KRISIS IKLIM

Konsentrasi Gas Rumah Kaca Cetak Rekor, Bumi Makin 'Terpanggang'

CNN Indonesia
Selasa, 03 Nov 2026 13:45 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Studi dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengungkap konsentrasi karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca utama lainnya di atmosfer mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025. Kondisi ini semakin memperkuat kenaikan suhu Bumi dalam jangka panjang.

Dalam WMO Greenhouse Gas Bulletin, WMO mengungkap rata-rata konsentrasi CO2 di atmosfer secara global pada 2025 mencapai 482,8 parts per million (ppm). Angka ini setara dengan 153 persen dibandingkan tingkat pada tahun 1750, sebelum era industrialisasi.

Konsentrasi metana dan dinitrogen oksida (nitrous oxide) merupakan gas rumah kaca berumur panjang terpenting kedua dan ketiga akibat aktivitas manusia dan meningkat hingga mencapai rekor baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setahun berlalu, rekor baru kembali tercipta. Gas rumah kaca merangkap panas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya di atmosfer. Kondisi ini menyediakan energi bagi terjadinya cuaca yang lebih ekstrem dan berbagai risiko terkait bagi perekonomian serta masyarakat kita," ungkap Wakil Sekretaris Jenderal WMO Ko Barret dalam keterangannya, Jumat (27/10).

Barret menyebut sebelas tahun terakhir merupakan periode terpanas di Bumi yang pernah tercatat, dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut.

CO2 memiliki masa bertahan yang sangat panjang sehingga dampaknya terhadap iklim global dapat berlangsung puluhan hingga ratusan tahun.

"Sebelas tahun terakhir merupakan periode terpanas yang pernah tercatat dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut. CO2 memiliki masa bertahan yang sangat panjang sehingga dampaknya terhadap iklim global tidak hanya berlangsung selama bertahun-tahun, tetapi juga puluhan hingga ratusan tahun," kata Berret.

WMO menerbitkan buletin tersebut sebagai salah satu publikasi tahunan utamanya untuk menyediakan informasi ilmiah yang dapat dijadikan acuan oleh para negosiator dalam konferensi iklim PBB.

PBB akan menggelar pertemuan COP31 untuk membahas komitmen iklim sekaligus cara mengimplementasikannya menjadi tindakan nyata.

Laju CO2 meningkat tiga kali lipat

Temuan mengungkap sekitar setengah dari total CO2 yang dilepaskan setiap tahun tetap berada di atmosfer, sedangkan sisanya diserap oleh ekosistem daratan dan lautan bumi.

Laporan ini turut menunjukkan konsentrasi gas rumah kaca. Dengan catatan, perhitungan yang dilakukan meliputi jumlah gas terakumulasi di atmosfer, bukan jumlah emisi baru setiap tahunnya.

Ketika buletin ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2004, rata-rata tahunan kadar CO2 yang diukur melalui jaringan stasiun pemantauan Global Atmosphere Watch milik WMO mencapai 377,5 ppm.

Indeks Gas Rumah Kaca Tahunan dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) menunjukkan bahwa periode 1990 hingga 2025, radiative forcing atau efek pemanasan terhadap iklim akibat gas rumah kaca berumur panjang meningkat sebesar 56 persen, sementara CO2 menyumbang sekitar 81 persen dari peningkatan tersebut.

Laju peningkatan CO2 meningkat tiga kali lipat sejak tahun 1960-an. Kenaikan rata-rata tahunannya yang sebelumnya sebesar 0,8 ppm menjadi 2,4 ppm per tahun selama periode 2011 hingga 2020.

Pada periode 2024 hingga 2025, rata-rata konsentrasi CO2 global meningkat sebesar 2,8 ppm. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kenaikan selama satu dekade, namun sedikit lebih rendah dibandingkan lonjakan besar yang terjadi pada periode 2023-2024.

"Kenaikan yang lebih rendah pada periode 2024-2025 mencerminkan pemulihan kemampuan ekosistem daratan dalam menyerap karbon dan berkurangnya emisi karbon akibat kebakaran pada 2025. Hal ini terjadi setelah fenomena El Nino kuat pada tahun 2023-2024 yang menurunkan kemampuan biosfer menyerap karbon akibat meningkatnya kekeringan, vegetasi yang lebih kering dan kebakaran hutan yang lebih sering," ungkap pejabat ilmiah Senior WMO, Oksana Tarasova.

Menurut Tarasova, kenaikan sebesar 2,8 ppm per tahun menambahkan polusi udara yang sangat besar ke atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil.

Ia turut memperingatkan konsentrasi CO2 akan kembali meningkat pada tahun 2026 akibat pembakaran bahan bakar fosil dan berkembangnya fenomena El Nino yang kuat.

"Fenomena ini akan memengaruhi kemampuan ekosistem daratan menyerap karbon, seperti yang terjadi pada 2023-2024. Risiko berkurangnya penyerapan CO2 oleh lautan juga semakin meningkat seiring perubahan iklim yang terjadi," ujar Tarasova.

LIHAT SELENGKAPNYA