Namun di Toronto, Kanada, Murakami bukan dikenal di kalangan pencinta sastra semata. Ia juga populer di kalangan pencuri. Pemilik toko A Good Read bahkan berani menyebutnya sebagai penulis yang paling banyak dicuri, setidaknya dari tokonya.
Ia pernah kehilangan satu rak khusus yang memajang buku Murakami, Desember lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Generasi millennials termasuk mereka yang ingin membaca Murakami secara murah. Itu diakui Derek McCormack, yang sudah bekerja di toko buku di Toronto selama 25 tahun. Mereka, katanya, butuh Murakami bukan hanya untuk bacaan sehari-hari, tetapi juga bahan kajian atau tugas di universitas.
Buku yang sering dicuri di antaranya Norwegian Wood, Sputnik Sweetheart, The Wind-Up Bird Chronicle, dan 1Q84. "Mereka mengambil Norwegian Wood, Sputnik, semuanya," ujar Kirk memastikan.
Ia dan McCormack percaya, ada toko buku gelap yang menampung buku-buku curian. Pencuri setidaknya akan menjual satu buku Murakami ke toko itu seharga US$3. Dari harga itu, pemilik toko buku gelap akan menggandakan profit dengan menaikkan harga buku, hingga US$10.
Pencurian buku seperti itu terkesan sepele. Polisi bahkan mengacuhkannya. "Benarkah, saya di sini hanya untuk empat kopi buku [yang hilang]?" demikian Kirk dan McCormack membayangkan reaksi polisi jika mereka melaporkan pencuriannya.
Mereka sebenarnya mencurigai seseorang. Kirk sering melihatnya berkeliaran di toko buku. Pemilik toko buku lain pun mengenalinya. Ia bahkan pernah mengikuti pria itu.
Modusnya, pencuri itu biasanya menunggu sembari melongok ke dalam di jendela. Ketika toko buku mulai ramai dan pemilik serta pekerjanya harus melayani banyak pelanggan, baru ia masuk dan menyelinap dengan buku-buku curian.
Untuk itu Kirk mengimbau, para pemilik toko buku sebaiknya menandai milik mereka dan menggunakan kartu kredit saat membeli buku bekas. Dengan demikian, ada jejak ke mana buku itu akan keliling.
"Jadi pemilik toko buku yang sesungguhnya bisa mengikuti dan tahu di mana menemukan mereka."