Swasta menjadi pengutang terbesar di mancanegara, dengan nilai sebesar US$163,3 miliar atau sekitar Rp2.131 triliun. Utang swasta tersebut menyumbang 50,6 persen terhadap total ULN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam keterangan resminya, Senin (17/10), BI melaporkan ULN swasta kembali mengalami penurunan sebesar 3,9 persen jika dibandingkan dengan posisinya pada Agustus tahun lalu.
Menurut sektor ekonomi, ULN swasta pada akhir Agustus 2016 terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 75,5 persen.
Berdasarkan jangka waktu jatuh tempo, ULN jangka panjang cenderung mendominasi dan cenderung meningkat, yakni nilainya sebesar US$282,5 miliar atau 87,5 persen dari total ULN. Pertumbuhan ULN jangka panjang pada Agustus sebesar 8,1 persen dalam setahun.
Sementara itu, posisi ULN jangka pendek pada akhir Agustus 2016 tercatat sebesar US$40,5 miliar atau 12,5 persen dari total ULN. Angkanya turun 4,8 persen dibandingkan dengan posisi Agustus 2015.
"Bank Indonesia memandang perkembangan ULN pada Agustus 2016 masih cukup sehat, namun terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional," tulis BI dalam keterangan resminya.
Guna memitigasi risiko, bank sentral akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya yang ditarik oleh swasta. Tujuannya adalah menjaga agar pembiayaan yang ditarik berperan secara optimal dalam mendukung pendanaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi.
(ags)