"Kita ini kan memulai sesuatu yang tidak ada masalah, mulai dari nol. Kalau monorel dulu memang sudah ada masalah, sehingga harus diurai. Mengurai masalah kan tidak mudah," ujar Jokowi usai melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan LRT Terintegrasi di Jakarta Timur, Rabu (9/9).
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menilai, tiang-tiang pancang bekas monorel yang dulu dibangun PT Adhi Karya akan difungsikan sebagai tiang penyangga rel LRT. Saat ini, tiang-tiang pancang bekas monorel tersebut masih dimanfaatkan sebagai tempat memasang iklan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang saat itu berada di samping Jokowi menimpali pernyataan sang kepala negara. Ia menegaskan bahwa antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pihak yang dulunya dipercaya untuk membangun monorel, PT Jakarta Monorail telah mencapai suatu kesepakatan sehingga ia bisa memastikan proyek LRT tidak akan terganggu.
Untuk diketahui, proyek monorel yang direncanakan untuk dibangun di Ibu Kota telah dua kali mengalami kegagalan. Kini, proyek tersebut mangkrak dan hanya meninggalkan tiang-tiang pancang di sepanjang Jalan H.R. Rasuna Said dan Jalan Asia Afrika.
Seperti halnya LRT, kala itu monorel pun dirancang sebagai salah satu moda transportasi yang mampu menghubungkan Ibu Kota dengan kota-kota satelit di sekitarnya. Namun, proyek itu harus berhenti di tengah jalan karena kesulitan pendanaan sebelum akhirnya pada Oktober 2013, proyek monorel diambil alih oleh PT Jakarta Monorail.
Jokowi, yang saat itu duduk di kursi DKI-1, sebenarnya sudah sempat melakukan groundbreaking proyek monorel. Kendati demikian, enam bulan setelah prosesi peletakan batu pertama, pemerintah daerah dan PT Jakarta Monorail belum juga mencapai kesepakatan terkait sejumlah poin penting dalam pembangunan monorel. (gen)