“Ini karena sampai sekarang kita belum mengetahui volume lumpur yang masih terendap di bawah tanah. Bahkan, analisa saya yang mengatakan semburan akan berhenti 20 sampai 27 tahun lagi itu bisa saja salah karena banyaknya kandungan lumpur dan gas di lokasi tersebut,” ujar Anggota Dewan Penasihat IAGI, Rovicky Dwi Putrohari ketika dihubungi CNN Indonesia, Jumat (29/5).
Perkiraan mengenai lamanya semburan lumpur, kata Rovicky, didapat sewaktu dirinya melakukan penelitian di lokasi semburan yang merupakan Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi dari Lapindo Brantas Inc di media 2007.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan mengalkulasi jarak, kedalaman endapan hingga banyaknya lumpur yang keluar saat itu, ia pun memprediksi lumpur Lapindo baru akan berhenti 20 sampai 27 tahun lagi.
Sebagai pengingat, fenomena luapan lumpur yang menelan kerugian mencapai Rp 32,9 triliun itu bermula ketika PT Medici Citra Nusantara, perusahaan kontraktor yang ditunjuk Lapindo Brantas Inc melakukan pengeboran tanah dengan kedalaman 9.297 meter.
Lantaran tidak melalui skema yang menjadi standar, dua hari pasca pengeboran atau 29 Mei 2006 terjadi semburan lumpur di beberapa titik yang berjarak 150 dari lokasi pengeboran sumur utama.
"Saya pikir semburan lumpur akan berhenti jika kandungan lumpur di cekungan bawah tanahnya habis. Dan benar saja, setelah dilakukan beberapa skenario penghentian semburan juga tidak berhenti," cetus Rovicky. (gir/gir)