Angka tersebut lebih rendah dari proyeksi yang disampaikannya pada Agustus 2015 lalu, yaitu sebesar 812 ribu bph. Lebih rendah dibandingkan target lifting dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 sebesar 825 ribu bph.
“Kami tidak bisa mencapai target nasional. Memang kalau dihitung dari target APBNP (realisasinya) masih di bawah, tapi kalau minyak dan gas kan tidak bisa ditentukan produksinya berapa," jelas Amien di Gresik, Jawa Timur, Rabu (4/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi gangguannya lebih ke arah Sumber Daya Manusia (SDM). Kan ada peralatan, ada pipa, lalu ada tempat penampungan. Peralatan-peralatan ini kan harus dioperasikan oleh manusia. Namun karena asap, manusia yang mengoperasikan tak bisa kesana, makanya alat-alat tersebut tidak bisa dijalankan," tambahnya.
Seperti yang telah diketahui sebelumnya, EMCL berencana untuk mengoptimasi produksi di Lapangan Banyu Urip dengan produksi yang ditaksir mencapai 205 ribu bph. Awalnya, optimasi ini dijadwalkan pada bulan Oktober lalu namun molor sebulan akibat insiden perusakan kantor dan bocornya pipa Pertamina - Petrochina East Java (PPEJ) yang lokasinya berdekatan dengan fasilitas pipa Banyu Urip.
"Kami harapkan nanti akhir November ini produksi Exxon bisa maksimal," ujar Amien.
Melihat laporan tahunan SKK Migas 2014, realisasi lifting minyak mencapai 789,64 ribu bph atau setara 96,53 persen dari target sebesar 818 ribu bph. Sedangkan pada APBN 2016, pemerintah menetapkan target lifting minyak di angka 830 ribu bph. (gen)