajat Celsius. Kondisi ini mengindikasikan pertumbuhan vertikal awan yang sangat dalam hingga lapisan atas troposfer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analisis GFS pada lapisan 925 hPa juga memperlihatkan zona konvergensi positif yang berdekatan dengan sejumlah klaster awan dingin. Konvergensi tersebut memungkinkan pemusatan massa udara dan mendukung gerak vertikal ketika tersedia kelembapan serta ketidakstabilan atmosfer yang memadai.
Kondisi serupa juga terpantau di Aceh dan Sumatra bagian utara, meski memiliki karakteristik spasial berbeda. Suhu puncak awan minimum di wilayah tersebut mencapai minus 84,3 derajat Celsius.
Kelembapan relatif rata-rata pada lapisan 700 hPa tercatat sebesar 74,7 persen. Sementara itu, kecepatan angin rata-rata pada lapisan 925 hPa sekitar 3,15 meter per detik, dengan kecepatan maksimum mencapai 9,85 meter per detik.
"Dalam beberapa jam pengamatan, sejumlah sel konvektif di Jawa juga memperlihatkan pertumbuhan dan kemungkinan interaksi antarsel. Apabila proses ini berlangsung persisten, terdapat potensi perkembangan menuju sistem konveksi terorganisasi berskala meso atau Mesoscale Convective System (MCS)," kata Deni dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/10).
Kendati begitu, menurut Deni, klasifikasi sebagai Mesoscale Convective Complex (MCC) masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Lebih lanjut, Deni menjelaskan bahwa awan Cumulonimbus yang telah matang memiliki tiga potensi bahaya utama, yakni hujan lebat, aktivitas petir, dan angin kencang.
"Hujan intens dapat memicu genangan, banjir, dan longsor. Sementara itu, proses downdraft, downburst, serta gust front dapat menghasilkan hembusan angin yang merusak," jelas dia.
Oleh karena itu, masyarakat di kawasan rawan banjir, bantaran sungai, lereng perbukitan, dan wilayah terbuka perlu meningkatkan kewaspadaan. Perkembangan konveksi yang cepat harus diantisipasi sejak dini karena dampaknya dapat muncul dalam waktu relatif singkat.
Lihat Juga : |
El Nino tak berarti bebas cuaca ekstrem
Ia menjelaskan, perkembangan konveksi intens di Jawa dan Aceh terjadi ketika El Niño berada dalam kategori sangat kuat. Anomali suhu muka laut Niño-3.4 mingguan tercatat sekitar plus 2,88 derajat Celsius.
Selain itu, Indian Ocean Dipole (IOD) juga menunjukkan nilai positif sekitar plus 0,69 derajat Celsius.
Secara klimatologis, kedua fenomena tersebut cenderung mengurangi aktivitas konveksi di sebagian wilayah Indonesia. Namun, pengaruh iklim global tidak serta-merta menghilangkan peluang terjadinya cuaca ekstrem pada skala regional maupun lokal.
Indeks Madden-Julian Oscillation (MJO) pada 27 Oktober juga berada di fase 2 dengan amplitudo sekitar 1,40. Aktivitasnya terpantau di kawasan Samudra Hindia bagian barat dan belum dapat dinyatakan sebagai penguatan konveksi utama di atas Indonesia.
Di sisi lain, atmosfer sedang mengalami transisi menuju periode monsun Asia, meskipun angin timuran masih mendominasi sebagian wilayah Indonesia.
"El Niño kuat bukan berarti Indonesia bebas dari cuaca ekstrem. Ketika kelembapan, konvergensi, dan ketidakstabilan atmosfer berinteraksi, awan konvektif tetap dapat berkembang intens, bahkan berpotensi terorganisasi pada skala meso," tulis Deni.

