Tahun ini, masakan Padang yang mendapat kesempatan untuk diperkenalkan ke kalangan industri pariwisata Spanyol dan kalangan ahli kuliner internasional.
“Hal ini sejalan dengan kebijakan Kementrian Pariwisata RI tentang promosi keanekaragaman dan kekayaan waisan budaya kuliner tradisional Indonesia sebagai salah satu daya tarik pariwisata Indonesia,” ujar Duta Besar Indonesia di Madrid, Yuli Mumpuni Widarso, di Albenis Hall Hotel Intercontinental Madrid, Spanyol, Selasa (19/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai pembukaan sebelum santap malam, sebuah pertunjukan kesenian khas Padang, lengkap dengan beberapa orang gadis yang mengenakan busana tradisional terlihat membuka acara.
Tak kurang dari 130 tamu yang hadir malam itu, menyaksikan keterampilan chef restoran Marco Padang. Restoran ini dipilih karena dianggap memiliki mempunyai keunggulan dalam menyajikan masakan Padang yang dikreasikan lebih modern dan disesuaikan dengan selera internasional.
Berbeda dengan saat makan di restoran Padang, aneka makanan ini ditampilkan sedikit lebih mewah. Dengan piring putih beralas daun pisang, nasi putih hangat disajikan bersama irisan tipis daging rendang yang berwarna cokelat tua yang menggugah selera. Di sebelahnya disajikan juga seafood pacak. Tak ketinggalan, sayur kubis dan kacang panjang juga disajikan.
Gule kambing juga tampil tak kalah cantik. Tiga potongan daging kambing ini disajikan di atas daun pisang. Namun kali ini gulenya disajikan kering, alias tak 'banjir' kuah gule seperti biasa. Kuah gule ini disajikan sedikit sebagai pelengkapnya, sekaligus sebagai pemanis piring. Gule ini disajikan dengan tambahan keripik kentang.
Yang menarik, semua makanan bergaya fine dining ini ternyata juga cocok disajikan bersama dengan segelas wine Spanyol.
Dari semua makanan yang disajikan, randang atau rendang adalah makanan yang paling membuat warga Spanyol penasaran. Pasalnya, beberapa waktu lalu, rendang dinobatkan sebagai makanan terenak di urutan ke-11 dari 50 daftar makanan terenak di dunia versi CNN.com.
Randang Kayu Bakar (Dok. Burhan Abe) |
“Rendang yang mempunyai 27 bumbu, merupakan makanan yang mempunyai filosofi tinggi, populer, dan diharapkan bisa jadi lokomotif untuk makanan Indonesia yang lain,” jelas Vita Datau Mesakh dari Akademi Gastronomi Indonesia, yang juga hadir dalam acara tersebut.
Upaya KBRI Madrid promosikan makanan lokal
Ajang ini bukanlah kali pertamanya KBRI Madrid, Spanyol mempromosikan makanan Indonesia. Sejak 2011 KBRI Madrid telah memperkenalkan warisan budaya kuliner Indonesia di Spanyol lewat berbagai kegiatan. Antara lain melalui kegiatan “Santap Siang Indonesia” (Almuerzo Indonesia) di KBRI Madrid dan “Seminggu Sajian Masakan Eksotik Indonesia” (Semana de Cocina Exotica Indonesia).
Pada bulan September 2013, mereka juga telah menyusun “Buku Masakan Indonesia” dalam bahasa Spanyol (La Exotica Cocina Indonesia). Dan pada bulan Januari 2015
untuk pertama kalinya Indonesia berpartsipasi dalam “Madrid Fusion” diwakili oleh Akademi Gastronomi Indonesia (AGI), di bawah pimpinan Vita Datau Mesakh.
Untuk memperingati lima tahun penyelenggaraan kegiatan tersebut, setiap bulan Januari 2015 KBRI Madrid menyelenggarakan “Pekan Warisan Budaya Kuliner Tradisional Indonesia” (Semana Tradicional Culinaria Patrimonio Indonesia) di Restoran El Jardin, Hotel Intercontinental Madrid.
Di bulan Januari 2015 lalu, restoran El Jardin, Hotel Intercontinental Madrid menyajikan menu tradisional Bali. Menu ini merupakan hasil racikan Chef Henry Bloem dan Chef Vindex Tengker.
(chs/chs)
Randang Kayu Bakar (Dok. Burhan Abe)